Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
HUJAN- HUJANAN


__ADS_3

Di luar hujan deras mengguyur kota itu. Surya dan Niga masih dengan obrolan ringan di ruang tamu itu. Tiba-tiba seorang wanita yang berperut buncit basah kuyup di luar pagar. Penjaga rumah itu tidak mengetahui keberadaan wanita hamil yang diguyur air hujan. Terlihat rambut, pakaian nya basah. Akhirnya selang beberapa lama, penjaga rumah itu membuka gerbangnya.


" Kok hujan-hujan an sih neng?" tanya penjaga rumah milik Surya.


" Sedari tadi saya disini tidak dibukakan gerbangnya. Lalu siapa yang salah coba?" kata wanita itu penuh dengan amarah.


" Mencari siapa neng?" tanya penjaga rumah itu.


" Aku mencari Surya!" jawab wanita itu.


" Kalau boleh tahu, nama Eneng siapa, biar saya sampaikan ke Mas Surya." kata penjaga rumah itu.


" Sarwenda!" jawab Sarwenda singkat.


" Baiklah, tunggu di sini dulu yah neng. Soalnya pesan dari Non Winda. Tamu wanita selain non Galuh tidak diijinkan masuk ke rumah." cerita penjaga itu.


" Benarkah? Sial wanita itu!" umpat wanita hamil itu.


" Tapi aku ingin lihat, apakah hatimu sekeras batu, jika melihat wanita hamil dengan basah- basah seperti ini, tetap tidak memberikan ijin aku masuk." gumam Sarwenda sambil tersenyum licik.


Satpam itupun dengan berlari kecil masuk ke dalam rumah itu, menyampaikan ada tamu wanita bernama Sarwenda datang ke rumah.


Tidak berapa lama penjaga rumah itu pun menghampiri Sarwenda yang duduk di pos jaga dengan pakaian dan rambut basah kuyup karena siraman air hujan.


" Maaf neng! Neng, tidak diijinkan masuk." kata penjaga rumah itu.


" Hah? Siapa yang tidak mengijinkan aku masuk?" tanya Sarwenda dengan sorot amarah yang memuncak.


" Mas Surya!" jawab Penjaga rumah itu.


" Kalau begitu, biar aku yang masuk ke rumah itu." kata Sarwenda penuh dengan emosi.


Pintu depan rumah itu masih tertutup. Sarwenda berteriak- teriak seperti kesetanan. Niga dan Surya yang mendengar suara itu saling pandang.


" Siapa wanita itu, Surya." tanya Niga.


" Ceritanya panjang. Aku tidak ingin hubungan ku dengan istriku, Winda yang sudah membaik kembali rusak lagi gara- gara wanita itu. Bagaimana aku harus bersikap, Niga?" tanya Surya yang memandang Niga dengan serius.


" Hem baiklah, biar aku yang menyelesaikan semua nya. Aku akan mendatangi wanita itu. Bagaimana?" kata Niga.


" Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Surya.


" Bukankah kamu menghendaki supaya wanita itu cepat meninggalkan rumah ini kan?" tanya Niga.


" Iya betul!" jawab Surya singkat.


" Ya sudah! Kamu disini saja, biar aku yang membuat dia tenang." kata Niga sambil membuka pintu utama rumah itu.

__ADS_1


Niga menghampiri Sarwenda yang sengaja diguyur hujan. Harapannya, Surya bisa datang menemuinya dan iba dengannya.


" Mbak! Kemarilah duduk di teras dulu mbak. Jangan hujan- hujan an seperti itu. Nanti sakit loh." kata Niga sambil.


" Kamu siapa? Aku hanya ingin mencari Mas Surya." teriak Sarwenda.


" Waduh!" sahut Niga.


Niga kembali masuk ke dalam rumah dan mendatangi Surya.


" Kamu hebat ya,bro! Sampai ada wanita yang tergila-gila pada kamu. Sampai terobsesi seperti itu. Dukun mana yang membuat banyak wanita menyukai kamu? Aku satu saja gak dapat- dapat." sindir Niga.


" Astaga! Jangan bercanda, dong! Dia sudah pergi belum?" tanya Surya.


" Dia tidak mau pergi. Dia ingin kamu datang kepadanya." kata Niga sambil terkekeh karena melihat Surya ikut panik.


" Ya sudahlah! Merepotkan sekali." sahut Surya.


" Kamu mau kemana?" tanya Niga.


" Ambil payung!" jawab Surya lalu mengambil payung dan keluar dari pintu utama rumah itu.


Surya mendekati Sarwenda yang menangis tersedu-sedu dengan kucuran air hujan. Kini Surya memayungi Sarwenda dan mengajak nya ke teras rumah.


" Seharusnya kamu tidak melakukan hal bodoh ini, Sarwenda." kata Surya pelan.


" Ya sudahlah! Akan aku ambilkan handuk dulu!" kata Surya sambil masuk ke dalam rumah lagi.


" Bagaimana bro?" tanya Niga.


" Kamu lihat saja sendiri. Aku mau ambilkan handuk dulu untuk nya." kata Surya.


" Akhirnya kamu luluh juga yah, bro!" sindir Niga sambil terkekeh.


" Aku tidak ingin melihat anak orang gila gara- gara aku." sahut Surya yang masuk ke dalam kamar nya untuk mengambil kan handuk untuk Sarwenda.


" Untung saja istri kamu lagi keluar dengan sahabatnya." kata Niga sambil terkekeh ketika dilihatnya Surya sudah keluar dari kamar nya.


" Ada Winda pun, dia tidak akan membiarkan semua ini terjadi. Istriku wanita baik Budi." ucap Surya yang baru keluar dari kamar nya


" Oh benarkah! Wanita yang hebat dan berhati mulia." sahut Niga.


" Mungkin lebih tepatnya, wanita yang tidak bisa berbuat jahat ketika dirinya disakiti." kata Surya.


" Kenapa begitu?" tanya Niga.


" Iya begitu lah! Wanita diluar itu dengan sengaja berdrama queen untuk menarik perhatian ku. Tentu saja dia melakukan semua itu dengan sengaja. Aku gak mau ribut-ribut saja. Malu dengan tetangga." kata Surya sambil keluar mendatangi Sarwenda.

__ADS_1


" Cinta atau obsesi sih? Sampai nekad begitu?" gumam Niga pelan.


" Mungkin saja sudah terlalu mencintai Surya. Tapi aku mencintai Galuh pun, masih bisa waras. Hah." kata Niga seperti bermonolog.


" Keringkan rambut mu!" kata Surya sambil memberikan handuk itu kepada wanita hamil itu.


" Sayang! Baju aku basah!" rengek Sarwenda manja.


" Siapa suruh hujan-hujan an, hah?" ujar Surya kesal.


" Masa kamu tega membiarkan aku basah-basah seperti ini?" kata Sarwenda.


" Aku tidak mungkin memberikan baju milik Winda, istriku. Dia tidak menyukai kamu. Lagi pula, Winda tidak ada di rumah. Aku tidak bisa mengambilkan bajunya tanpa ijin darinya." kata Surya.


" Ya sudah! Pakai baju ku gimana?" tanya Surya.


" Aku lebih menyukai baju dari kamu dibanding baju milik Winda." sahut Sarwenda sinis.


" Tunggu sebentar!" kata Surya seraya masuk lagi kedalam rumah.


" Apalagi bro?" tanya Niga terkekeh.


" Ini belum tiga ya, bro! Kalau tiga atau empat pasti lebih merepotkan." sindir Niga terkekeh.


" Apanya yang tiga atau empat? Sial kamu!" sahut Surya sambil meninju lengan milik Niga yang kekar.


" Aww!" Eh istri kamu datang tuh! Mobil sudah masuk ke pekarangan." goda Niga tapi memang kenyataannya memang mobil milik Galuh sudah masuk ke pekarangan setelah penjaga rumah itu berlari dengan cepat membuka gerbang masuk rumah itu.


" Sial! Aku harus merayu berapa kalimat lagi supaya hati Winda luluh." umpat Surya.


" Hahaha! Merepotkan sekali ya bro! Ya sudah duduklah dulu. Biarkan Winda masuk ke rumah." kata Niga sambil terkekeh.


" Kamu malah menggoda aku terus Lo, bro!" ujar Surya sambil duduk di sofa itu dan tidak jadi mengambilkan baju untuk Sarwenda.


Di luar Galuh dan Winda mulai melihat dan mengambil Sarwenda. Winda hanya diam tanpa bertanya dan masuk ke dalam rumah. Berbeda dengan Galuh yang berdiri mematung mulai mengintrogasi Sarwenda.


" Kamu kecemplung di got mana?" tanya Galuh sinis.


" Bikin pemandangan tidak nyaman saja!" imbuh Galuh sadis.


" Apa urusan kamu? Aku hanya ingin menjumpai suami aku." ujar Sarwenda tidak kalah sewot.


" Suami yang mana, hah?" tanya Galuh sewot.


Sarwenda tidak menjawabnya. Sarwenda hanya diam lalu berjalan meninggalkan Galuh dan keluar dari rumah milik Winda.


" Betapa hina nya aku! Aku tidak berharga bagi Mas Surya setelah ada Winda. hiks...hiks..hiks." kata Sarwenda pelan sambil berjalan menjauh dan mendapati mobilnya diparkirkan jauh dari rumah kediaman milik Winda.

__ADS_1


Dari kejauhan, Wardha menyaksikan Sarwenda dengan tingkah nya yang menggila. Wardha tidak sampai hati melihat perjuangan Sarwenda yang begitu nekat untuk menjumpai orang yang dicintainya. Tetapi kenapa orang itu bukan dirinya. Sakit hati Wardha mulai menumpuk. Kebencian terhadap Surya semakin menggunung. Baginya Surya adalah saingan nya.


__ADS_2