Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 (EPISODE 29)


__ADS_3

Di rumah sakit, saat ini Jelita sudah dipindahkan di kamar inap setelah hampir dua hari mengalami kritis. Namun keadaan Jelita tidak seperti dahulu. Jelita mengalami kelumpuhan. Ketika Jelita terbangun dan membuka matanya, dirinya masih belum menyadari akan keadaan nya sekarang ini. Di samping Jelita ada Galuh, adik daripada Hendra atau suaminya Niga.


Saat ini Hendra sudah kembali pulang dan di rumah sakit tinggal Galuh beserta suaminya Niga. Ketika Jelita sudah membuka matanya, pertama yang dicarinya adalah Hendra. Namun Hendra belum kembali ke rumah sakit setelah keadaan Jelita lebih baik dari kritis nya dan dipindahkan di kamar perawatan. Seperti saat ini kembali Jelita mencari keberadaan Hendra. Dia ingin meminta maaf kepada suaminya tersebut dan hatinya penuh penyesalan yang tidak henti- hentinya. Matanya selalu menitihkan air mata jika mengingat akan kesalahan nya.


" Bang Hendra! Galuh, dimana bang Hendra?" ucap Jelita dengan bibir yang bergetar. Galuh mendekatkan kursinya ke Jelita yang berbaring di tempat tidur rumah sakit itu. Jelita sesekali melihat ke arah pintu, mencari keberadaan laki-laki yang sudah ia khianati.


" Bang Hendra belum kemari, mbak. Setelah mbak Jelita dipindahkan ke kamar inap ini dan aku datang kemari, bang Hendra menitipkan mbak Jelita ke aku dulu mbak. Ada sedikit urusan di perusahaan nya, yang tidak bisa diwakilkan pada yang lain." jelas Galuh. Jelita masih dalam kegelisahan nya.


" Mbak Jelita mau makan atau minum?" tawar Galuh. Jelita menggelengkan kepalanya tanda enggan untuk makan dan minum.


" Minum aja dulu yah, mbak." kata Galuh sambil mendekatkan gelas yang berisi minuman itu ke mulut Jelita dengan pipet supaya lebih mempermudah Jelita untuk meminumnya.


" Galuh, aku boleh telepon bang Hendra tidak?" ucap Jelita. Galuh mulai mengambil ponselnya dan mencari kontak abangnya itu. Lalu mulai menghubungi abangnya.


" Belum diangkat mbak. Mungkin bang Hendra masih sibuk mengurusi masalah di perusahaan nya." ucap Galuh berusaha membuat tenang Jelita.


" Bang Hendra pasti marah dengan aku. Aku sudah membuat Bang Hendra kecewa dan marah. Aku bukanlah istri yang baik untuk bang Hendra." kata Jelita sambil menitihkan air matanya. Betapa dirinya penuh penyesalan akan perbuatan nya. Namun memang sudah menjadi rumus jalan hidup seseorang, penyesalan selalu datang diakhir cerita setelah sebab akibatnya itu sudah terjadi.


" Aku menyesal, Galuh. Aku sudah banyak berbuat salah dengan Bang Hendra. Apakah aku masih pantas untuk menjadi istri, bang Hendra? Sedangkan aku sudah mengkhianati dia. Aku bahkan sudah bermain api dengan sahabatnya sendiri." ucap Jelita. Galuh tidak berani menanggapinya. Dia pun juga tidak berhak menghakimi Jelita dengan segala perbuatan nya.


" Apakah bang Hendra mau memaafkan aku setelah mengetahui aku telah berselingkuh dengan sahabatnya sendiri." tambah Jelita lagi.


Setelah beberapa menit Galuh menghubungi Bang Hendra namun tidak juga diangkat nya. Kini ponselnya berbunyi. Ada panggilan suara masuk ke ponselnya. Ada nama abang nya tertera di layar ponselnya tersebut. Galuh mulai menerima panggilan itu.


"Halo bang! Abang dimana? Di cari mbak Jelita, bang." kata Galuh. Hendra di seberang sana masih juga belum menjawabnya.

__ADS_1


" Masih di kantor. Bagaimana keadaan nya?" Hendra malah balik bertanya.


" Mbak Jelita sudah lebih baik." sahut Galuh sambil bergegas meninggalkan Jelita dan keluar dari kamar itu.


" Bang, apakah abang masih marah dengan mbak Jelita?" tanya Galuh. Hendra diam tidak menjawab nya.


" Abang tidak ingin berbicara dengan mbak Jelita?" tanya Galuh lagi.


" Jangan dulu Galuh!" sahut Hendra. Galuh menghela nafas panjang.


" Kemungkinan mbak Galuh akan mengalami kelumpuhan secara permanen jika tidak segera ditangani secara cepat, bang! Besok mbak Jelita sudah diperbolehkan kembali pulang dan bisa menjalani pengobatan dan terapi secara berkala. Namun kelumpuhan nya bisa sembuh namun sangat kecil sekali. Itu menurut analisa sementara dari dokter syaraf nya, bang." terang Galuh panjang lebar.


" Nanti bisa diobati secara medis dan non medis atau ke pengobatan alternatif. Tetap kita akan berupaya akan kesembuhan Jelita, mbak kamu itu." kata Hendra.


" Bang Hendra! Apakah abang masih marah dan kecewa dengan mbak Jelita?" tanya Galuh kembali.


" Lalu?" tanya Galuh.


" Lalu? Entahlah, Galuh! Setelah ini apakah aku masih sanggup melihat Jelita tidak. Aku takut jika aku masih membenci nya." kata Hendra.


" Tapi bang! Jelita sudah tidak berdaya dan sangat butuh dan sudah tergantung dengan kita sekarang. Bahkan untuk berjalan dan beraktivitas secara normal seperti kita sudah tidak sanggup." kata Galuh.


" Nanti kita cari perawat yang bisa membantu dan merawat Jelita setiap harinya. Untuk kepulangan dan administrasi nya, tolong kamu atur besok yah. Abang minta tolong kamu dengan Niga dulu. Tidak apa- apa kan? Maaf, aku perlu waktu menyembuhkan rasa kecewa ini, Galuh. Jika Jelita mencari aku, bilang saja aku lagi sibuk di luar kota mengurusi perusahaan cabang yang baru dibuka." kata Hendra. Galuh menyimak nya. Niga baru datang dan mendekati Galuh.


" Siapa?" tanya Niga.

__ADS_1


" Bang Hendra!" jawab Galuh singkat. Niga manggut-manggut saja.


" Niga yah? Tolong yah, Galuh. Sekalian carikan perawat untuk mengurus Jelita juga yah. Nanti, abang transfer dana nya. Oke?" ucap Hendra lalu mematikan sambungan panggilan keluar itu setelah Galuh mengatakan iya kepada abangnya itu.


Galuh menatap Niga. Niga pun demikian. Ke duanya menghela nafas panjang.


" Jadi? Bang Hendra lagi di luar kota saat ini?" tanya Niga.


" Begitu lah! Bang Hendra lebih memilih menyibukkan dirinya dengan kerjaannya dibandingkan larut dalam emosinya karena kekecewaan dan rasa sakit hatinya. Betapa ini tidak mudah loh, mas." kata Galuh. Niga mengusap lembut puncak kepala Galuh.


" Jadi besok sudah boleh dibawa pulang, Jelita?" tanya Niga.


" Benar! Tadi kata dokter begitu. Sambil tetap berobat jalan. Pesan bang Hendra nanti juga diobati secara alternatif selain medis juga." kata Galuh.


" Ya sudah, yang penting kita yang sehat ini masih mau mengurus yang sakit walaupun dia pernah melakukan kesalahan." ucap Niga.


" Tentu saja. Namun aku tidak bisa kalau melihat Jelita terus menerus meratapi dan menyesali kesalahan nya. Apalagi dia belum berjumpa dengan Bang Hendra dan meminta maaf secara langsung dengan abang Hendra. Mbak Jelita masih sering menangis jika ingat akan kesalahan nya." cerita Galuh.


" Itu artinya Mbak Jelita sudah sadar akan kesalahan nya. Memang minta maaf harus ia lakukan kepada suaminya setelah taubat nya kepada yang kasih Kehidupan ini." ucap Niga. Galuh membenarkan nya.


" Jadi? Malam ini aku tidak bisa minta jatah aku lagi dong!" bisik Niga.


" Jatah apa?" tanya Galuh pura-pura tidak tahu.


" Ya sudahlah! Malam ini aku puasa lagi deh." sahut Niga. Galuh nyengir saja.

__ADS_1


" Tapi besok kalau sudah pulang di rapel yah!" ucap Niga pelan.


" Tidak janji yah, mas!" sahut Galuh menggoda. Niga cemberut sambil menarik hidung Galuh.


__ADS_2