
Cuaca malam hari ini begitu dingin. Angin malam berhembus kencang masuk ke celah-celah kecil jendela dan lubang ventilasi udara. Di kamar yang di tempati Rosiana beserta anaknya laki-laki, Siwa terlihat masih menyala listriknya. Kelihatan nya, Rosiana masih terjaga.
" Kepalaku berat sekali." kata Rosiana pelan sambil duduk di atas kasur nya. Tangannya mulai memijit sendiri daerah pelipisnya.
"Mbak Santi ada obat sakit kepala tidak yah?" ucap Rosiana seolah bermonolog sendiri.
Rosiana bangkit dari tempat tidur nya dan berdiri lalu berusaha berjalan menuju pintu keluar kamarnya. Rosiana hendak menuju ke kamar Mbak Santi yang letaknya berdekatan dengan ruang makan keluarga. Dengan langkah yang lemah dan gontai, Rosiana memaksakan dirinya berjalan menuju kamar Mbak Santi. Tentunya dengan melewati ruang tengah, ruang makan bersama dan taman belakang rumah.
Wardha masih terjaga saat itu. Wardha kelihatan nya masih menikmati secangkir kopi hitam dan batang rokok yang sudah menyala. Wardha duduk santai di meja makan sambil memandangi tanaman- tanaman yang tertata rapi di belakang rumah itu. Suara gemericik air kolam dengan ikan yang berwarna-warni ada di kolam tersebut. Rosiana mulai gontai. Pandangan nya mulai kabur tatkala sampai di taman belakang itu. Hanya tinggal beberapa langkah akan sampai di pintu kamar milik Mbak Santi, seketika penglihatan nya mulai gelap dan keseimbangan tubuhnya tidak bisa Rosiana kuasai. Akhirnya tubuh itu jatuh tersungkur di dekat pintu masuk kamar milik Mbak Santi.
Wardha yang melihat kejadian itu langsung bergegas bangkit dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Rosiana yang tergeletak tidak sadarkan diri. Wardha yang terlihat panik itupun mengetuk pintu kamar Mbak Santi, namun beberapa ketuk kan pintu belum juga ada sahutan dari dalam kamar Mbak Santi. Mungkin saja Mbak Santi sudah tertidur pulas karena kecapekan seharian bekerja.
" Rosiana! Bangun!" ucap Wardha sambil mendekati tubuh Rosiana yang tergeletak di lantai itu.
" Hah? Dia pingsan." gumam Wardha sambil melihat kelopak mata milik Rosiana.
" Mbak Santi! Mbak Santi!" panggil Wardha sambil mengetuk pintu kamar milik Mbak Santi itu.
" Hadeuh, gimana nih?" ucap Wardha yang sudah mulai panik.
Akhirnya Wardha pun mulai mengangkat tubuh mungil milik Rosiana itu dan membopong nya menuju kamar yang ditempati Rosiana beserta anaknya, Siwa. Malam itu memang Sarwenda sudah istirahat di dalam kamarnya. Bersama anak bayinya yang masih balita.
Wardha merebahkan tubuh Rosiana di atas kasur bersebelahan dengan Siwa yang sudah tertidur sanggat pulas. Wardha lalu bergegas mencari minyak kayu putih di kotak obat- obatan. Rosiana masih belum juga sadar dari pingsannya.
" Dimana harus aku oles minyak kayu putih ini?" kata Wardha seolah bermonolog sendiri karena kepanikan nya.
Wardha mengusapkan sedikit minyak kayu putih itu ke telapak kaki Rosiana dan berlanjut mengoleskan sedikit dekat hidungnya. Wardha mengusap lembut kaki itu yang dingin. Tidak berapa lama Rosiana membuka matanya. Pertama yang dilihat nya adalah Wardha yang duduk tidak jauh darinya bahkan itu sangat dekat yang membuat Rosiana terperanjat kaget.
" Rosiana! Jangan takut! Aku tidak berbuat jahat terhadap kamu. Aku hanya membantu kamu saja. Kamu...ka..kamu tadi tiba-tiba pingsan di dekat pintu kamar Mbak Santi. Lalu aku membawa kamu ke kamar kamu. Itu saja." terang Wardha takut Rosiana menjadi salah paham.
__ADS_1
" Oh i...iya.. Terimakasih banyak, Mas! Eh tuan." ucap Rosiana lalu mulai duduk dan membenarkan posisi nya supaya agak menjauh dari Wardha.
" Iya. Kamu ke kamar Mbak Santi mau ngapain?" tanya Wardha.
" Saya mau minta obat sakit kepala. Tadi tiba-tiba saja kepala saya berat dan pening." jawan Rosiana.
" Apakah kamu sudah makan?" tanya Wardha.
" Sudah kok, tadi siang." jawab Rosiana.
" Apa? Jadi malam ini belum makan?" tanya Wardha.
Rosiana terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Kalau begitu ayolah makan. Aku temani kamu makan." ajak Wardha sambil menarik tangan milik Rosiana.
" Eh iya, maafkan aku. Aku masih merasa terlalu dekat dengan kamu. Walaupun kita sudah lama dan sekian lama tidak ada komunikasi dan hubungan." kata Wardha.
" Iya, lupakan lah!" ujar Rosiana akhirnya.
" Ayolah, aku akan menemani kamu makan." kembali Wardha mengajak Rosiana.
Dengan langkah yang masih lunglai, Rosiana akhirnya melangkah kan kakinya mengikuti Wardha yang sudah keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke meja makan. Ketika sampai di ruang tengah, ada Sarwenda yang melihat mereka berdua. Pandangan Sarwenda mulai menunjukkan tanda tanya yang cukup besar.
" Mas Wardha! Aku cari- cari dari tadi loh. Kenapa bersama Rosiana? Ada apa ini?" tanya Sarwenda dengan nada yang keras.
" Iya, sayang! Tadi Rosiana pingsan di depan pintu kamar Mbak Santi. Ternyata Rosiana pingsan gara-gara belum makan malam." terang Wardha yang menjelaskan setenang mungkin.
" Eh? Saya...saya..pusing nyonya. Bukan lantaran tidak makan malam." sahut Rosiana.
__ADS_1
" Pusing mu itu bisa jadi karena kamu tidak makan malam." ujar Sarwenda ketus.
" Ya sudahlah! Kamu makan saja sana. Lalu minum obat sakit kepala. Itu ada di kotak obat." ucap Sarwenda sambil menunjuk kotak obat-obatan yang ada di dekat lemari.
" Baik nyonya. Saya permisi dulu nyonya dan tuan." kata Rosiana sambil bergegas meninggalkan pasangan suami istri itu.
" Ada apa sayang?" tanya Wardha sambil merangkul tubuh istrinya itu.
" Aku mencari kamu. Biasanya jam segini sudah masuk kamar, tapi belum masuk kamar juga." keluh Sarwenda.
" Hem.. Rosiana cantik yah?" imbuh Sarwenda sambil menatap tajam ke arah suaminya itu.
" Eh, eh, eh, apakah istri aku yang baik dan super cantik ini sedang lagi cemburu?" goda Wardha.
" Tentu saja aku cemburu! Kamu berjalan dengan Rosiana. Itu bikin emosi dan naik ke ubun-ubun, jika tidak kamu jelaskan kalau Rosiana tadi pingsan dan kamu menolong nya." keluh Sarwenda dengan jujur.
" Hahaha! Akhirnya kamu bisa merasakan cemburu itu terhadap aku, sayang? Itu artinya kamu sudah mulai takut kehilangan aku bukan?" goda Wardha dengan terkekeh.
" Tentu saja! Kamu ganteng. Rosiana pun cantik juga. Apakah aku tidak boleh cemburu? Suami aku takut di goda oleh pembantu ku yang super cantik dan menggiurkan." ucap Sarwenda.
" Hadeuh! Kamu yang lebih cantik seperti bidadari, sayang. Apakah kamu pantas, cemburu dengan seorang pembantu? Status kamu lebih tinggi dibanding, Rosiana, sayang." ucap Wardha sambil menoel hidung milik Sarwenda.
" Mana tahu, selera suami aku turun drastis. Menyukai seorang pembantu." goda Sarwenda sambil merangkul kan kedua tangannya di pundak milik suaminya yang tinggi kekar itu.
" Hehehe. Ayo kita masuk kamar! Aku tahu, kamu mencari aku karena menginginkan aku bukan?" goda Wardha.
" Menginginkan apaan?"
" Hahaha!" Wardha terkekeh sambil menarik tangan Sarwenda supaya lebih cepat masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1