Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
NIKAH AGAMA


__ADS_3

Sarwenda berbunga-bunga.



Hatiku sudah terpaut namamu. Bayanganmu selalu menari - nari di pelupuk mataku. Menguasai diri dan jantung ku. Berdetak hebat ketika ku sebut lirih namamu. Wahai Surya ku! Sinar mu menghangatkan jiwa ku yang dingin. Cahaya mu menyengat raga ku dalam kebekuan.


Mendekat lah dalam penjara cintaku. Jangan pernah menjauh dari mata indah ku. Merapatkan kasih sayang bersamaku. Berjalan bersama menuju payung teduh istana cinta kita. Meraih harapan bersama-sama dengan ku. Jangan pernah ragu, kalau aku bisa membahagiakan kamu. Membuat senyuman terindah di bibir mu. Menciptakan dunia mu lebih berwarna dengan aku. Surya ku! Aku selalu mendambakan mu.


" Mas! Ini kopi hitam buatan aku loh! Coba di cicipi. Apakah ada yang kurang mas?" ucap Sarwenda kepada Surya yang sedang duduk santai di rumah Sarwenda.


Di sore hari itu, setelah pulang kantor. Surya pulang bersama Sarwenda menuju rumah pribadi Sarwenda. Mereka sudah menikah siri pagi tadi.


Sarwenda sudah menjadi istri sah Surya secara agama. Surya sudah memantapkan hatinya menikahi Sarwenda berawal dari kekhilafan yang membawa kenikmatan.

__ADS_1


Surya mulai menyeruput kopi hitam buatan Sarwenda. Tatapannya masih jauh ke depan. Menatap pohon Kamboja dengan bunga putih kekuningan. Baunya mulai menyengat hidung. Menusuk otak syaraf ketika menghirup nya.


Surya menyalakan batang rokoknya lalu menghisap nya pelan - pelan. Tarikan rokok nya sangat dalam. Keputusan menikahi Sarwenda sudah mentok di otaknya. Surya tidak menginginkan, Sarwenda merusak hubungan nya dengan Winda, istrinya. Tetapi sepandai-pandainya menyimpan suatu, sampai tahan berapa lama?


" Mas! Bagaimana kopi nya? Ada yang kurang tidak?" tanya Sarwenda lagi sambil menatap wajah Surya yang masih melihat bunga - bunga Kamboja yang banyak bermekaran.


" Mas!" tambah nya lagi.


" Oh iya, Sarwenda! Sudah pas! Ini lebih nikmat di banding yang kemarin kamu buat." jawab Surya pelan sambil menghisap batang rokok yang menyala itu.


" Oh iya, Mas! Ada lapis legit loh. Biar aku ambilkan yah Mas!" kata Sarwenda sambil bangkit dari kursi kayu panjang yang terletak di bawah pohon mangga dengan meja kayu panjangnya.


Surya hanya diam dan tersenyum menatap reaksi dan perhatian Sarwenda. Surya masih beradaptasi dengan situasi sekarang ini. Status nya sudah berubah dengan Sarwenda. Kini Surya sudah menjadi suami Sarwenda. Mampu kah dia bisa berlaku adil dengan kedua istrinya sekarang ini. Terutama sampai kapan, rahasia ini bisa tertutupi.

__ADS_1


Kedua orang tua, Surya tidak mengetahui bahwasanya Surya menikahi Sarwenda secara agama. Tidak ada yang mengetahui jika mereka sudah menikah siri kecuali kawan dekatnya Surya yang bernama Ika. Hanya Ika lah yang mengetahui dirinya menikahi Sarwenda beserta alasannya.


" Ini mas, lapis legit nya!" kata Sarwenda yang tiba - tiba datang dengan membawa piring yang berisi lapis legit.


Surya sempat buyar lamunannya. Di tatapnya Sarwenda yang begitu manis dengan perhatian nya. Apakah mungkin, Sarwenda bisa Legawa ketika Surya kembali pulang ke rumah Winda. Demikian juga nantinya, ketika Winda tahu kalau dirinya sudah memiliki istri lagi yaitu Sarwenda.


" Mas! Apakah Minggu ini kita bisa liburan dan honeymoon mas?" kata Sarwenda sambil menyentuh telapak tangan kanan milik Surya.


" Oh! Kemana?" tanya Surya.


" Kemana aja deh! Kita bisa berangkat di Jumat malam nya dan kembali di hari Minggu malam nya." kata Sarwenda mengatur jadwal.


" Mau kemana?" tanya Surya lagi.

__ADS_1


" Bagaimana kalau di Bali saja, Mas!" sahut Sarwenda.


" Terserah saja. Kamu bisa atur semua nya." ucap Surya akhirnya sambil menarik nafas dalam-dalam sambil menghisap batang rokok nya.


__ADS_2