
Jantung itu masih berdetak hebat,tatkala kau masih disini mendekap ku erat. Tiada keraguan lagi, hati ini masih dikuasai nama kamu. Iya nama kamu yang menggetarkan tubuh ini. Membuat aliran darah semakin panas bergelora. Tapi tatkala kekecewaan itu hadir dan membayangi mata, kesalahan- kesalahan yang telah kau perbuat menjadi berhenti sejenak. Aku merasakan sesak yang tiba-tiba. Tenggorokan ku sejenak seperti terdekat,tidak mampu mengucapkan sepatah kata. Aku membencimu tapi juga masih ingin pedulikan mu.
Aku amat membencimu tapi aku ingin selalu dekat dengan mu. Setiap detik setiap waktu aku ingin melihat wajahmu. Wajahmu yang kini sedang bermain-main di sini. Membohongi diri dan aku dalam pikiran dan hatimu. Apakah kau tidak ingin mencari- cari kesalahan dari aku? Untuk lebih leluasa meninggalkan aku dengan mudah. Kenapa tidak kau lakukan agar aku bisa bebas dan lepas. Agar aku bisa mengobati kekecewaan ku dari sekarang. Tidak perlu berlama-lama lagi. Jujurlah jika kau ingin melepaskan aku dari semua yang membuatmu bimbang. Kebingungan dan dilema mu membuat kamu linglung. Dalam gerak gerik penuh kepalsuan dan kebohongan.
Aku tahu dirimu lebih dari siapapun. Akan ku akhiri segala ikatan telepati hati ini. Supaya aku tidak akan merasakan derita sakit nanti ketika waktu itu akan menentukan akhir. Apakah kamu memilih aku atau memilih nya. Diantara aku masih adakah rasa. Rasa rindu dan cinta yang bergelayut di jiwa. Bantu aku untuk menyembuhkan luka. Luka karena cinta lain yang datang tiada mampu kau tepis kan.
" Winda sayang! Bukankah rumah itu sungguh sangat luar biasa?" kata Surya sambil tersenyum dan menatap lekat wajah Winda.
Winda terlihat berdiri mematung melihat rumah yang akan di beli oleh Surya untuk dirinya. Bayangan nya tercipta begitu indah. Di rumah itulah kelak, suami,anak- anak nya juga berkumpul,bercanda, bermain penuh ceria. Rumah tangga yang penuh kejujuran, terbuka dan kedamaian.
" Winda, sayang?" panggil Surya lagi.
" Eh iya, mas!" sahut Winda.
" Bagaimana menurut kamu?" tanya Surya penuh semangat.
" Terserah mas Surya saja." kata Winda.
" Bukankah model rumah itu, sangat keren. Rumah idaman kamu dan juga aku bukan?" kata Surya dengan pandangan yang jauh menatap bangunan rumah kayu itu.
" Betul sekali mas! Tapi apakah kita akan selalu berkumpul bersama di sana mas? Berkumpul dengan anak-anak kita di rumah itu sampai kita kakek dan nenek?" ucap Winda dengan pandangan jauh.
" Winda sayang! Kita harus selalu yakin dan percaya. Kisah kasih kita pasti akan sampai diujung usia kita yang senja. Kamu harus yakin itu. Bahwasanya aku akan selalu di dekat kamu dan menjadi suami kamu yang setia setiap waktu." ucap Surya.
" Amin! Amin Mas! Semoga semua yang kamu katakan benar adanya." kata Winda sambil tersenyum dan melihat wajah Surya tanpa dosa.
" Winda sayang! Kita sepakat ambil rumah itu saja yah, sayang. Buat semua aset aku namakan kamu. Jika kelak aku terbukti mengkhianati kamu, aku akan keluar dari rumah itu. Aku tidak punya hak untuk memiliki nya." Ujar Surya sambil tersenyum.
" Hah? Ini baru rumah satu bukan? Kamu dan keluarga kamu saja,jika mau masih bisa membeli rumah lebih dari itu." batin Winda sambil tersenyum getir.
__ADS_1
" Baiklah! Terimakasih banyak mas! Kalau begitu satu Minggu kedepan, aku bisa pindah kemari kan mas?" tanya Winda.
" Tidak hanya kamu saja sayang. Aku pun juga ikut turut pindah ke rumah itu." jawab Surya sambil tersenyum.
" Bagaimana dengan mama dan papa? Apakah papa dan mama mengijinkan kita untuk pindah dari kediaman Pak Hartono?" tanya Winda.
" Tentu saja! Nanti biar aku saja yang bicara dengan mama dan papa." kata Surya.
" Kalau papa dan mama belum mengizinkan kita untuk pindah bagaimana, mas?" tanya Winda.
" Pasti diijinkan, sayang. Bukankah sekarang aku sudah menuruti segala keinginan mama dan papa untuk mengurus dan mengelola perusahaan milik keluarga? Bersama Wardha kini perusahaan milik keluarga sudah semakin jaya dan maju secara pesat."cerita Surya dengan bangga.
" Iya, mas! Alhamdulillah!" sahut Winda.
" Aku ingin memiliki anak yang banyak dengan kamu, Winda." kata Surya.
" Hah? Wisnu masih kecil, Mas!" sahut Winda sambil tersenyum.
Tidak berapa lama kemudian seorang laki-laki dengan seorang wanita datang menghampiri mereka berdua.
" Assalammualaikum pak Surya!" sapa laki- laki itu beserta wanita yang berpakaian bak wanita karir.
" Waalaikum salam!" jawab Surya beserta Winda.
Winda tampak sedikit terkejut bukan main melihat wanita yang bersama dengan laki-laki itu. Wanita itu adalah Sarwendah.
" Bagaimana pak? Puas dengan bangunan rumah itu?" tanya laki- laki itu.
" Baiklah! Saya ambil. Segera urus semua nya secepatnya." jawab Surya sambil menjabat tangan laki- laki itu.
" Kamu menyukai nya Winda?" tanya Sarwenda dengan senyuman nya.
__ADS_1
" Hemm!" sahut Winda tanpa melihat wajah Sarwenda.
" Aku ingin cepat pulang mas! Kasihan Wisnu sudah lama aku tinggal dari tadi." kata Winda mulai bangkit dan ingin meninggalkan tempat itu. Tapi dengan cepat tangan Surya menahan pergelangan tangan milik Winda.
" Kita makan siang dulu di luar, sayang! Mumpung ada Sarwenda disini." ujar Surya sambil tersenyum ramah.
" Sarwenda! Duduklah santai dulu." kata Surya ramah.
" Hah? Sejak kapan kamu mulai ramah dengan Sarwenda, mas?" kata Winda ketus.
" Winda, sayang! Sarwenda adalah salah satu pemegang saham di perusahaan keluarga Hartono juga, kurang lebih lima persen. Kita harus menghormati dia juga, Winda." cerita Surya.
" Bukan berarti kamu jadikan istri, kan mas?" batin Winda penuh gejolak kesal di dada nya.
" Kamu tidak perlu sungkan terhadap aku, Winda! Aku bisa menjadi sahabat kamu nantinya." ucap Sarwenda sambil tersenyum.
" Haha? Sahabat? Apa yang hendak kamu cari dari sahabat seperti aku? Aku tidak memiliki apa-apa pun, selain suami aku yaitu Surya. Apakah kamu ingin Surya, suami aku?" ucap Winda spontan yang membuat mata Surya dan Sarwenda membelalak matanya.
" Winda! Jaga ucapan kamu! Itu sungguh tidak sopan!" bentak Surya dengan suara lantang.
" Maaf Pak Surya! Jangan salahkan Winda. Winda mungkin saja sedang lapar atau mungkin saja sudah sangat lelah seharian berkeliling melihat beberapa bangunan rumah yang hendak dibeli." bela Sarwenda penuh kelembutan tapi tersimpan kebohongan.
" Winda, sayang! Cepat minta maaf pada Sarwenda. Jangan berbicara kasar dengan Sarwenda seperti itu." ujar Surya sambil meraih tangan Winda dengan lembut. Kini suaranya kembali dibuat pelan dan hati-hati.
" Mas! Bukan kah dulu kamu tidak menyukai Sarwenda? Tapi kenapa sekarang jadi berubah membela dia?" protes Winda.
" Winda sayang! Karena kita harus selalu baik dengan semua orang. Dan sikap dan bicara kamu tadi tidak sopan. Apalagi aku adalah suami kamu. Kamu tidak perlu bicara seperti itu lagi, ya sayang." kata Surya.
" Tapi aku cemburu mas!" kata Winda pelan lebih tepatnya berbisik di telinga Surya.
" Hahaha! Alhamdulillah kamu bisa punya rasa itu untuk aku, sayang!" bisik Surya akhirnya.
__ADS_1
" Baiklah! Ayo kita makan siang dahulu! Perutku sudah mulai keroncong an." ajak Surya.