Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SABAR MENANTI


__ADS_3


Jika kamu bertanya padaku, seberapa besar rindu ini padamu. Rindu ini tidak bisa aku ukur, terlalu dalam sedalam lautan luas membentang itu. Jika kamu bertanya padaku, apakah aku tulus mencintaimu. Jawabanku, aku tidak pernah seserius ini mengenai rasaku dengan mu. Jadi tidak perlu kau meragukan lagi dan memunculkan banyak tanya padaku. Itu akan membuat risau hatiku dan hatimu.


" Sejak kapan, Bang Hendra menyukai hobby mancing ini?" tanya Winda kepada Hendra ketika di pagi itu, Bang Hendra mengajak Winda untuk menemaninya mancing di sebuah tempat pemancingan.


" Sejak aku mulai sabar menanti jawaban atas perasaan ku." jawab Bang Hendra sambil melirik ke Winda yang duduk disebelah nya.


" Memangnya Bang Hendra menantikan jawaban kepada siapa?" tanya Winda lagi sambil melihat Bang Hendra yang terlihat fokus dengan alat pancing nya.


" Sama kamu!" jawab Bang Hendra tegas sambil tersenyum ke arah Winda.


" Memangnya Bang Hendra pernah bertanya dengan ku mengenai hal ini?" tanya Winda sambil mendelik.


" Hahaha! Winda! Aku tahu, kamu pasti pura-pura tidak tahu dan tidak mau tau bukan? Mungkin saja, kamu masih belum siap untuk membuka hatimu kepada pria manapun semenjak kepergian suami kamu. Yang pasti, aku akan sabar menunggu sampai kamu siap menerima aku dan berkomitmen bersama." kata Bang Hendra dengan serius.


" Eh bang tali nya bergerak- gerak!" teriak Winda seolah mengalihkan pembicaraan.


Bang Hendra langsung menarik tali pancingan nya dan benar adanya ada ikan yang didapat di pancing itu. Bang Hendra tertawa senang mendapatkan ikan yang cukup besar.


" Hahaha! Dapat kan ikannya?" ucap Bang Hendra senang sambil menatap Winda yang juga ikut senang melihat Bang Hendra mendapatkan ikan.


" Kamu tidak risih kan, jika aku selalu memberi perhatian kepada kamu, Win?" tanya Bang Hendra.


" Tidak! Terimakasih banyak atas perhatian Abang!" jawab Winda dengan senyuman nya.


" Kamu kalau lapar, pesan saja di warung itu! Biasanya ada mie goreng, mie rebus juga." kata Bang Hendra.


" Saya mau kopi saja. Abang mau saya pesankan?" ucap Winda.


" Boleh, kopi hitam saja! Oh iya Win, minta tolong rokok Sampoerna saya habis. Sekalian juga yah!" ucap Bang Hendra sambil melirik ke Winda.

__ADS_1


" Baiklah! Saya ke warung itu dulu, Bang!" pamit Winda sambil berdiri meninggalkan Bang Hendra yang fokus dengan memancingnya.


" Kamu selalu berusaha bersikap manis dan bersahabat. Entahlah! Tidakkah kamu memiliki perasaan yang samalah dengan aku, Win! Selagi aku masih bisa bersama kamu, itu sudah cukup membuatku bahagia." kata Bang Hendra pelan.


*******


Di rumah Sarwenda.


Sarwenda masih terlihat sibuk menjadi ibu baru, ditambah dirinya akan segera melangsungkan pernikahan dengan Wardha. Wardha masih terlihat setia mendampingi Sarwenda dengan segala aktivitas nya sebagai ibu muda. Walaupun ada asisten rumah tangga dan pengasuh bayi nya, Sarwenda juga mulai belajar merawat bayi mungilnya yang cantik.


" Wajah anak kita, mirip kamu Wardha!" kata Sarwenda sambil membandingkan wajah bayi mungil itu dengan muka Wardha. Wardha yang dibandingkan seperti itu mulai mendekati bayi mungil yang masih memejamkan matanya itu.


" Apa benar? Coba foto kan untukku, Sayang!" suruh Wardha.


" Hahaha! Benar- benar mirip! Lihatlah!" kata Sarwenda setelah mengambil gambar Wardha yang sedang tiduran dekat bayi mungil perempuan itu dengan ponselnya dan memperlihatkan nya pada Wardha.


" Hehehe! Iya mirip ayah ya nak! Tapi kamu tetap cantik kok nak, walaupun mirip ayah." ucap Wardha sambil menciumi anak bayi mungil yang tidur itu.


" Loh, anakku ini juga cantik loh sayang!" kata Sarwenda.


" Iyalah anak siapa dong!" sahut Wardha.


" Sayang! Apakah ada yang kurang untuk persiapan acara pernikahan kita?" tanya Sarwenda kepada Wardha.


" Semuanya sudah beres, sayang!" jawab Wardha.


" Kamu tenang saja, sayang! Papi dan Mami sudah mengatur semuanya. Kita tinggal duduk manis di pelaminan. Kita akan menjadi ratu dan raja semalam, sayang." tambah Wardha.


" Terimakasih, sayang! Aku sangat bahagia." sahut Sarwenda.


" Oh iya, besok lusa ayah dan mamak ku akan datang." cerita Wardha.

__ADS_1


" Ya sudah! Tinggal di rumah ini saja. Rumah kamu kan jauh dari sini. Kita biar lebih akrab saling mengenal satu dengan yang lain." kata Sarwenda.


" Baiklah kalau itu mau kamu, sayang!" sahut Wardha.


*******


Niga dalam kegundahan.


" Aku masih belum bisa menepis bayangan kamu, Galuh! Tolong bantu aku! Rindu ini sangat menyiksaku. Apalagi kamu enggan berbicara dengan aku tatkala perjumpaan itu terjadi." gumam Niga yang gelisah dalam pembaringan nya.


" Ayah!" teriak seorang gadis yang memanggil dari balik pintu kamar.


Niga langsung bangkit dari rebahan nya dan membukakan pintu kamarnya.


" Ada apa anakku sayang?" tanya Niga kepada anak gadis nya yang masih duduk di bangku SMP.


" Ayah! Rosa boleh tidur dengan ayah disini tidak?" tanya Rosa sambil merengek manja.


" Ya sudah! Masuklah sayang!" jawab Niga sambil memeluk manja anak sematang wayangnya.


" Ayah! Rosa mimpi buruk, jadi takut tidur sendirian di kamar." cerita Rosa.


"Mimpi apaan sih, anak gadis ayah kok sekarang jadi penakut sih?" tanya Niga penuh kelembutan.


" Tidak bisa Rosa ceritain! Ini benar-benar menakutkan!" jawab Rosa sambil memeluk guling nya.


" Ya sudahlah bobok! Ayah akan menjaga kamu!" ucap Niga sambil membelai lembut rambut anak gadisnya.


Rosa mulai memejamkan matanya. Mungkin lebih tepatnya dipaksakan memejamkan matanya supaya kembali tertidur. Niga dengan penuh kasih sayang menemani Rosa dan membelai rambut panjang milik Rosa.


" Maafkan ayah, nak! Kalau saja ayah masih sanggup bertahan dengan mama kamu, mungkin saja kita masih memiliki keluarga yang utuh. Dan kamu akan lebih banyak punya perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tua kamu." batin Niga sambil menatap langit-langit di dalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2