Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
DI RUMAH NIGA


__ADS_3

Galuh kini mengikuti suaminya Niga, di rumah milik Niga. Selera Niga hampir sama dengan Winda. Rumah yang cukup elegan dan sejuk dengan berbahan dasar kayu menambah kesan akrab dengan alam. Hampir 90 persen rumah itu di kemas dengan bahan kayu jati di tambah perabot seperti kursi, lemari pun berbahan kayu. Ketika memasuki rumah milik Niga itu serasa sejuk, adem dan sangat nyaman.


" Kamu kenapa bengong, sayang?" tanya Niga kepada Galuh yang tidak berhenti melihat sekeliling dan perabotan rumah milik Niga.


" Rumah ini terasa mendamaikan, Mas!" jawab Galuh sambil duduk di kursi kayu jati dengan bantalan empuknya.


" Itu lantaran hati kamu penuh kebahagiaan karena sudah menjadi istri aku. Hati kamu penuh cinta jika aku ada di dekat kamu." sahut Niga.


" Tidak! Rumah kamu ini memang sangat adem, Mas!" kata Galuh sambil membelai rambut Niga yang saat ini merebahkan tubuh nya di kursi kayu jati panjang itu di atas paha istrinya.


" Hahaha, kamu seperti baru pertama kali datang ke rumah ini. Rumah ini rumah kamu juga, sayang! Apa yang aku miliki menjadi milik kamu juga sayang!" kata Niga masih manja di pangkuan Galuh.


" Gadis kita mana, sayang?" tanya Galuh.


" Rosa? Tadi bilangnya di jemput mama nya, di ajak jalan- jalan sewaktu kita perjalanan ke mari." jawab Niga.

__ADS_1


" Oh, begitu yah! Baguslah, Rosa jadi memiliki dua mama." sahut Galuh.


" Saat ini hanya kamu yang menjadi mama Rosa. Margaret tidak lagi." ucap Niga sambil duduk di samping Galuh.


" Kamu salah, mas! Kak Margaret tetaplah mama nya Rosa walaupun diantara kalian sudah bercerai. Kak Margaret tetaplah ibu kandung dari Rosa sedangkan aku hanya ibu sambung Rosa saja, Mas!" kata Galuh.


Niga hanya tersenyum mendengar kata- kata dari Galuh.


" Kalau begitu kita kerja keras lagi, yuk sayang!" ajak Niga.


" Buat adik bayi!" jawab Niga pelan sambil mendekat ke wajah Galuh dekat dan lebih dekat sampai kedua nafas mereka kembali beradu.


Galuh dengan cepat mencubit pinggang milik Niga dan berlari masuk ke dalam kamar pribadi mereka.


" Wah, kamu keliatan nya kamu memang sedari tadi mengharapkan pertempuran ini, yah sayang? Lari tapi masuk ke dalam kamar. Hahaha." kata Niga dengan keras.

__ADS_1


Istri kamu adalah tempat ladang kamu untuk bercocok tanam. Jika kamu menginginkan nya datangi lah dia.


" Galuh! Aku semakin tidak bisa lepas dari kamu. Aroma tubuh kamu dan bau nafas mu bikin candu bagiku." kata Niga seraya mengusap dengan lembut kedua pipi milik Galuh.


Kedua pasangan suami istri itu sama-sama berbaring di atas peraduan nya. Mereka masih saling bermanja-manja, merasakan segala sentuhan lembut dan kasih sayang tangan- tangan kokoh milik Niga.


" Aku tidak bakal menyangka, jika aku berjodoh menjadi istri kamu, mas! Sejak aku mendengar kamu menikah dengan Kak Margaret, tidak lama pun aku juga menikah dengan Dodi, mantan suami aku itu. Ini seperti mimpi namun menjadi nyata." ucap Galuh sambil memainkan hidung pancung milik Niga.


Niga hanya menyimak apa yang diucapkan oleh Galuh.


" Sebenarnya sedari kuliah dulu, aku ingin dan berusaha dekat dengan kamu, Mas! Namun karena aku mendengar kamu sudah berpacaran dengan anak sastra, akhirnya aku mundur dengan teratur." cerita Galuh yang sudah lama di simpan nya.


" Pacaran dengan anak sastra? Maksud kamu Fany, yah sayang?" tanya Niga.


" Tuh kan, masih ingat mantan!" sahut Galuh dengan bibir manyun ke depan.

__ADS_1


" Hahaha!" Niga malah tertawa lalu dengan cepat memeluk Galuh dengan erat.


__ADS_2