Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
STATUSNYA MASIH SAMA


__ADS_3

Akhir dari semua ini adalah penentuan dari langkah yang akan ditempuh. Mungkin masih ada bimbang dalam menentukan pilihan. Yang pasti hatiku masih terpaut nama itu. Lalu aku dan kamu masih tetap diam membisu dan sama-sama menunggu akan gerak usahamu untuk meraih semua itu.


" Winda!" kata Hendra dengan pelan untuk memulai bicara dengan Winda.


" Iya!" sahut Winda singkat.


Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu dengan suasana yang terlihat formal. Karena jarak diantara keduanya sama-sama jauh, Winda duduk di sebelah kanan Hendra.


Saat ini banyak keheningan diantara mereka di ruangan itu. Siang itu di hari minggu suasana rumah itu masih sepi. Wisnu dari hari sabtu pagi sudah di jemput kakek Hartono dan menginap di rumah kediaman Pak Hartono. Winda sendiri di rumah itu ditemani oleh beberapa asistennya. Hendra terlihat bingung akan sikap diam dan kekakuan dari Winda. Mereka kembali terlihat canggung seperti sudah sangat jauh jarak diantara mereka.


" Winda! Bolehkah aku menyayangimu kembali?" tanya Hendra pelan.


Winda yang mendengar Hendra berkata demikian hanya menatap ke arah Hendra dengan melongo saja. Seolah hati Winda sudah mati rasa dengan siapapun pria yang hendak mendekati dirinya. Bukan hanya Hendra yang datang kembali ingin mendekati Winda. Namun ada beberapa pria dari relasi atau klien nya pun juga berusaha mencari perhatian Winda dengan segala modus. Tetapi untuk saat ini hanya Haidar yang masih sering jalan dengan Winda. Herika pun sudah mulai angkat tangan dan menyerah akan sikap cuek Winda. Walaupun terkadang masih mengajak jalan keluar bersama Wisnu walaupun sekedar bermain.


" Apakah tidak ada sedikitpun rasa sayang itu terhadap aku, Winda? Aku mohon, terima aku kembali. Dan menikahlah dengan aku, Winda." ucap Hendra kembali memohon.


" Winda!" sebut Hendra dengan nekat meraih pergelangan tangan milik Winda setelah Hendra mendekati Winda di tempat duduknya.

__ADS_1


Winda dengan paksa menarik tangannya itu yang digenggam terlalu kuat oleh Hendra. Namun sekuat apapun tenaganya untuk berusaha melepaskan nya namun Hendra dengan kuat menahannya.


" Abang! Tolong lepaskan tangan ini." ucap Winda memohon.


" Tidak! Aku harus menunggu jawaban dari kamu, Winda. Tolonglah Winda. Menikah lah dengan aku. Aku mohon!" kata Hendra langsung turun dari kursinya dan ke bawah seolah bersimpuh di kaki Winda.


" Eh?? Astaghfirullah! Jangan begini abang! Ayo duduklah di atas." suruh Winda yang panik dan tidak ingin melihat Hendra sampai merendahkan diri seperti itu terhadap dirinya.


" Tidak mau! Aku mau kita seperti dulu. Aku ingin kita kembali bersama dan menikah secepatnya. Sayang! My queen! Sayangku, kekasihku." kata Hendra yang terdengar lebay namun itu nyata- nyata dari hati kecilnya yang sudah letih menanti dan rindu untuk bisa bersama kembali dengan Winda. Keangkuhan nya sudah runtuh dan keegoisan juga gengsinya hilang dan memudar ketika sudah didepan Winda.


" Tolonglah Winda!" pinta Hendra kembali.


" Tapi... tapi aku sungguh- sungguh minta maaf, bang! Aku sudah tidak bisa kembali lagi dengan kamu, bang." ucap Winda akhirnya.


" Lalu kenapa? Apakah ada yang lain?" tanya Hendra penuh selidik.


Winda terdiam dan tidak menjawabnya. Hal itu semakin menimbulkan tanya lagi pada diri Hendra.

__ADS_1


" Kalaupun kamu sudah ada yang lain. Aku terpaksa harus merelakan kamu bahagia dengan pilihan kamu." kata Hendra sambil melepaskan genggaman tangannya Winda.


" Tidak ada! Tidak ada!" sahut Winda pelan.


" Lalu kenapa aku tidak diberi kesempatan untuk kembali lagi dengan kamu, Winda? Apakah secepat itu kamu melupakan kebersamaan kita selama ini?" tanya Hendra lagi.


" Tidak! Tidak! Jangan lagi diungkit lagi masa lalu itu, bang! Aku ingin melangkah dengan kaki yang ringan tanpa beban."ucap Winda.


" Apakah aku sekarang sudah menjadi masa lalu kamu, sayang? Apakah aku membebani langkah kamu?" kata Hendra tak terasa kedua matanya menjadi berkaca.


" Kalau begitu maafkan aku!" ucap Hendra akhirnya.


" Abang! Aku... aku...minta maaf! Aku masih sangat nyaman tanpa hubungan itu. Aku bisa lebih fokus dengan kerjaan, bisa produktif menyalurkan hobi aku. Dan aku masih menikmati semuanya itu sendiri." kata Winda beralasan.


" Apakah benar-benar kamu sendiri? Kalau begitu terimalah aku kembali sebagai teman kamu." kata Hendra memohon.


Sesaat Winda hanya diam dan kembali menatap Hendra. Ada rasa sedih dan kasihan. Namun Winda pun belum bisa memutuskan akan perihal perasaan nya saat ini. Sekarang ini yang pasti dirinya masih ingin sendiri. Sendiri dalam arti tidak ingin mencoba membuka hatinya untuk hubungan dengan lawan jenis yang lebih dari teman atau sahabat. Entah sampai kapan status jandanya itu bertahan.

__ADS_1


__ADS_2