Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
BATU ES YANG MENCAIR


__ADS_3

Winda duduk di teras setelah segelas air putih yang ia bawa di letakkan nya di atas meja yang berada di samping tempat duduk antara dirinya dengan Hendra. Tanpa ada sapaan dan sepatah kata pun, Winda duduk. Masih terdiam seribu bahasa, Winda menatap tanaman hias yang tertata rapi di depannya. Sedangkan Hendra menatap ke arah Winda nyaris tidak berkedip. Senyum simpul Hendra memandang wajah ayu milik Winda. Wajah itu terlihat bercahaya terkena pantulan sinar lampu di penerangan itu.


Malam ini Bermandi lah dengan cahaya bulan yang hangat. Cahayanya membawanya ke hati yang penuh damai. Jangan ada hati yang penuh gundah. Jangan ada lagi ramai dan sibuk mencari celah salah. Karena hatimu dan hatiku jujur ingin selalu menyapa.



" Boleh minum?" tanya Hendra berusaha membuka percakapan itu yang nampak kaku. Akhirnya gelas yang berisi air putih itu di minum Hendra setelah tidak ada respon dari Winda.


" Kamu tahu bukan? Aku tidak pandai merayu kamu jika kamu sedang merajuk seperti ini. Tetapi aku akan mencoba deh." kata Hendra akhirnya berusaha berkata- kata walaupun Winda masih menatap ke arah tanaman di depannya.


Dalam hati Winda, ada gengsi yang cukup berat, seberat besi ber ton- ton. Keangkuhan nya membuat dirinya menahan segala yang beku itu untuk mencair. Seperti halnya bongkahan batu es yang menggunung dan mengkristal yang harus di tembak dengan panas nya sinar matahari terik yang panas.


" Ibu kita kartini menciptakan buku dengan judul ' Habis gelap terbitlah terang' , Amir Hamzah, membuat sekumpulan puisi tentang religi dan di kemas dalam kumpulan puisinya berjudul ' Nyanyi Sunyi'. Kamu tahu, my queen? Aku juga sangat terobsesi ingin menciptakan buku. Buku yang tentunya ada nama kamu di sana." kata Hendra akhirnya.


Winda mulai terpancing dan tertarik dengan kata-kata Hendra. Matanya menatap pria yang ada di samping nya itu lalu mulai tergelitik untuk bertanya.


" Nama aku? Buku apa?" tanya Winda penasaran.


" Buku nikah!" jawab Hendra singkat sambil tersenyum dengan manisnya.


Winda tersenyum manisnya. Saat itu suasana sedikit mencair dengan rayuan gombal Hendra.


Winda menarik nafasnya dan berusaha mengendalikan dirinya supaya tetap bersikap santai aja.


" Wanita itu namanya Yuslita. Dia adalah mantan ku dulu, queen. Tapi aku sangat senang jika kamu memiliki rasa cemburu itu jika ada wanita lain berusaha dekat dengan aku. Itu artinya, kamu sangat takut kehilangan aku, bukan?" ucap Hendra.


" Siapa yang cemburu?" sahut Winda sambil membuang wajahnya ke samping menyembunyikan rona merah karena malu itu.

__ADS_1


" Hehehe, ya sudah! Kalau begitu aku ralat. Kamu marah terhadap aku." kata Hendra akhirnya.


"Dahulu, aku dengan Yuslita hampir menikah tetapi Yuslita akhirnya memutuskan aku sebelah pihak dan menikah dengan pria yang sudah dijodohkan dengan nya. Saat ini, Yuslita sudah berstatus janda. Mereka sudah bercerai satu tahun ini, saat kepergian Mas Surya ketika itu. Yuslita pernah datang kepada ku, ketika masih dalam proses perceraian nya dengan suami nya. Dan saat itu lah, aku sudah menyukai dan tergila-gila dengan istri orang." cerita Hendra.


Winda terkejut dan kembali menatap wajah Hendra dengan serius. Hendra kembali tersenyum penuh kemenangan. Wajah ayu Winda kembali dapat dilihat nya. Matanya seperti menelanjangi nya.


" Wanita itu, kamu!" tambah Hendra dengan tegas dengan sorot mata yang serius.


" Aku menyukai kamu ketika status kamu masih istri orang. Betapa risau, kacau perasaan aku saat itu. Satu sisi, rasa suka dan ketertarikan ku terhadap kamu itu seperti magnet yang sulit di lepaskan. Tapi disisi lain, kamu masih milik orang. Aku tidak bisa berbuat banyak saat itu. Makanya sering kali aku mengerjai kamu. Aku hanya ingin melihat kamu lama dan berlama- lama berada di dekat aku." cerita Hendra.


" Kemudian takdir berkata lain. Suami kamu akhirnya meninggal. Aku juga bukan berarti lega dan senang karena aku punya kesempatan itu untuk memiliki kamu. Setelah itu aku mulai gencar berusaha mendapatkan hati kamu dan berusaha menjadikan obat kesedihan hati kamu karena kehilangan sosok yang kamu cintai. Bukannya aku tidak cemburu, ketika melihat kamu masih terluka dan larut dalam kesedihan karena kehilangan suami kamu. Tetapi karena pada dasarnya kamu adalah tipe istri yang setia dan sangat menyayangi suami kamu dan keluarga kamu. Tidak heran jika aku semakin besar rasa simPATI dan sayang itu ke kamu." cerita Hendra.


" Panjang ceritanya, yah? Kamu punya bakat untuk menjadi penulis cerpen atau novel, loh bang!" sahut Winda dengan senyum terkekeh.


" Terima kasih untuk senyuman mu, queen! Itu artinya kamu sudah tidak marah dengan aku bukan?" ujar Hendra.


" Iya!" jawab Winda.


" Oh iya, kamu sudah makan belum?" tanya Hendra.


" Sudah!" jawab Winda singkat.


" Makan apa?" tanya Hendra.


" Makan hati!" jawab Winda sambil membuang muka ke samping.


Hendra terkekeh melihat sikap Winda tanpa basa- basi dan terus terang.

__ADS_1


" Kamu ingin makan apa, queen? Kita keluar yuk!" ajak Hendra.


" Apa aja deh." jawab Winda.


" Baiklah! Ayo kita keluar sekarang, queen!" ajak Hendra sambil menarik tangan Winda menuju mobilnya.


" Ta.. ta.. tapi, aku belum dandan!" kata Winda.


" Tidak apa- apa! Kamu sudah cantik tanpa riasan kok. Lagi pula kamu terlihat begitu anggun dan cantik dengan pakaian gamis itu." kata Hendra sambil tersenyum.


" Eh?" kata Winda pelan.


" Maaf! Aku terlalu bersemangat hingga memegang dan menarik tangan kamu, queen." ucap Hendra sambil melepaskan tangannya.


" Setelah ini, aku ingin bicara jujur tentang hubungan ku dengan Yuslita. Sejauh mana aku dengan Yuslita, dan kamu harus tahu. Supaya kelak dikemudian hari, kamu bisa paham dan memaklumi nya. Dan kamu jangan pernah mengungkitnya kembali karena antara aku dengan Yuslita sudah tidak ada hubungan lagi." kata Hendra serius.


" Baiklah! Aku akan mendengarkan cerita itu dari kamu." ucap Winda.


" Apakah perlu aku tulis dan ku jadikan cerpen atau novel?" goda Winda.


" Buat saja, kalau kamu suka dengan cerita itu." jawab Hendra menggoda.


" Aku tidak tertarik! Aku lebih tertarik jika kamu menciptakan buku yang tertera namaku." sahut Winda dengan tersenyum.


" Hahaha! Buku nikah! Hahaha. Tentu saja sayang!" kata Hendra sambil tertawa terbahak-bahak.


Setelah mereka berada di dalam mobil, Hendra menjalankan mobilnya. Tujuannya saat ini adalah mengisi perut. Ada hak yang harus kita penuhi supaya badan kita tidak lemah. Makan dan minum.

__ADS_1



Lalu? Pikirkanlah untuk keegoisan mu sendiri dalam hubungan vertikal dan horizontal. Antara Tuhan dengan makhluk Nya, antara manusia dengan makhluk Nya supaya dirimu mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.


__ADS_2