
Pagi cerah dengan udara segar. Embun masih menetes dari ujung-ujung dedaunan. Mentari pagi mulai mengintip dibalik awan yang cerah. Sinarnya menerobos ke celah-celah kecil rumah kayu itu. Rumah Milik Winda yang kini tiada lagi sosok Surya sebagai pelindung dari keluarga itu. Sekarang keadaan sudah lain. Sekarang kondisinya sudah berubah. Winda kini menjadi wanita, yang mau tidak mau harus bisa berdiri kokoh tanpa pria yang melindungi diri dan anaknya. Mungkin saja ini hanya sementara. Mungkin saja selama nya, Winda akan mempertahankan kesendirian nya menjadi janda karena ditinggal meninggal suaminya, Surya. Wanita terkadang ingin hidup sendiri, mempertahankan kesetiaan nya walaupun sudah ditinggal pergi atau meninggal suaminya. Ada ketidakpercayaan diri muncul ketika menyandang status janda itu. Tetapi ada kegilaan itu datang ketika kesepian dari menjadi status itu. Semua akan kembali kepada pribadi masing-masing. Bukankah setiap diri manusia menginginkan dan berhak untuk bahagia. Waktu di dunia hanyalah sementara. Kebahagiaan itu sendiri hanya kita yang menciptakan nya. So, jangan lupa bahagia. Ingatlah! Jangan sampai lupa bernafas. Jika lupa, dunia lain akan menghantarkan kamu menjadi penghuni baru di sana. Sampai disini paham tidak?😂🙏😍😘😘.
" Kamu ke rumah mama saja, Winda! Jangan terburu-buru kembali ke rumah mu. Takutnya kamu akan berlarut-larut dalam kesedihan karena meninggalnya suami kamu. Di rumah itu, kamu jadi teringat kenangan ketika kebersamaan dengan Surya. Ini akan menjadi kamu semakin sedih, Winda."kata Bu Hartini sewaktu Winda pamitan untuk kembali pulang ke rumahnya.
" Jangan mengkhawatirkan aku, ma. Aku akan baik-baik saja. Seiring berjalannya waktu aku akan mulai terbiasa dengan keadaan ini. Akan mulai terbiasa tanpa adanya Surya di sisiku." sahut Winda kala itu.
" Ya sudahlah, kalau itu sudah menjadi keinginan kamu. Mama akan lebih sering datang mengunjungi kamu di sana." ucap Bu Hartini akhirnya saat itu.
Kini Winda lagi berada di pekarangan rumah nya. Saat ini terlihat fokus merawat beberapa tanaman yang sudah terlihat subur di pot. Tidak jauh dari dirinya, Wisnu bersama Intan di gendongan nya.
" Besok lusa kita mulai bersama- sama mengelola perusahaan milik keluarga kita, Mbak. Aku yakin, Mbak Winda akan cepat memahami dan menguasai perusahaan bidang Konstruksi ini. Aku akan membantu dan mengarahkan Mbak Winda dalam hal ini. Papa untuk sementara waktu akan mengambil alih semuanya dari kepemimpinan Mas Surya. Setelah dirasa mampu, kita lah yang akan menjadi memegang peranan penting itu. Mbak Winda mau, bukan?" kata Intan serius.
" Apakah aku bisa, Intan?" tanya Winda ragu- ragu terhadap kemampuan dirinya.
" Saat ini yang terpenting adalah kemauan. Mbk Winda kalau ada tekad dan kemauan yang keras, akan lebih mudah memahami dan membaca semua jalannya bisnis bidang konstruksi ini. Kemauan untuk belajar dan semangat untuk maju akan menyingkirkan yang malas." ucap Intan.
" Baiklah!" sahut Winda sambil tersenyum.
" Kelak ketika Wisnu besar nanti, dialah yang akan meneruskan perusahaan ini. Semoga Wisnu mewarisi sifat yang baik-baik papa nya." kata Intan sambil nyengir.
Winda menghela nafasnya. Baginya Surya sudah tidak ada celah salah lagi. Dimata nya Surya masih sosok suami yang sempurna, sayang terhadap istri dan anaknya. Bertanggung jawab terhadap keluarga nya dan menghormati kedua orangtuanya.
" Maaf! Aku hanya masih kecewa dengan Mas Surya ketika ingat dengan hadirnya Sarwenda ditengah-tengah keluarga kita." sahut Winda.
__ADS_1
" Tidak apa-apa. Bagi seorang laki-laki, mungkin kesetiaan itu adalah tersulit bagi dirinya. Karena pilihan dan ideologi nya lah yang terkadang menahan keinginan nya untuk menggila dengan wanita- wanita lain diluar sana." kata Winda sambil tersenyum kecut.
" Apalagi ketika seorang laki-laki sudah mapan, punya banyak harta, pasti selalu didekati oleh banyak wanita. Ibarat gula yang manis ingin banyak semut yang mencarinya.
" Hah??" Intan menarik nafasnya.
" Tapi bukan tidak ada laki-laki yang tidak setia, loh!" ujar Winda.
" Hooh.. Aku ingin mencari pria yang setia itu." sahut Intan.
" Setia saja juga tidak cukup, Intan. Pengertian dan memahami kita juga yang terpenting. Memahami kita untuk shopping dan kebutuhan wanita lainnya, yah kan?" kata Winda.
" Hahaha. Tentu saja!" sahut Intan.
" Jadi selama Mbak Winda bekerja, Mas Surya tetap memberikan nafkahnya?" tanya Intan.
" Tentu saja. Tiap bulan sudah pasti masuk ke rekening pribadi, Mbak. Ketika Mbak sudah menghasilkan uang sendiri, Mbak bisa membantu keluarga mbak juga. Dalam hal ini juga jangan lupa, Intan. Ada nafkah yang lebih penting lagi dalam rumah tangga itu yaitu nafkah batin." kata Winda.
" Hahaha, kalau itu aku sudah tahu." sahut Intan terkekeh.
" Karena kesibukan bekerja jadi lupa akan kewajiban memberikan nafkah batin ini. Tapi mbak rasa, dalam hal ini suami tidak akan lupa kalau untuk urusan itu. Hehe." kata Winda.
" Tentu saja! Yang pura-pura lupa itu transfer bulanan ke rekening pribadi istri. Itu Wardha banget. Karena dia sudah tahu betul, aku masih dapat jatah bulanan dari pendapatan perusahaan, Mas Wardha jadi tidak memberikan aku sepeserpun dari penghasilan dia ketika bekerja. Miris bukan?" kata Intan dengan nada getir.
__ADS_1
" Sebenarnya aku tidak menginginkan lebih atau banyak. Berapa pun itu aku juga tidak akan menuntut. Aku hanya ingin ada sedikit perhatian dalam hal itu dari suami aku. Apakah ini terlalu egois? Tidak bukan?" kata Intan lagi.
" Entahlah, terkadang ini menjadi rumit ketika istri memiliki pendapatan atau penghasilan yang lebih tinggi daripada suaminya." sahut Winda.
" Cuma saja, ketika aku berumahtangga dengan Mas Surya setiap bulan selalu memperhatikan dalam ini. Setiap bulan ada uang masuk dari rekening Mas Surya untuk aku sampai aku bekerja pun masih tetap memberikan nafkahnya terhadap ku." cerita Winda.
" Oh ho! Mas Surya keren. Ternyata penuh tanggungjawab juga yah." sahut Intan.
" Menurut kamu, salah tidak sih jika seorang istri menolak ajakan suami untuk gituan?" tanya Intan.
" Salah banget! Makanya semua perlu adanya komunikasi dan saling pengertian satu sama yang lain. Supaya keduanya sama-sama ridlo dan ikhlas jika, salah satunya lagi belum ada kemauan untuk melakukan hubungan itu." Jawab Winda.
" Jadi tidak boleh menolaknya?" tanya Intan lagi.
" Iya! Tetapi kita bisa membicarakan bersama supaya suami kita memahami kondisi kita. Agar suami ridlo dan tidak marah dengan sang istri. Dosa loh kalau suami minta tapi istri tidak mau memberi. Haha. Intan! Di ajak enak kok, masak tidak mau sih? Semua harus dilandasi oleh ikhlas dan ridlo diantara keduanya sehingga nikmat melakukan hal itu akan tercapai. Hahaha." kata Winda.
" Hahaha asyemmm! Jadi kepingin aku." sahut Intan.
" Kepingin apa hayo?" tanya Winda kepo.
" Kepingin bakso beranak, Mbak!" jawab Intan bersemu merah.
" Hahaha. Ayolah kita cari." ajak Winda sambil masuk ke dalam rumah mengambil dompet nya.
__ADS_1
" Bahagia nya, lihat Mbak Winda bisa tersenyum dan tertawa. Terlepas masih ada semburat kesedihan dan kehilangan disana. Aku semakin menyayangi Mbak ipar ku ini. Mas Surya, aku akan menjaga istri dan anakmu, Wisnu." gumam Intan sambil menatap punggung milik Winda.