
Impian mu apakah sama dengan kenyataan hidup mu. Harapanmu apakah sebanding dengan realita. Apakah ada sesal jika sesuatu yang luput dari jangkauan mu.
*******
" Apa yang sedang kamu pikirkan, Ros?" tanya Mbak Santi yang melihat Rosiana dengan cemberut dan wajah muram.
" Semalam aku ke kamar Mas Wardha, tapi apa yang kudapat? Aku kena marah oleh Non Sarwenda. Katanya hendak periksa ke rumah sakit, saya malah kena marah Non Sarwenda. Dan lagi, saya harus melihat dan menyaksikan, non Sarwenda sudah siap untuk melayani Mas Wardha." curhat Rosiana dengan mata berkaca- kaca.
" Apakah kamu sedang cemburu?" tanya Mbak Santi sedikit menggoda.
Rosiana hanya menundukkan kepala nya. Sambil memainkan jari- jarinya.
" Katanya mencintai tapi ada yang lain lagi." sahut Rosiana dengan memandang langit- langit kamar.
__ADS_1
" Seharusnya kamu bisa menepis kecemburuan itu. Itu sudah konsekuensi nya menjalin hubungan dengan suami orang." kata Mbak. Santi.
Rosiana kembali menunduk sedih.
" Hari ini mereka ke rumah sakit dan itu tanpa aku." kata Rosiana.
" Hahaha. Kamu lucu. Sangat lucu. Bukankan mereka suami istri? Dan kamu mulai hadir setelah mereka sudah membina keluarga kecilnya. Kamu tidak sepatutnya cemburu, Ros." kata Mbak Santi sambil tertawa.
" Memang benar, Mbak. Aku hadir di waktu dan tempat yang salah." sahut Rosiana.
" Ais, kamu ini. Sudahlah, kalau ini sudah jalan kamu pilih, jangan pernah sekali pun mengeluh." kata Mbak Santi.
" Tetapi belum terlambat jika kamu menyudahi semua itu. Kamu menjauh dan memutuskan untuk pergi dari kehidupan mereka. Lebih tepat nya, menjauh dari bayang- bayang Wardha." kata Mbak Santi.
" Saya sudah tidak bisa, Mbak. Saya sudah terlanjur menyayangi Mas Wardha. Saya hanya menanti janji Mas Wardha untuk menikah dengan saya. Pulang ke kampung dan kami segera menikah di sana." ucap Rosiana.
__ADS_1
" Baiklah!" sahut Mbak Santi.
*******
" Jadi? Jadi, semua gejala yang dikatakan oleh dokter tadi sudah ada dan kamu rasakan? Saat berhubungan intim dengan aku, kamu pun merasakan nyeri?" tanya Wardha kepada Sarwenda yang sudah berada di dalam mobil setelah pemeriksaan di rumah sakit tersebut.
" Tapi rasa nyeri nya tidak sebanding dengan rasa nikmat itu. Aku bahagia bisa memberikanmu kepuasan dan kenikmatan itu." sahut Sarwenda nakal.
" Ais! Kamu selalu begitu." ujar Wardha sambil terkekeh.
" Memang belakangan ini, aku mudah lelah, mual dan terjadi penurunan berat badan. Menstruasi yang kurang teratur juga sudah aku alami selain keputihan yang menimbulkan bau kurang sedap. Rasanya nyeri juga di tulang panggul ku. Maaf, mungkin aku belum memberikan pelayanan yang maksimal kepadamu, Mas." keluh Sarwenda.
" Baik buruknya kamu, kamu sudah menjadi istri aku. Kamu adalah ibu dari anakku. Akun sudah sangat berterima kasih, kamu sudah menjadi bagian dalam hidup ku. Apalagi dulu kamu tidak menyukai aku dan kini bisa menerima aku seutuhnya." kata Wardha.
" Cukup! Jangan ungkit lagi masa lalu itu. Aku sungguh malu jika mengingat nya." sahut Sarwenda dengan mengusap pipi milik Wardha dengan lembut.
__ADS_1
" Sekarang kamu jangan capek- capek, ya sayang! Jaga kondisi tubuh kamu. vonis dokter ini sungguh kejam dan menyakitkan untuk aku dengar tadi. Tapi kalau tidak sekarang, besok pun kita akan tahu juga. Kita akan berusaha mengobati penyakit mu , ya sayang. Demi aku dan anak kita. " kata Wardha sambil mengambil tangan milik Sarwenda lalu mencium punggung tangan itu.
( Maaf Pemanasan dulu, betapa sangat sulitnya ketika kemalasan untuk menulis/ mengarang sudah tingkat dewa. )