Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BU SUNDARI


__ADS_3

Kabarkan lah kegembiraan pada semua orang dan tidak perlu kamu memberi kabar kesedihan tentang keluhan dari permasalahan hidup kamu. Jika engkau tidak kuat menahan beban kedukaan mu, mengadu lah pada Tuhanmu, supaya kamu mendapatkan nilai terindah untuk orang-orang sekeliling mu. Mungkin saja ini akan terasa berat, mengeluh pun pada semua orang disekitar mu pun mereka belum tentu membantu kamu. Yang ada semakin merendahkan kamu dan menghina kamu. Apakah benar?


Kenyataannya manusia adalah makhluk sosial yang masih membutuhkan bantuan dari manusia lainnya. Sifat tergantung masih melekat dalam diri manusia apalagi ketika bayi yang masih memerlukan ibu nya untuk tumbuh besar. Ketika sudah tua dan menjadi lemah pun juga memerlukan bantuan dari seseorang untuk merawatnya yang memiliki tenaga yang lebih kuat.


*******


Bagaimana akan ku sampaikan rindu ku padamu. Kepada siapa akan ku ku keluhkan rasa rindu berat ini. Rasanya seperti meledak di dada. Rasanya sangat sesak hingga aku tiada mampu bernafas. Menghirup udara pun tiada kuasa kutarik perlahan. Begitu gelisah, resah tiada mampu ku pejamkan mata. Bantulah aku menghapus derita rasa rindu yang tiada menentu. Langkahku jadi terseok karena bayangmu selalu menggangguku. Sentuh lah sedikit rasamu untuk aku dengan kata-kata manis yang keluar dari bibirmu. Jika kau mampu balas lah semua kerinduan ini dengan perhatian tulus mu. Sungguh, aku tiada mampu menepis beban rindu itu yang semakin membuat remuk jiwaku.


" Bang Hendra!" panggil Galuh.


" Eh?? Bikin kaget saja! Ada apa?" tanya Hendra kepada Galuh.


" Melamun kan apa?" tanya Galuh penasaran.


" Kepo saja kamu!" sahut Hendra sinis.


" Weleh! Di tanya malah sewot. Mana tahu aku bisa menjadi kawan curhat Bang Hendra." ujar Galuh sambil duduk di dekat abangnya itu.


" Tidak ada apa-apa loh. Kamu ini anak kecil ingin tahu saja." ucap Hendra lalu bangkit dari tempat duduknya.


" Mau kemana bang?" tanya Galuh penasaran.


" Mau ke kamar mandi? Membuang beban berat hidup ini. Kau mau ikut?" jawab Hendra asal.


" Adih, jorok!" sahut Galuh.


" Mama papa dimana?" tanya Hendra.


" Masih di dalam kamar!" jawab Galuh.


" Oh!" sahut Hendra.


" Sebentar lagi juga keluar, kita sarapan pagi. Bang, aku tunggu di meja makan yah!" kata Galuh.


" Iya! Tolong pesen kan tongseng, Luh. Abang ingin tongseng." Perintah Hendra.


" Baik tuan!" sahut Galuh meledek.


Hendra mengacaukan rambut milik Galuh sebelum masuk ke dalam kamar nya.


" Halo sayang!" sapa mama Galuh, sebut saja Bu Sundari.


" Halo mama! Bagaimana tidurnya? Nyenyak tidak?" sahut Galuh sambil memeluk mama nya dan mencium pipi kanan dan kiri nya.


" Nyenyak dong!" jawab mama Galuh.

__ADS_1


" Dimana abang mu?" imbuh Bu Sundari.


" Lagi membuang semua beban berat hidup nya." jawab Galuh asal.


" Maksudnya?" tanya Bu Sundari sambil membulat bola matanya.


" Buang air besar, mama! Itu bahasa ter halus milik Bang Hendra." kata Galuh sambil terkekeh.


" Ais, Ada- ada saja Abang kamu itu!" sahut Bu Sundari.


" Bagaimana, Abang kamu sudah punya kekasih belum? Maksud mama, sudah ada wanita yang dekat dengan nya belum?" tanya Bu Sundari penuh selidik.


" Galuh belum pernah lihat, ma! Tampaknya sih belum ada, ma!" jawab Galuh serius.


" Abang kamu itu, setelah putus dan dikecewakan oleh Yuslita menjadi begitu. Seperti tidak ada wanita lain di dunia ini." kata Bu Sundari.


" Mau bagaimana lagi ma. Namanya sudah kadung cinta berat dengan Mbak Yuslita, tapi ditinggal menikah dengan laki-laki lain." ujar Galuh.


" Abang kamu ini aneh. Dia ganteng, keren, bodynya pun juga oke memimpin perusahaan pula. Apa yang di khawatir kan coba, kalau mau banyak wanita muda yang cantik sesuai keinginan nya bisa didapatkan." ucap Bu Sundari.


" Tetapi cinta dan rasa suka itu tidak bisa dipaksakan, Lo ma!" sahut Galuh.


" Hahaha! Benar juga kata kamu! Ngomong- omong, bagaimana dengan dirimu sayang!" ucap Bu Sundari.


" Maksud mama, sudah ada laki-laki yang mendekati kamu belum?" tanya Bu Sundari langsung ke sasaran.


" Hehehe. Jangan dibahas dulu, ma! Masih terlalu dini, buat saya untuk buru-buru menikah lagi." kata Galuh sambil membuang mukanya karena merah merona.


" Hehe." Bu Sundari terkekeh.


*******


Di meja makan, Bu Sundari, Galuh, Hendra dan papa nya sedang menikmati sarapan di pagi itu. Papa Galuh, sebut saja Pak Suyatno memiliki watak yang keras tapi tegas. Pak Suyatno tergolong tidak banyak bicara berbeda dengan Bu Sundari. Memang dalam sebuah pasangan hidup, terkadang selalu terjadi realitas seperti itu. Seorang yang tidak banyak bicara di satukan dengan seseorang yang banyak bicara dalam artian ramai dan mudah bergaul.


" Papa sehat kan?" tanya Hendra mulai mengajak bicara Pak Suyatno yang sedang memakan hidangan sarapan pagi itu.


" Alhamdulillah!" jawab Pak Suyatno singkat.


" Papa kamu terkadang mengeluh sesak nafas, tapi begitulah rokoknya tidak mau berhenti. Ngebul terus seperti kereta api." sahut Bu Sundari.


Pak Suyatno yang mendengar istrinya sewot perihal rokok hanya diam dengan memberikan senyuman nya yang khas.


" Papa harus mengurangi rokok nya, dong!" ucap Hendra yang berusaha perhatian dengan papa nya.


" Iya!" jawab Pak Suyatno singkat.

__ADS_1


" Bagaimana kalau habis ini kita medical cek up." ajak Hendra kepada Pak Suyatno.


" Tidak perlu!" sahut Pak Suyatno.


" Papa kamu selalu begitu kan! Lihat jarum suntik saja sudah ngacir, apalagi bau obat- obatan di klinik atau di rumah sakit. Kepalanya sudah pusing duluan." sahut Bu Sundari.


" Mama, jangan terlalu keras dengan papa loh!" sahut Galuh tersenyum.


" Tapi Abang rasa, gara- gara mama cerewet itulah yang bikin papa jatuh cinta dengan mama. Betul tidak pa?" ucap Hendra sambil menoel papa nya. Pak Suyatno malah nyengir saja.


" Iya! Cuma mama kamu yang bikin hati papa luluh." ujar Pak Suyatno spontan yang bikin Bu Sundari tersenyum dan bangkit dari tempat duduknya.


Bu Sundari langsung menghampiri Pak Suyatno.


" Papa! Mama sayang sekali dengan papa." kata Bu Sundari sambil memeluk Pak Suyatno dari belakang.


" Ais! Seperti Romeo dan Juliet. Galuh!Buruan makan nya, kita harus segera meninggalkan meja makan ini. Ada yang lagi pacaran, tidak enak kalau kita lama- lama gabung dengan mereka." goda Hendra sambil membuang muka nya dan melirik ke Galuh.


" Haha." Galuh terkekeh.


" Aku sangat bahagia, mama dan papa selalu rukun dan romantis. Aku ingin punya istri seperti mama yang perhatian dengan papa walaupun cerewet juga sih." ucap Hendra.


Bu Sundari dan Pak Suyatno hanya tersenyum memperlihatkan kerukunan diantara mereka.


" Kapan kamu akan memperkenalkan, calon istrimu kepada kami?" tanya Bu Sundari yang bikin Hendra membelalak matanya.


" Hah? Doakan saja ma! Aku bisa berjodoh dengan wanita yang aku inginkan." jawab Hendra sambil menunduk.


" Jadi? Bang Hendra sudah jatuh hati dengan seorang wanita? Sudah menemukan pengganti Mbak Yuslita? Eh up!" sahut Galuh.


" Galuh!" sahut Bu Sundari.


" Iya! Mama doakan kamu mendapatkan istri yang sesuai dengan keinginan kamu." tambah Bu Sundari yang kembali duduk di kursi makannya.


" Amin, mama!" ujar Hendra sambil melirik ke arah Pak Suyatno.


" Kamu harus berjuang, nak!" ucap Pak Suyatno akhirnya.


Semua mata tertuju pada Pak Suyatno. Lalu Galuh dan Bu Sundari hanya terkekeh dengan kata-kata Pak Suyatno.


" Tuh dengar, bang! Abang harus berjuang untuk mendapatkan wanita itu." ujar Galuh akhirnya.


" Kamu juga kan?" sahut Hendra kepada Galuh sambil nyengir.


( Tulisan di luar kota, di sela- sela waktu kosong) Terimakasih banyak sudah mengikuti cerita novel ini. Terimakasih banyak untuk cinta kalian semua.😘😘😍

__ADS_1


__ADS_2