
Jelita duduk di ruang makan. Jelita berangsur-angsur sudah mulai bisa berjalan dengan lancar. Walaupun terkadang masih memakai kursi rodanya jika Jelita merasa letih. Om Pras saat ini sedang bersama mamanya, Jumila di kamarnya. Akhir- akhir ini Om Pras, suami dari Jumila itu lebih sering menginap di rumah itu. Jelita merasa tidak nyaman dan ada sedikit kekhawatiran. Namun karena mama nya ada di rumah itu juga, Jelita sedikit tenang dan tidak terlalu takut jika om Pras bertindak aneh terhadap dirinya.
Nyonya Jumila beserta om Pras berjalan dengan bergandengan mesra mendekati ruang makan itu. Dimana Jelita sudah duduk sedari di sana seorang diri. Jelita mulai berdiri dan beralih ke kursi roda nya.
" Mau kemana, Jelita? Mama dan juga om Pras baru juga mau duduk di sini menemani kamu. Kamu malah mau pergi." protes Nyonya Jumila.
" Maaf ma! Sudah ngantuk aku. Aku mau ke kamar dulu." sahut Jelita dan tetap cuek dengan kedatangan mereka yang menunjukkan kemesraan nya itu. Pras jadi tersenyum sinis melihat Jelita. Jelita cuek saja tidak ambil pusing.
" Kamu mau makan mas?" tanya Jumila menawarkan ke Pras sambil membuka tudung saji di meja makan itu. Pras melihat menu masakan di atas meja makan itu. Pras kurang berselera.
" Aku mau delivery aja deh." kata Pras sambil membuka layar di ponsel nya.
" Kamu mau sesuatu gak, sayang?" tawar Pras. Jumila tersenyum saja.
" Tidak! Kamu pesan saja sendiri. Aku ingin makan makanan ini aja." sahut Jumila sambil mengambil hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan itu.
" Aku pesankan tiga porsi saja. Mana tahu kalian nanti juga kepingan dari makanan yang aku pesan." kata Pras.
*******
Pras menuangkan botol wine itu ke gelas kecil lalu menenggak nya. Pras kali ini minum terlalu banyak dan juga Jumila ikut serta meminumnya.
Mereka menikmati malam panjang di dalam kamar utama pribadi itu sambil melihat tayangan film romantis. Jumila begitu menikmati alur cerita dalam film itu di dalam kamarnya. Sedangkan Pras malah sibuk dengan minuman dan cemilan yang ada di atas meja itu. Jumila benar-benar fokus dengan cerita di film itu. Pras menuangkan kembali minuman beralkohol itu lalu sedikit memberikan obat ke dalam minuman itu. Lalu memberikan nya kepada Jumila. Jumila cuek dan fokus menatap TV plat yang menempel di dinding kamar itu. Jumila meminumnya langsung habis. Pras tersenyum melihat Jumila menghabiskan minuman wine itu.
" Bagus ceritanya yah, sayang!" ucap Pras lalu mulai nakal menciumi Jumila. Jumila diam namun tetap menatap ke layar televisi itu.
__ADS_1
"Kamu minta lagi?" tanya Jumila. Pras tersenyum sambil tetap membuka lingerie yang dikenakan oleh Jumila. Jumila mulai menggeliat tatkala Pras sudah liar bermain di bagian-bagian sensitif nya. Jumila mulai menuntut lebih. Pras tersenyum nakal.
" Kok aku tiba-tiba jadi bersemangat yah, mas? Dan tubuh aku mulai gerah dan panas." ucap Jumila. Pras tersenyum menyeringai.
" Tadi aku kasih obat perangsang di dalam minuman kamu." sahut Pras sambil tetap liar memainkan daerah sensitif milik Jumila.
" Kamu bang sat! Kenapa melakukan ini?" kata Jumila sambil terkekeh.
" Aku ingin malam ini kamu mendominasi permainan ini." ucap Pras.
" Dan ingin kamu bisa melakukannya berkali-kali dengan aku." kata Pras.
" Sialan! Kamu ini memang tidak lelahnya jika menyangkut soal seperti itu." ucap Jumila.
*******
Berbeda dengan Pras. Pras masih sangat segar dan belum terlihat lelah. Pras ingin sesuatu yang baru. Dia sudah mulai bosan dengan permainan Jumila. Pras ingin fantasi yang menantang. Dia ingin melihat pemberontakan dari partner ranjangnya.
Pras tiba-tiba tersenyum dan teringat akan anak dari Jumila. Pras mulai berkhayal dan berimajinasi liar bermain dengan anak tirinya.
Pras ingin fantasi baru dan menantang. Pras lalu bergegas keluar dari kamar itu lalu dengan berjalan sedikit terhuyung menuju kamar Jelita. Pras pelan- pelan membuka pintu kamar Jelita. Pras tersenyum senang. Kali ini dia benar-benar beruntung. Kamar Jelita tidak dikunci dari dalam. Pras melihat Jelita sudah tidur di atas ranjangnya. Pras mulai menjalankan imajinasi liarnya. Pras yang sudah memegang dua dasinya mulai mengikatkan kedua kaki dan kedua tangan Jelita. Jelita masih tertidur pulas.
Pras tersenyum senang. Aksinya lancar tanpa halangan berjalan lancar. Pras mulai menjelajahi setiap lekukan tubuh Jelita tanpa melewatkan nya. Jelita mulai membuka matanya perlahan.
" Om Pras! Apa yang kamu lakukan! Lepaskan om! Jangan lakukan itu!" kata Jelita mulai berteriak-teriak dan memberontak. Jelita berusaha melepaskan ikatan di tangan dan juga kakinya. Namun belum bisa. Sedangkan Pras sudah mulai menjalankan aksi-aksi nya dengan brutal, liar dan kasar. Pras tidak mempedulikan pemberontakan Jelita. Justru inilah yang dinantikan oleh Pras. Pras ingin variasi liar dan menantang seperti itu.
__ADS_1
Pras melakukan nya berkali-kali dengan Jelita. Sampai Jelita lelah karena teriakan nya yang tidak didengar oleh Pras. Justru itu semakin membuat Pras semakin liar melakukannya. Jelita berteriak pelan sambil menangis.
Lalu Jelita terbangun dari tidurnya.
" Astaga! Ini benar-benar gila! Kenapa aku jadi bermimpi liar bersama om Pras? Apakah karena aku mendengar suara meraka yang melakukan itu tadi? Hingga aku terbawa di dalam tidur aku?" pikir Jelita sambil mengusap keringat nya yang keluar di dahinya.
" Syukur lah! Ini hanya mimpi. Aku harus secepatnya keluar dari rumah ini." kata Jelita.
*******
Keesokan harinya Jelita benar-benar meninggalkan rumah itu. Rumah tempat tinggal mamanya itu. Mamanya, Jelita merasa mamanya, Jumila telah banyak berubah. Dirinya di rumah itu seperti seorang diri. Mamanya sibuk dengan urusan pribadinya. Terlebih lagi ada om Pras yang hadir didalam kehidupan mamanya itu.
Jelita pergi meninggalkan rumah itu bersama perawat pribadinya. Jelita ingin mencari rumah kontrakan walaupun itu tidak mewah.
Akhirnya Jelita mendapatkan rumah kontrakan itu. Jelita sudah merasa lebih baik dan tenang keluar dari rumah mama nya itu. Jelita pun sudah merasa lebih baik kondisinya. Jelita sudah lebih sehat dan kuat sekarang. Jelita ingin memulai hidup baru. Jelita ingin bekerja.
" Mbak, terimakasih sudah menemani aku selama ini mbak. Aku rasa aku sudah bisa sendiri tanpa perawat lagi." ucap Jelita kepada perawat muda itu.
" Tapi pak Hendra masih menyuruh saya menemani, mbak Jelita dan merawat mbak Jelita." sahut perawat yang memiliki paras yang manis itu.
" Tapi aku sudah tidak membutuhkan mbak lagi. Maaf mbk! Walaupun semua gaji yang membayar mantan suami saya. Tetapi aku benar-benar ingin sendiri sekarang. Nanti biar aku yang menghubungi mantan suami aku itu, kalau aku sudah sembuh dan pulih." kata Jelita. Perawat itu akhirnya menyerah dan tidak ingin memaksakan kehendak kepada Jelita.
" Baiklah! Tapi kalau mbak Jelita perlu bantuan saya kembali, bisa menghubungi saya lagi, yah Mbak." sahut Perawat itu. Jelita tersenyum mengangguk pelan.
"Baiklah! Terima kasih banyak atas pelayanan mbak selama ini. Aku sampai bisa pulih dan lebih baik seperti ini." kata Jelita. Perawat itu tersenyum sambil menjabat tangan Jelita dan pergi meninggal Jelita di rumah kontrakan itu sendiri.
__ADS_1
" Aku harus bangkit! Aku harus lebih semangat. Bukankah aku masih muda? Jalan hidup ku masih panjang." pikir Jelita penuh semangat.