
Jika aku bisa memilih, aku tidak ingin seperti ini. Aku ingin normal seperti laki-laki lain pada umumnya. Namun saja aku sudah terjerat. Akankah aku bisa lepas dari semua ini? Sedangkan rasa ini tidak bisa aku tepis. Mencintai dan menyayangimu namun sejatinya ini bukanlah yang semestinya.
Apakah aku kurang memahami jati diri? Jika aku tidak menyukai yang lain selain kamu. Tapi bukankah ini mustahil? Namun ini kenyataan nya bukan? Dan kamu harus tahu. Rindu ini tidak akan bisa kau paksa untuk menyudahi.
*******
Masih di rumah Rosiana.
" Arsyil! Ajak kawannya makan nak!" seru mama Rosiana. Arsyil dan Tegar langsung keluar tatkala mery sedang asyik bermain game bersama- sama di weekend itu. Tegar berencana menginap di rumah Arsyil dengan membawa tas ranselnya yang berisikan beberapa baju di sana.
__ADS_1
Keduanya kini sudah duduk di ruang makan. Arsyil dan Tegar mulai mengambil makanan yang sudah tersaji di atas meja. Wardhana masih duduk di kursi roda sambil membaca majalah kecil di tangannya di dekat taman di temani oleh Rosiana siang itu. Rosiana menyuapi Wardhana dengan beberapa buah yang sudah dipotong kecil-kecil di wadah itu. Wardhana sesekali menatap anak laki-laki nya bersama temannya yang akhir- akhir ini sering datang ke rumah dan sering menginap ketika malam minggu tiba. Rosiana polos tanpa ada pandangan yang aneh terhadap Arsyil dengan Tegar.
Di ruang makan itu Tegar sesekali menyuapi Arsyil dengan penuh perhatian. Mengelap mulut Arsyil dengan tisu di sana ketika sisa makanan belepotan di sana. Wardhana melihat nya menjadi aneh. Namun tidak dengan Rosiana. Rosiana wanita kampung yang lugu, polos dan tidak akan paham hal gerak- gerik yang aneh seperti itu. Baginya antara Arsyil dan Tegar adalah sahabat yang saling menyayangi dan berbagi kasih. Wardhana menghela nafas nya panjang. Rasanya ingin memanggil Arsyil dan mempertanyakan akan kebenarannya. Soal ini adalah sensitif dan harus dibicarakan secara empat mata dan pelan- pelan bertanya kepada anaknya itu.
Bukan suatu larangan untuk menyukai seseorang. Namun ini? Dari mana Arsyil bisa salah jalur seperti ini? Apakah karena teman dekatnya itu yang membuat Arsyil menjadi seperti ini?
" Arsyil!" panggil Wardhana. Rosiana melambaikan tangannya memberikan isyarat kalau Arsyil segera mendekat kepada papanya karena sudah memanggilnya.
" Iya, pa?" sahut Arsyil. Wardhana mengusap lembut puncak kepala Arsyil.
__ADS_1
" Setelah makan, papa ingin bicara berdua dengan kamu yah, nak!" kata Wardhana. Arsyil tidak keberatan.
" Berdua saja?" tanya Arsyil lagi sambil menatap mamanya bingung.
" Iya, di kamar papa. Biar teman kamu menunggu dan bermain sebentar. Dan mama l juga hendak kembali ke warung membantu dua karyawan di warung. Warung lagi ramai kalau malam minggu seperti ini." jelas Rosiana. Wardhana membenarkan.
" Baik, pa! Tapi apakah ada yang serius, pa? Arsyil jadi deg deh kan nih? Ada apa sih sebenarnya, pa?" tanya Arsyil. Wardhana menghela nafas panjang.
" Tidak apa- apa! Papa hanya ingin mengobrol dengan kamu sebentar saja kok. Mana tahu kamu juga ingin curhat dengan papa." sahut Wardhana. Arsyil menggaruk dahinya sendiri.
__ADS_1