
" Mbak Winda! Ada undangan pernikahan nih. Lihat lah!" kata Intan sambil menyerahkan undangan mewah itu kepada kakak iparnya.
" Terlihat keren bentuk undangan nya. Siapa yang menikah, Intan?" tanya Winda sambil membuka lembaran undangan itu.
" Hah? Ternyata benar dugaan ku, mereka memang ada hubungan spesial selama ini." kata Intan sambil menghela nafas panjang.
" Wardha akan menikah dengan Sarwenda?" ucap Winda terlihat membulat matanya membaca tulisan yang tertera di undangan pernikahan itu.
" Intan? Kamu sudah mengetahui nya?" tanya Winda sambil menatap Intan yang berubah raut wajahnya. Ada kesedihan dan kecemburuan di sana.
" Apakah kamu cemburu, Intan?" tanya Winda lagi.
Yang ditanya malah membuang wajahnya menyembunyikan kesedihan dan kekecewaan nya.
" Jadi selama ini mereka sudah berhubungan. Mereka telah membohongi kita semua terutama membohongi aku dan juga Mas Surya. Betapa jahatnya mereka, Mbak Winda." ucap Intan dengan mata yang berkaca-kaca.
" Aku sempat berprasangka buruk dan menilai Mas Surya yang menghamili Sarwenda. Ternyata, semua sudah jelas adanya. Wardha lah yang membuat Sarwenda hamil dan membuat rusuh keluarga kita. Terutama keluarga Mbak Winda." kata Intan lagi sambil mengambil undangan itu dan merobek nya sampai menjadi serpihan yang tidak bisa disatukan lagi.
Hati Intan sangat hancur. Seperti kertas undangan pernikahan itu yang menjadi serpihan kecil- kecil yang berserakan dilantai. Intan melempar serpihan- serpihan kertas itu sampai berterbangan jatuh ke lantai.
" Intan!" kata Winda sambil meraih tubuh Intan dan memeluk nya dengan erat.
" Aku sangat menyesal. Kenapa sempat tidak mempercayai Mas Surya. Walaupun sebelumnya memang Mas Surya mengakui pernah melakukan kesalahan itu. Tapi, Ya Tuhan! Seandainya saja Mas Surya masih ada, aku akan meminta maaf terhadap nya." kata Winda dengan Isak tangisnya.
" Sudahlah Mbak Winda! Jangan lagi diungkit semua yang sudah berlalu. Mas Surya sudah tenang di sana. Kita hanya bisa mendoakan Mas Surya." sahut Intan.
"Kamu benar Intan! Apakah kamu akan menghadiri acara pernikahan Wardha dengan Sarwenda?" tanya Winda.
" Entahlah Mbak! Seperti nya aku tidak sanggup jika bertemu dengan Mas Wardha. Aku masih belum bisa melupakan nya. Terkadang rindu ini hadir dan sangat menyiksaku. Memang dalam hal inilah aku yang benar-benar mencintai Mas Wardha. Dan ternyata, Mas Wardha tidak ada sedikit pun mencintai aku." kata Intan dengan suara seraknya.
" Tidak! Kamu salah menilai. Wardha hanya kembali jatuh cinta lagi dengan Sarwenda ketika pertemuan itu terjadi. Tidak mungkin kalian menikah jika Wardha tidak ada rasa suka terhadap kamu. Benarkan?" kata Winda berusaha menghibur hati Intan.
" Sudahlah! Aku harus kuat! Mas Wardha bukan lagi jodoh aku, Mbak. Mungkin suatu hari nanti aku akan dipertemukan dengan jodohku." sahut Intan berusaha menghibur dirinya sendiri.
" Aamiin! Nah begitu dong! Semangat!" ucap Winda sambil memegang erat tangan Intan.
" Tampaknya ada tamu, mbak!" kata Intan sambil melihat ke luar rumah.
" Siapa?" tanya Winda.
" Tidak tahu Mbak! Bawa mobil sport, sih Mbak." kata Intan sambil duduk lagi.
__ADS_1
" Oh itu, Bang Hendra." kata Winda sambil berdiri dari tempat duduknya.
" Mau kemana Mbak?" tanya Intan.
" Ambil kerudung di kamar." jawab Winda sambil masuk kedalam kamar nya.
" Oh iya lah!" sahut Intan.
" Mulai ada yang mendekati, kakak ipar ku yah?" gumam Intan penuh kecurigaan.
" Awas saja kalau bermain-main dengan kakak ipar ku." kata Intan pelan.
Intan keluar dari pintu utama dan menghampiri Bang Hendra yang sudah berada di teras rumah itu.
" Mencari Mbak Winda yah?" tanya Intan sinis.
" Eh assalammualaikum! Iya dek!" kata Hendra berusaha sopan.
" Mbak Winda tidak ada di rumah. Abang pulang saja. Saya lagi tidak mau menerima tamu hari ini." kata Intan ketus.
" Kemana Winda?" tanya Hendra lemas karena tujuannya ke rumah itu ingin bertemu dengan Winda tetapi Winda malah pergi.
" Biasalah, belanja bulanan!" jawab Intan dengan menunjukkan wajah tidak sukanya terhadap Hendra.
" Tidak boleh! Abang harus pulang! Saya mau tutup pintunya." kata Intan lalu bergegas pergi meninggalkan Hendra di teras lalu menutup pintu utamanya dengan keras.
" Buset! Galak amat adik iparnya Winda." kata Hendra pelan lalu bergegas pergi dari teras rumah tersebut dan berjalan keluar menuju mobilnya yang diparkir di depan pagar.
Ketika melewati Satpam rumah itu. Pak satpam sempat menyapanya dan bertanya kepada Hendra.
" Kok buru-buru pulang, bang?" tanya Pak Satpam itu.
" Yang punya rumah pergi, katanya." jawab Hendra sambil tersenyum dan meninggalkan satpam rumah Winda.
" Mari pak!" sapa Hendra sambil masuk kedalam mobilnya.
" Eh iya, bang!" sahut Satpam itu.
" Perasaan Non Winda ada di rumah loh!" gumam satpam itu sambil melihat mobil milik Hendra melaju meninggalkan rumah itu.
*******
__ADS_1
" Lho dimana Bang Hendra?" kata Winda sambil melihat ke kiri dan kenan ketika sudah di luar rumahnya.
Intan yang sudah mengusir Hendra, langsung ke kamar Wisnu. Intan tidak ingin Winda tahu kalau dirinya sudah membohongi Hendra kalau kakak iparnya itu sedang bepergian dan tidak ada di rumah.
Winda mulai bertanya kepada satpam rumahnya yang sedang asyik melihat televisi.
" Pak, tamu saya tadi kemana ya pak?" tanya Winda yang sudah mendekati satpam itu.
" Oh sudah pulang non!" jawab Satpam itu.
" Lho kenapa pulang?" tanya Winda penuh tanda tanya.
" Kata Abang tadi, yang punya rumah sedang pergi. Jadi dia pamit pulang." jawab Satpam rumah itu.
" Eh? Saya di rumah sedari tadi kok." sahut Winda.
" Entahlah Non! Mungkin saja tiba- tiba ada urusan mendadak non. Jadi buru- buru pulang." kata Satpam itu berusaha menganalisa.
" Oh begitu yah!" ucap Winda sambil meninggalkan satpam itu dan bergegas masuk kembali kedalam rumahnya.
" Ada apa Bang Hendra kemari yah? Aku coba hubungi dia sajalah." kata Winda pelan lalu melangkah masuk kedalam kamarnya.
Winda mulai mencari ponselnya. Dan mulai mencari kontak Bang Hendra. Setelah mendapatkan kontak Bang Hendra di ponselnya, Winda segera mengirimkan pesan di sana.
" Belum dibaca. Tidak sedang online." gumam Winda lalu mencoba menelepon nomer itu.
" Eh diangkat!" kata Winda pelan.
" Halo! Maaf Bang, tadi ke rumah yah?" tanya Winda setelah diangkat oleh orang yang dituju.
" Iya!" jawab Bang Hendra singkat.
" Kenapa buru-buru pulang?" tanya Winda melalui sambungan ponselnya.
" Oh tidak apa-apa. Itu...itu Galuh mau mengajak nonton film. Jadi aku segera pulang." jawab Bang Hendra asal.
" Oh begitu yah!" sahut Winda.
" Lain kali saja, Abang ke rumah Winda lagi. Besok juga kita ketemu di kantor." kata Hendra di seberang sana.
" Oh iyalah! Kalau begitu salam buat Galuh, Bang!" kata Winda akhirnya.
__ADS_1
" Oke! Siap!" sahut Hendra.
" Hehehe. Adik iparnya Winda masih belum rela kalau kakaknya di dekati oleh pria ganteng seperti aku." kata Hendra pelan sambil menyetir mobilnya.