Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
WARDHA SARWENDA


__ADS_3

flashback sebelum Wardha meninggalkan rumah keluarga Hartono dan belum resmi cerai dengan Intan secara hukum. Percakapan dengan Sarwenda dan Wardha, pertemuan di kamar hotel sesuai dengan janjian diantara mereka.


Wardha duduk di kursi sofa kamar hotel itu. Di samping nya ada meja kecil dengan minuman yang mengandung alkohol dengan kadar yang kecil. Di atas meja itu juga ada beberapa makanan ringan dan beberapa buah-buahan segar. Sarwenda di atas kasur dengan duduk bersila menghadap ke arah Wardha. Wardha yang dilihat sedari tadi oleh Sarwenda jadi merasa gemas dan rasanya ingin menerkam tubuh seksi yang mulai terlihat sedikit membuncit perutnya itu. Sarwenda memang saat itu hanya mengenakan longdres dengan panjang diatas lututnya dipadu dengan kardigan sepanjang longdres itu yang tanpa lengan. Sarwenda mulai cekikikan menggoda Wardha yang terlihat serius, entah apa yang sedang dia pikirkan.


" Seharusnya, aku tidak perlu menceraikan Intan. Aku salah langkah dalam hal ini. Dengan bercerai dengan Intan, sumber penghasilan ku hilang dari keluarga tersebut." kata Wardha sambil menghisap batang rokoknya.


" Ya sudah cabut saja, gugatan perceraian mu dengan Intan. Beres bukan?" sahut Sarwenda.


" Sudah terlambat! Intan dan keluarganya sudah mencium kecurangan aku ketika menjabat di perusahaan milik keluarga Pak Hartono. Akhirnya Intan mengancam balik terhadap ku, jika aku menuntut atas harta gono-gini, Intan tidak segan-segan menuntut balik terhadapku atas tindakan korupsi dan penyalahgunaan wewenang di perusahaan." cerita Wardhana.


" Hah, jadi apa tindakan kamu selanjutnya?" tanya Sarwenda.


" Tentu saja, aku akan meninggalkan rumah besar itu. Dan akan meninggalkan kamu sendiri di rumah itu." jawab Wardha.


" Kamu kalau kangen kepadaku, kamu bisa ke rumah aku. Aku sudah membeli rumah, sayang. Kita bisa hidup bahagia bersama- sama dan membesarkan anak kita bersama. Kamu tidak perlu mengejar Surya, yang notabene tidak mencintai kamu. Akulah satu-satunya orang yang sangat mencintai kamu dengan tulus, sayang." kata Wardha sambil berdiri dan mendekati Sarwenda mengusap perut nya dengan lembut.


" Cih! Aku juga punya rumah sendiri loh. Seberapa besar kekayaan yang kamu kumpulkan dan miliki dibanding harta ku? Haha." sahut Sarwenda.


" Tapi Surya dan keluarga nya tidak akan menerima kamu, sayang. Jangan merendahkan dirimu lagi. Pergilah dari rumah itu dan ikut bersama aku. Kita mulai hidup baru. Sungguh, aku tidak akan rela jika kamu dihina oleh keluarga itu. Apalagi Surya. Aku sangat - sangat membencinya. Rasanya aku ingin membunuhnya." ujar Wardha sinis.


" Apakah kamu cemburu dengan Surya, karena aku masih ingin mengejar dan ingin menikah dengan nya?" sahut Sarwenda sambil tersenyum.


" Tentu saja, sayang. Sudahlah! Tinggalkan rumah itu dan pergi menikah dengan aku yang nyata-nyata mencintai kamu dengan setulus hati. Aku rela berkorban dan melakukan apa saja demi kamu, Sayang." kata Wardha.


" Benarkah? Kamu mau melakukan apa saja demi aku?" tanya Sarwenda sambil memegang pipi kanan kiri milik Wardha. Wardha mulai memerah wajahnya dan jantungnya mulai berdegup dengan kencang.

__ADS_1


" Tentu saja, sayang!" jawab Wardha dengan suara parau.


" Oke! Kalau aku tidak jadi menikah dengan Surya. Lakukan lah dan penuhilah tugas dari aku. Jika aku tidak bisa mendapatkan Surya, Winda pun harus merasakan kepedihan yang aku rasakan. Aku ingin keluarga besar itu, merasakan kesakitan seperti yang aku rasakan." ucap Sarwenda sinis.


" Apa yang akan aku lakukan terhadap Surya?" tanya Wardha penasaran.


" Hahaha jangan terburu- buru sayang! Seperti nya kamu sangat bersemangat sekali jika ingin menyakiti, Surya. Tetapi akupun juga tidak ingin gagal menikah dengan Surya, dong. Aku tentu sudah punya orang dalam dan bisa aku andalkan untuk memanipulasi data tentang hasil DNA anak ini." kata Sarwenda bersemangat.


" Sarwenda sayang! Cukup! Hiduplah dengan tenang dan bahagia bersama aku, sayang. Kamu tidak perlu melakukan itu semua. Semisal kamu menikah dengan Surya, apakah Surya akan memperlakukan kamu dengan baik? Hanya aku yang bisa menerima kamu dengan sepenuh hati." ucap Wardha seperti memohon.


" Tidak! Aku tidak akan berhenti ditengah jalan dan menyerah begitu saja sebelum tahu hasilnya. Nyatanya Surya, dulu sangat manis dan begitu manis terhadap aku. Entah kenapa, dia jadi cepat berubah dan menjauhi aku dan kembali ke Winda sepenuhnya. Apa salah aku?" kata Sarwenda dengan mata yang berkaca.


" Apakah kamu begitu mencintai, Surya?" tanya Wardha dengan suara parau.


" Tentu saja!" jawab Sarwenda.


" Sebenarnya aku sakit hati dan sangat sakit, ketika Surya berlaku kasar dan tidak mempedulikan aku. Tapi aku harus sabar dalam hal ini." kata Sarwenda sambil tersenyum.


" Sayang! Jangan sakiti diri kamu sendiri. Jangan hina dan merendahkan diri kamu, sayang. Ada aku yang siap menerima kamu apa adanya." rengek Wardha seperti mengemis cinta.


" Apakah kamu benar-benar mencintai aku, Wardha?" tanya Sarwenda.


" Tentu saja!" jawab Wardha sambil mendekati wajah milik Sarwenda dan siap menerkam mangsa didepannya saat ini.


Wardha mulai dikuasai minuman yang beralkohol itu. Wajahnya mulai memerah tangannya mulai menyusup kedalam baju longdres yang dipakai oleh Sarwenda.

__ADS_1


Sarwenda mulai menggeliat dan memejamkan matanya.


" Sudah berapa lama, kamu menahan hasrat kamu, sayang?" tanya Wardha pelan.


" Hanya kamu yang mampu menyentuhku. Hanya kamu yang bisa memenuhi semua hasrat ku. Tidak dengan Surya, laki-laki yang sebenarnya aku harapkan membelai dan menyentuh aku." jawab Sarwenda yang menikmati segala sentuhan dari Warda.


" Apakah kamu saat ini membayangkan, Surya ketika aku sentuh ini?" tanya Wardha.


" Tentu saja!" jawab Sarwenda.


" Hah?? Kamu sangat menyakiti hati aku." sahut Wardha sembari menjauh dan menjaga jarak dengan Sarwenda. Tapi dengan cepat, tangan Wardha ditahan dan ditarik oleh Sarwenda sampai kembali jatuh diatas tubuh Sarwenda.


" Aku tidak bisa melakukan ini. Kamu menyakiti aku." bisik Wardha.


" Jika aku memohon dan meminta kepadamu. Apakah kamu akan menolak nya?" kata Sarwenda pelan dan matanya mulai redup.


" Sarwenda! Dulu aku melakukan nya kepadamu, dengan mengesampingkan segala rasa sakit dan cemburu terhadap Surya. Tapi ini rasanya begitu sakit sekali, ketika kamu melakukan itu terhadapku, tapi pikiran dan hati kamu hanya tertuju kepada Surya. Aku hanya sebagai pelampiasan hasrat kamu saja, yang tidak kamu dapatkan dari Surya." keluh Wardha pelan seraya mendekati sofa di kamar itu.


" Katanya kamu mencintai aku, dan mau melakukan apa saja untuk aku?" sahut Sarwenda sambil tersenyum dan kembali duduk dengan benar di atas ranjang itu.


Wardha terdiam dan kembali duduk di sofa meneguk minumannya yang masih tersisa. Kini Wardha mulai menyalakan rokok nya sambil melihat wajah wanita yang ia cintai tetapi tidak mencintai dirinya. Rasa sakit nya seperti ditusuk belati yang meninggalkan kepedihan dan luka didalamnya.


" Sarwenda! Aku yakin! Suatu hari nanti kamu akan tulus memberi cintamu hanya untuk aku saja." kata Wardha pelan.


" Benarkah? Aku tunggu hari itu, dimana hanya aku dan kamu dan juga anak kita. Tapi itu hanya angan dan mimpi kamu saja, Wardha! Hentikan khayalan kosong mu itu. Aku akan menjadi istri Surya! Ingat itu baik- baik!" kata Sarwenda dengan keras.

__ADS_1


__ADS_2