Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BERJANJILAH


__ADS_3

Ingatkah kamu? Ketika kamu berusaha mengejar mimpi itu. Ketika harapan itu terwujud bersamaan mendapatkan hatiku. Meraih hatiku sebagai hadiah spesial dari Nya. Sedang aku tidak mampu menolak dan menepis perasaan yang sama dengan mu. Kita sama-sama dalam kegilaan di masa itu.



Berjalan tanpa alas kaki menyusuri lorong-lorong sempit berbatu. Berjalan tanpa payung di terik panas dan hujan. Kita bahagia dalam tujuan itu. Akhirnya kita sepakat membuat ikat janji setia. Dalam naungan kasih Nya. Dalam sentuhan restu tangan Beliau menikah kan kita. Aku dan kamu sekarang masih sejalan,se parit dan se tujuan.


Surya termenung di taman belakang rumah. Kursi kayu dengan meja memanjang itu menjadi saksi kegalauan nya. Kesalahan yang sudah diperbuatnya menjadikan ia harus mengambil keputusan dan tindakan menikahi Sarwenda. Walaupun pernikahan nya nanti adalah pernikahan siri dan masih di sembunyikan dengan Winda, istrinya.


Di atas meja panjang itu ada secangkir kopi dan beberapa cemilan. Tidak jauh dari Surya menikmati batang rokok yang menyala itu, Winda berjalan pelan-pelan dengan perut buncit nya. Langkahnya sudah mulai berat. Perutnya sudah membesar dengan si jabang bayi yang sebentar lagi akan lahir di dunia. Buah hati antara Surya dan Winda. Senyumnya mengembang ketika Winda duduk mendekati Surya yang sedang menikmati sebatang rokok dengan kopi hitamnya. Surya tersenyum menatap kedatangan Winda yang duduk di depannya.


" Kemari lah Winda! Duduk mendekat sini dengan suami kamu yang paling ganteng sedunia." ujar Surya dengan lambaian tangan nya.


Winda tersenyum manis dengan lesung pipi sebagai ciri khas nya.


" Jangan banyak - banyak merokok nya Mas!" kata Winda sambil tersenyum dan mengambil cemilan di atas meja.

__ADS_1


" Iya! Ini aku matikan rokok nya. Kamu dan si kecil yang masih di dalam perut ini harus tetap sehat." sahut Surya sambil mematikan rokok nya.


Winda masih tersenyum manis menatap Surya.


" Bagaimana pertemuan bisnis kemarin malam Mas? Katanya tidak menginap tapi ternyata menginap juga. Aku coba hubungi ponsel mas, tapi tidak bisa loh." cerita Winda.


" Iya sayang, maaf! Kemarin batere low sayang!" Maaf yah, kamu jadi kwatir dengan aku." sahut Surya.


Winda tersenyum manis ketika Surya mengusap lembut pipi Winda dan beralih ke perutnya yang membuncit.


" Winda! I Miss you!" kata Surya pelan sambil mengecup dahi Winda dengan penuh kasih sayang.


" I Miss you to, Mas!" jawab Winda tersenyum manis.


Surya menatap Winda seolah-olah takut kehilangan sosok wanita manis yang dihadapannya. Perbuatan semalam membuat dirinya sangat kwatir jika Winda mengetahui nya dan akan membuat Winda terluka dan kecewa. Terlebih lagi jika Winda akan membencinya dan ingin pisah darinya. Ketakutan yang wajar ketika seorang laki-laki sudah berbuat kesalahan dan pengkhianatan terhadap pernikahan nya.

__ADS_1


" Winda!" panggil Surya dengan pelan.


" Hem!" sahut Winda dengan senyumnya.


" Kamu adalah istriku. Jangan pernah tinggalkan aku, ya sayang!" ucap Surya.


Winda menatap wajah Surya dengan tanda tanya yang besar. Tidak biasanya Surya se kwatir itu dengan nya. Rasa takut kehilangan Winda sangat besar.


" Mas! Ada apa dengan kamu, sayang? Aku baik - baik saja loh! Aku di sini, di rumah papa dan mama Mas, sudah mulai terbiasa. Mereka sudah mulai menerima aku dengan tulus. Tidak ada ke kwatir an lagi dengan aku mas!" kata Winda sambil mengusap lembut pipi kiri Surya.


" Alhamdulillah! Berjanji lah padaku. Jangan pernah jauh dan meninggalkan aku, Winda!" kata Surya tegas.


" Iya sayang!" sahut Winda.


" Berjanjilah!" kata Surya menegaskan.

__ADS_1


" Iya, aku berjanji tidak akan meninggalkan kamu Mas!" kata Winda dengan senyumnya yang menawan.


__ADS_2