
Cinta ini tidak bisa dipaksakan. Segala sesuatu yang dipaksakan akan menjadi tidak baik bukan? Dan rasa ini bukanlah kamu yang punya. Ada nama dan hati yang selalu menjaganya. Kamu tahu siapa, bukan?
Ulasan cerita antara Surya dan Sarwenda ketika Intan mengajak Winda pergi berbelanja tatkala di hari Sabtu Surya dan Winda dan juga Wisnu anaknya berkunjung ke rumah kediaman Pak Hartono.
Surya mengantar Sarwenda ke kamarnya. Sarwenda mulai ber drama queen meringis mengaku sakit dan mules di perutnya. Sarwenda menginginkan Surya memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Sesampainya di dalam kamar Sarwenda, Surya mulai melepaskan tangannya yang dipegang erat oleh Sarwenda.
" Istirahat lah! Aku mau melanjutkan makan ku." kata Surya sembari melepaskan tangannya dari genggaman tangan Sarwenda.
" Jangan pergi! Aku masih butuh kamu!" kata Sarwenda sembari menarik dan menahan tangan Surya.
" Sarwenda! Aku bukan suami kamu lagi. Kita ini sudah bukan muhrim lagi." sahut Surya.
" Oh ya? Hah? Tapi aku masih menyayangi kamu. Aku masih mencintaimu walaupun kamu selalu tidak menghiraukan aku lagi. Kalau bukan karena Winda, baik dulu maupun sekarang kita pasti sudah menjadi suami istri yang sah secara agama dan hukum. Kamu membuat aku kecewa, ketika perjodohan diantara kita kamu gagalkan begitu saja, dikala itu. Dan setelah kemarin kita menikah secara agama, kamu dengan mudahnya mengatakan talak lagi kepadaku. Apa salah aku?" kata Sarwenda mulai berkaca.
" Aku sekarang hamil! Tidakkah kamu memiliki belas kasihan dan perhatian sedikit saja padaku?" tambah Sarwenda.
Surya terdiam masih menyimak dan mendengarkan semua keluhan yang dirasakan oleh Sarwenda.
" Kenapa kamu diam? Aku rela melakukan apa saja supaya bisa lebih dekat dengan kamu dan juga keluarga kamu. Tapi kenapa kamu, tidak iba terhadap aku?" kata Sarwenda lagi.
" Anak yang aku kandung ini adalah benih dari kamu, mas!" tambah Sarwenda.
" Oh ya?" ujar Surya sinis.
" Apa? Apakah kamu meragukan kalau anak ini bukan darah daging kamu, mas?"tanya Sarwenda.
" Iya!" jawab Surya singkat.
" Jadi kamu mencurigai aku berselingkuh dengan laki-laki lain, mas?" tanya Sarwenda.
" Jadi itu alasan kamu, kenapa men talak aku?" tanya Sarwenda lagi.
Surya hanya diam dan menatap Sarwenda. Hati kecilnya tidak tega dengan wanita berperut buncit itu. Tapi ketika melihat kenyataan nya, Sarwenda sudah berkhianat dengan pria lain dan kenyataan nya, hati kecilnya tidak ingin menduakan Winda lagi, Surya mulai bersikeras dengan sikapnya.
" Aku mencintai Winda. Benar-benar mencintai Winda. Aku tidak ingin Winda meninggalkan aku, gara- gara ada kamu diantara kita." kata Surya.
" Jadi kamu mengorbankan aku, mas? Hah?" tanya Sarwenda.
" Jadi? Sebenarnya kamu pun memiliki rasa suka juga dengan aku, kan mas? Nyatanya kamu cemburu dan menduga kalau aku bermain dengan laki-laki lain. Benar kan Mas? Jawab Mas! Paling tidak biar aku lega, walaupun cinta mu kepadaku hanya setitik saja. Dan pernah mengisi hati kamu, mas." kata Sarwenda.
" Tidak! Kamu terlalu naif dan percaya diri. Aku tidak menyukai kamu." jawab Surya.
" Kamu bohong mas! Aduh...perutku mas!" kata Sarwenda sambil meringis dan meraih tangan Surya dan ia letakkan di perutnya.
__ADS_1
"Aku akan panggil kan mama!" kata Surya sambil melepas paksa tangannya yang dipegang oleh Sarwenda lalu melangkah keluar dari kamar itu.
Surya mencari mamanya yang sudah duduk santai bersama dengan papa nya.
" Mama! Sarwenda mengeluh kesakitan perutnya ma." kata Surya yang sudah duduk bergabung dengan mama dan papanya.
" Ya sudah, jangan khawatir! Biar mama yang urus Sarwenda." kata Bu Hartini sambil melangkah menuju kamar Sarwenda.
" Siapa juga yang khawatir!" sahut Surya pelan yang mendapat lirikan dari Pak Hartono itu.
"Jangan suka bermain api, akhirnya begitu deh." sindir Pak Hartono.
" Bukan bermain api lagi, pah. Bermain bom, Iya." sahut Bu Hartini sebelum melangkah jauh dari tempat itu.
" Maafkan Surya pa!" sahut Surya serius sambil menundukkan kepalanya.
" Kamu ini laki-laki dewasa, tidak seharusnya bersikap sembrono dalam melangkah. Dulu kalau kamu menginginkan Sarwenda, kenapa juga kamu lari ke Winda dan meninggalkan perjodohan itu? Setelah kamu mendapatkan Winda, kamu pun serakah ingin bersama Sarwenda juga." kata Pak Hartono seperti menohok Surya.
" Bukan begitu pa! Sejujurnya saya tidak menginginkan hubungan dengan Sarwenda itu terjadi. Sarwenda selalu memepet saya terus ketika saya baru memulai menjalankan proyek di pusat itu. Ditambah Sarwenda ikut menanam saham dalam perusahaan kita ini." sanggah Surya.
" Lalu kamu menyalahkan semuanya pada Sarwenda juga. Sekuat-kuatnya kamu, dan kamu tegas menolak akan godaan perempuan itu, dia pasti akan menyerah juga." protes Pak Hartono.
" Tapi tidak dengan Sarwenda, pa! Dia tidak akan menyerah mengejar saya, pa!" sahut Surya.
" Bukan begitu pak! Tapi di malam itu, saya benar-benar tidak leluasa. Saya dipengaruhi obat. Entah minuman apa yang diberikan Sarwenda, pada malam itu. Saya tidak bisa ter kontrol lagi, Pa. Saya merasa, melakukan semua itu dengan Winda istri saya. Tapi ketika terbangun di pagi itu, kepala saya terasa pusing dan saya dapati bersama Sarwenda di kamarnya." cerita Surya serius.
" Lalu? Setelah itu kamu menikmati nya bukan? Dan menikahi Sarwenda tanpa sepengetahuan kami,dengan nikah siri?" sahut Pak Hartono.
" Maafkan saya pa. Setelah itu, saya seperti tidak sewajarnya, saya seperti menggilai Sarwenda. Cinta itu tidak sewajarnya." ujar Surya.
" Hah? Zaman sekarang adalah zaman modern, Surya. Kamu masih mempercayai hal-hal seperti itu? Kamu terlalu naif dan menyalahkan orang lain, yang pada dasarnya karena hasrat dan nafsu kamulah yang menguasai diri kamu sendiri. Kamu jadi melupakan istri kamu, ketika Winda melahirkan Wisnu. Dan kamu semakin tidak perhatian dengan Winda. Apa itu yang kamu bilang, bahwa kamu mencintai Winda?" kata Pak Hartono.
" Saya...saya merasa bersalah dengan Winda, pa. Jadi, saya tidak berani menyentuh Winda dan menatap Winda setelah pengkhianatan itu." alasan Surya.
" Winda terlalu baik dengan kamu. Dia masih bertahan dengan kamu, dia masih memaafkan kamu yang jelas-jelas dia menyaksikan wanita yang pernah kamu singgahi." ucap Pak Hartono.
" Papa! Saat ini aku sudah mulai membenahi hubungan diantara kami." sahut Surya.
" Baguslah! Berterima kasihlah kepada istri kamu, yang masih memaafkan kamu." ujar Pak Hartono.
" Saya ijin, Minggu depan akan mengajak Winda tamasya keluar kota, pa!" kata Surya akhirnya.
" Kok ijin dengan papa, sih?" sahut Pak Hartono.
__ADS_1
Surya terdiam sambil garuk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
" Bilang sama mama kamu, kalau kamu ingin bersenang-senang dengan Winda ke luar kota. Biar Wisnu di rumah ini saja. Mama kamu sudah cukup sabar meladeni, Sarwenda. Minta maaf dan berterima kasih lah pada mama kamu. Kamu selalu bikin repot mama kamu, Surya."
" Iya papa. Saya minta maaf pa!" sahut Surya.
" Assalammualaikum!" teriak Intan yang masuk melalui pintu utama bersama Winda. Ditangannya ada beberapa tas paper bag hasil belanjaan nya bersama Winda.
" Waalaikum salam!" sahut Surya dan Pak Hartono.
Intan dan Winda menjabat tangan Pak Hartono dan juga Surya secara bergantian.
" Banyak belanjaan nya, sayang?" tanya Surya kepada Winda yang sudah duduk di kursi sofa itu.
" Iya mas! Intan banyak belikan baju untuk aku dan Wisnu." jawab Winda.
" Terimakasih Intan!" sahut Surya kepada Intan.
" Iya!" kata Intan.
" Kita pulang sekarang, Win!" ajak Surya.
" Baik mas!" sahut Winda sambil mencari Wisnu dan beby sitter nya.
" Intan! Tolong sampaikan ke mama,kalau aku mau pulang." suruh Surya.
" Dimana mama?" tanya Intan.
" Dikamar Sarwenda." jawab Surya.
" Eh itu mama!" kata Intan yang melihat mamanya sudah berjalan ke arah nya.
" Ada apa, Intan?" tanya Bu Hartini.
" Tidak ada! Mas Surya dan Mbak Winda mau pamit pulang." jawab Intan.
" Mama! Saya pamit pulang ma." kata Surya sembari menjabat tangan mamanya itu dan mencium pipi kanan dan kiri mama nya.
" Iya! Hati-hati dijalan." sahut Bu Hartini.
" Mama, Terimakasih banyak untuk hari ini. Saya mohon maaf, saya selalu menyusahkan mama." bisik Surya pelan.
" ngomong apa kamu ini! Sudah cepat pulang! Winda dan Wisnu sudah siap tuh!" ujar Bu Hartini sambil menyambut tangan Winda yang menjabat nya lalu mencium pipi kanan dan kiri nya.
__ADS_1
" Mama, papa, Intan, kami pamit pulang dulu." ucap Winda akhirnya.