
Malam ini bermandi lah dengan cahaya bulan. Kehangatan nya mampu mengantarkan ketenangan dalam jiwamu yang resah. Keresahan karena sang kekasih dalam kebekuan batu es. Semua seketika akan hancur ketika rindu tak bisa terbendung. Kapak rindu itu akan menghancurkan kebekuan dari ke gengsian itu. Mengapa harus tahan memendam rasa jika hati limbung karena resah. Mengapa bertahan dalam diam jika cinta sudah membutakan jiwa. Tidak enak makan. Tidak enak tidur. Mata terpejam tetapi pikiran melayang terbang ke bayangan yang menggoda. Hatiku dan hatimu masih dalam kebekuan. Siapa yang mau kalah atau mengalah jika satu dalam diam seribu bahasa di jiwa.
" Kenapa tidak diangkat telepon dari Bang Hendra, Mbak?" tanya Intan yang baru datang dan berkunjung di rumah Winda.
Setelah hadirnya Andrie dalam hati dan kehidupan Intan. Intan kembali ke rumah kediaman Hartono. Intan sudah tidak tinggal di rumah Winda. Bagi pandangannya, kakak iparnya itu sudah cukup kuat dan berani tinggal di rumah sebesar itu setelah hubungan nya dengan Bang Hendra semakin serius ke tahap menuju pernikahan. Rumah kayu yang dihuni oleh Winda, Wisnu, asisten rumah tangga, dan pengasuh Wisnu serta ditambah lagi satpam sudah cukup ramai mengisi kediaman Winda. Intan berpikir, kakak iparnya itu sudah tidak lagi dalam masa kesepian karena ditinggal oleh Surya, kakak kandung nya.
" Eh? Eh tidak penting!" sahut Winda yang hanya melirik ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Winda sibuk makan camilan yang dibawa oleh Intan. Sedangkan Intan geli melihat sikap dari Winda yang berusaha menutupi kegalauan nya.
" Lagi marahan dengan Bang Hendra, Mbak?" goda Intan sambil terkekeh.
" Tidak.. tidak! Laki-laki itu harus dibikin penasaran dan sedikit khawatir saja. Sesekali jangan buru- buru kita angkat jika dia telepon." kata Winda dengan senyum nyengir.
" Oh begitu? Sepertinya aku harus banyak belajar dari mbak Winda deh... hehehe." sahut Intan sambil terkekeh.
" Eh?? Yang buruk dari aku janganlah kau ikuti, Intan!" kata Winda sambil memandang wajah Intan yang serius dengan kata-kata yang baru saja dilontarkannya.
" Loh? Bukannya tadi mbak Winda bilang, laki-laki sesekali harus dibikin penasaran dan khawatir?" ujar Intan sambil nyengir.
" Eh? Ehm.. iya.. iya tapi jangan sering! Itu akan bikin laki-laki sebel dan bosan dengan sikap kita yang terkesan kurang perhatian atau cuek itu." sahut Winda sambil mengunyah camilan nya.
" Suka dengan camilan yang aku bawa yah, mbak? Mbak Winda jadi suka ngemil sekarang."goda Intan.
" Suka sekali! Beli dimana kamu?" tanya Winda serius.
" Beli di apotek, mbak! Yah beli di supermarket dong, mbak! Hehehe." canda Intan.
" Lain kali bawa yang banyak yah!" kata Winda menimpali.
" Hahaha! Baiklah! Pasti akan aku belikan lebih banyak, mbak." kata Intan serius.
__ADS_1
( Camilan apaan sih, hingga Winda sampai tidak berhenti mengunyah, sampai camilan itu habis tak bersisa? jawaban nya boleh di kolom komentar yah! Hehehe)
" Seperti halnya kita bermain layangan. Kita memegang tali layangan dan kita kendalikan jangan sampai terjatuh layang- layang yang terbang di angkasa itu. Sesekali kita tarik dan kita ulur supaya Layang- layang itu bebas terbang. Tetapi tetap kita awasi dari jauh dan kita kendalikan supaya jangan sampai terputus tali yang mengikat dengan layangan itu." kata Winda.
Intan hanya diam dan melihat ke Winda dengan tatapan serius.
" Tetapi, mbak Winda tidak sedang marahan dengan Bang Hendra bukan?" tuduh Intan dengan mata tajam.
" Tidak! Tidak! Kami baik- baik saja kok!" sahut Winda dengan mata membulat.
" Intan! Kamu mau sate kambing atau gulai kambing?" tanya Winda sambil berdiri dari tempat duduknya.
" Aku mau minta tolong pak satpam untuk membelikan makan malam." tambah Winda.
" Dua- dua nya, mbak!" jawab Intan.
" Baiklah!" sahut Winda sambil tersenyum.
Intan menatap punggung milik Winda yang berjalan meninggalkan ruangan itu sampai masuk kedalam kamarnya untuk mengambil uang.
" Kakak ipar ku ini terlalu pandai berpura-pura. Gengsi nya besar juga. Hehehe." kata Intan pelan.
*******
Suara musik lagu yang dinyanyikan Judika dengan judul ' Karena Wanita Ingin Di mengerti' serta getaran di ponsel milik Winda terdengar nyaring memenuhi ruangan tengah itu. Winda baru saja masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil dompetnya. Cukup lama Winda belum keluar dari kamarnya, mungkin saja ke kamar kecil terlebih dahulu. Intan yang melihat ponselnya Winda berbunyi terus di atas meja, mulai tergelitik untuk mengangkatnya. Tanpa sidik jari atau pin, ponsel Winda dengan mudah bisa dibuka siapa saja. Intan dengan cepat mengangkat panggilan masuk di ponsel itu.
Suara pria yang cukup dikenalnya langsung menyapa ketika panggilan masuk itu diangkat oleh Intan.
" Halo, my queen! Kamu masih marah? Aku sudah di depan rumah kamu nih." suara pria dalam sambung an telepon itu.
Intan hanya terdiam lalu menutup kembali ponsel itu.
" Jadi, mereka lagi berantem? Baik lah, aku akan menyuruh masuk Bang Hendra dulu." kata Intan pelan lalu melangkah keluar dari ruang tengah itu menuju pintu utama.
__ADS_1
Di luar sudah ada mobil putih Pajero terparkir di depan pagar. Intan segera mendekati satpam rumah Winda dan menyuruhnya membuka kan pintu pagar supaya mobil milik Hendra bisa masuk dan diparkir kan di dalam.
Intan masih berdiri menunggu sampai Hendra masuk dan keluar dari mobilnya. Intan duduk di teras menanti sampai laki-laki yang berperawakan tinggi besar itu melangkah mendekati Intan di teras. Dengan penampilan santai, Hendra berjalan santai mendekati Intan. Wajahnya sedikit menegang. Mungkin saja masih ada kekhawatiran jikalau Winda masih bersikap tidak manis pada dirinya.
" Kakak ipar ku ini, selalu beruntung mendapatkan pria yang nyaris sempurna. Pria dengan badan atletis, kepribadian yang cukup matang, wanita mana yang tidak ingin bersama nya?" pikir Intan sambil menilai dan mengamati Hendra yang sudah mulai dekat ke teras.
" Assalamu'alaikum!" salam Hendra dengan ramah.
" Wa alaikum salam! Duduk dulu Bang! Mbak Winda masih di kamar." kata Intan lalu mulai bangkit berdiri dari duduk nya.
" Kopi atau teh?" tanya Intan ramah.
" Air putih saja!" jawab Hendra sedikit gugup karena Winda belum terlihat dan menjumpai dirinya. Matanya mulai liar mencoba melihat ke dalam tetapi belum terlihat bayangan milik Winda.
" Baiklah Bang! Tunggu sebentar yah!" kata Intan lalu masuk kedalam.
" Siapa yang datang?" tanya Winda sambil membawa dompet kecilnya.
" Bang Hendra!" jawab Intan sedikit menahan senyum.
" Oh!" ucap Winda sambil menarik nafasnya pelan.
" Mbak, saya ambilkan air putih untuk, Bang Hendra dulu yah." kata Intan yang dengan cepat melangkah meninggalkan Winda.
" Eh?" gumam Winda yang mulai bimbang.
Cukup lama Winda malah bengong dan akhirnya duduk saja di ruang tengah tanpa menemui Hendra. Matanya sesekali mengintip Hendra yang menunggunya di teras. Ketika sedang mengintip, Intan datang membawa segelas air putih.
" Mbak! Ngintip siapa mbak?" kata Intan yang membuat Winda sedikit terkejut.
" Eh astagfirullah! Eh anu.. anu gak ada kok." kata Winda gugup.
" Ini! Mbak Winda saja yang antar minuman ini dan sekaligus menemui Bang Hendra." kata Intan sambil menyodorkan gelas yang berisi air putih di tangannya kepada Winda. Senyum puas terpancar dari wajah Intan. Winda hanya diam berdiri mematung. Ia masih ragu untuk keluar menjumpai Hendra sedangkan Intan dengan santainya meninggalkan dirinya berjalan ke kamar Wisnu.
__ADS_1
" My king!" gumam Winda dan akhirnya berjalan pelan keluar menjumpai Hendra, my king.