
Usai pertemuan dengan klien, Winda dan Intan duduk santai menikmati minuman coklat dingin di sebuah kafetaria.
" Mbak Winda, undangan pernikahan dari Niga sudah sampai rumah mbak?" tanya Intan sambil mengaduk minumannya.
" Eh? Aku belum menerimanya sih. Tapi nanti aku coba tanyakan sama Mbak Atik. Mana tahu sudah sampai di rumah." jawab Winda.
" Acaranya masih bulan depan, mbak." cerita Intan.
" Kamu tidak apa- apa kan, Tan?" tanya Winda penuh selidik.
" Tentu saja, masih apa- apa lah mbak. Walaupun aku masih jalan dengan Andrie, namun aku masih menaruh harapan dengan Mas Niga. Padahal mas Niga sudah jelas berkata kepadaku, menganggap aku seperti adiknya." Ungkap Intan.
" Hem. Intan! Aku ada kenalan cowok. Mungkin saja kamu menyukai nya." kata Winda.
" Siapa? Cowok kenalan mbak Winda, hampir semua berpenampilan seperti om- om. Hehe." sahut Intan dengan nada bercanda.
" Yah Intan! Yang terpenting bisa membuat hati kamu senang, nyaman, bahagia, dan bisa tidur nyenyak." sahut Winda ikut terkekeh.
" Pakai bantal yang empuk, mbak! Hahaha, bisa tidur nyenyak." sahut Intan.
" Mbak Winda! Tumben arjuna nya, mbak Winda tidak telepon." tanya Intan.
" Siapa? Bang Hendra?" kata Winda malah bertanya balik.
" Iya, siapa lagi? Biasanya sudah sibuk telepon lalu menjemput mbak." ucap Intan.
__ADS_1
" Mungkin saja, bang Hendra lagi sibuk mempersiapkan acara pernikahan adiknya." kata Winda.
" Galuh?" sahut Intan sambil menunjukkan ekspresi kurang suka nya.
" Huum. Setelah ini, biar aku singgah ke rumah Galuh saja." kata Winda akhirnya.
Intan yang mendengar Winda hendak pergi ke rumah rivalnya hanya menunjukkan mulut yang cemberut.
" Baiklah! Ayo kita kembali mbak. Nanti aku antar sampai depan pagar saja yah, mbak. Aku ogah masuk." ucap Intan akhirnya.
" Oke. Nanti biar aku pulang diantar bang Hendra." sahut Winda.
Mereka meninggalkan tempat itu setelah membayar tagihan apa yang di makan dan di minumnya di sana. Winda juga Intan berjalan menuju tempat parkiran. Di tempat parkiran sudah menunggu dan berdiri tegak di samping mobil putih fortuner. Seorang laki-laki dengan mengenakan baju rapi ala seorang CEO muda seperti menunggu seseorang.
Dengan mengenakan kacamata hitam, Herika masih dapat dikenali oleh Winda. Intan masih fokus berjalan mendekati mobilnya yang diparkir kan.
" Ayo mbak!" kata Intan sambil masuk ke dalam mobilnya.
Winda masih berdiri mematung melihat penampakan dari sosok Herika. Herika yang dilihat terus oleh Winda, hanya menunjukan senyumannya yang mengembang dan masih dengan posisi nya yang berdiri di dekat mobil putih itu. Akhirnya dengan keyakinan penuh, bahwa itu adalah Herika, Winda berjalan mendekati Herika.
" Hai, pangeran bertopeng! Sedang apa kamu di sini?" tanya Winda sambil menepuk pundak pria jangkung berbadan besar itu.
" Seperti janjiku tadi, aku akan mengajakmu makan!" jawab Herika sambil tetap tersenyum.
" Tapi nampak nya, aku akan mendapatkan sedikit masalah karena kamu sedang ada penjaga yang super judes." tambah Herika.
__ADS_1
" Eh? Siapa?" tanya Winda lalu akhirnya tersenyum dan menyadari siapa yang dimaksud oleh Herika.
" Hem, aku kebetulan hendak ke rumah Galuh, sahabat ku. Sebentar lagi, dia akan menikah. Aku akan ke rumah nya sebentar." kata Winda.
" Ayolah, kalau begitu!" ajak Herika.
" Sebentar yah! Aku bilang dulu sama Intan kalau kamu yang akan mengantarkan aku ke rumah Galuh." kata Winda yang akhirnya berjalan mendekati mobil Intan dan menjumpai Intan yang sudah menunggunya di dalam mobilnya itu.
" Kamu ngobrol dengan siapa sih, mbak?" tanya Intan sebelum Winda bicara.
" Itu, Herika! Sahabat Mas Surya dulu waktu kuliah dulu." jawab Intan akhirnya.
" Hem! Aku seperti pernah berjumpa dengan pria itu. Tapi di mana yah?" ucap Intan sambil berpikir.
Winda hanya tersenyum saja tanpa menjelaskan perjumpaan awal dengan Herika tempo hari yang lalu.
" Intan! Aku kan hendak ke rumah Galuh. Dan kebetulan Herika mau antar aku juga ke rumahnya. Jadi, mbak ikut mobil Herika saja yah. Kamu bisa langsung pulang." ucap Winda pelan.
" Ke rumah bang Hendra atau Galuh?" sindir Intan.
" Hehe, dua- dua nya." sahut Winda akhirnya sambil mencium pipi kanan dan kiri milik Intan.
" Ya udah! Hati-hati ya!" ujar Winda sambil melambaikan tangannya.
" Mbak Winda juga! Bilang ma pria itu, jangan ngebut nyetir nya." kata Intan akhirnya.
__ADS_1