
Daun- daun berguguran di musim panas. Daun itu jatuh berterbangan bersama tiupan angin yang membawanya melayang. Seikat kasih yang kau janjikan hanyalah isapan jempol belaka. Rangkaian rayuan kata indah yang ada di dunia ini telah terucapkan. Tetapi tidak ada nyata dalam langkahmu. Kau hanya diam, memendam segala kerinduan. Memanggil nama ku di setiap malam. Kau inginkan ku hadir dalam nyata di mimpimu. Hanya puas menatap bayangan ku dalam kelam.
*******
"Winda! Percayalah, Sarwenda datang tiba-tiba ke rumah ini tanpa permisi. Kalau kamu tidak percaya, bisa tanyakan semua itu pada Niga yang masih duduk di depan." kata Surya yang terlihat panik karena Winda hanya diam duduk di kursi meja riasnya.
Surya mulai memeluknya dari belakang. Winda melihat dirinya dan Surya dari pantulan kaca riasnya yang besar. Surya pelan- pelan memberanikan diri memeluk leher jenjang milik Winda. Winda hanya berusaha menampik nya dengan tangan kanan nya.
" Sayang! Jangan begitu dong! Kamu cemburu yah? Maaf, jika membuat kamu cemburu." kata Surya sambil membelai rambut milik Winda yang terurai.
" Ini bukan lagi cemburu, mas. Lebih tepatnya sakit hati. Ada wanita lain yang dulu pernah dekat, oh ho lebih tepatnya wanita yang dulu pernah kamu nikahi datang kemari menuntut kasih dan perhatian dari kamu. Dan lagi, wanita itu hamil dan mengandung anak dari kamu. Ini yang membuat aku semakin tidak ada harga nya." ucap Winda panjang lebar.
" Sayang! Maafkan aku. Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak mengungkit kembali kesalahan yang sudah aku lakukan? Tapi...." ujar Surya sedih.
" Tapi wanita itu datang dan berani datang ke rumah ini, mas. Itu yang tidak aku suka. Rasanya seperti aku tidak di anggap olehnya. Seolah posisi aku sebagai istri kamu disini tidak dianggap nya." kata Winda sinis.
" Sayang! Maafkan aku. Baiklah! Lain kali, kalau dia berani datang kemari, tidak akan diijinkan masuk." ujar Surya sambil mengusap lembut kepala istrinya yang sedang merajuk.
" Ya sudah yuk! Bukankah di luar masih ada Galuh sahabat kamu. Dan aku juga masih ada Niga di luar, sayang." kata Surya sambil mengangkat tubuh Winda supaya bangkit berdiri dari tempat duduknya.
" Nanti saja! Mas duluan ke luar. Aku mau sendirian dulu disini." ucap Winda sambil melangkah dan berbaring di ranjangnya.
" Ya sudah! Aku keluar dulu menjumpai Niga dan juga Galuh yah." kata Surya akhirnya sambil mengusap lembut kepala Winda.
Di ruang tamu, Niga dan Galuh saling diam tidak ada percakapan diantara mereka. Niga hanya terlihat menyalakan rokok nya sesekali menghisapnya pelan- pelan sambil menatap sosok Galuh yang menunduk sibuk memainkan ponselnya. Surya hanya tersenyum melihat pemandangan dari dua kawannya itu.
" Ehem!" Surya sengaja berdehem dengan keras supaya memecahkan keheningan di ruangan itu.
" Eh? Bagaimana Surya? Aman kan?" tanya Niga sambil nyengir. Galuh pun ikut menatap Surya seolah ingin mendapatkan penjelasan dari Surya mengenai Winda.
" Tidak apa-apa. Winda lagi ingin sendirian dulu di kamar. Maaf ya, Galuh!" kata Surya akhirnya sambil duduk di dekat Niga.
__ADS_1
" Iyalah. Laki-laki di dunia ini memang tidak ada yang setia. Paling hobby menyakiti hati wanita." sindir Galuh.
" Waduh! Ini tidak buat aku kan? Maksud nya terkecuali aku, kan Luh?" sahut Niga.
" Apakah kamu bukan laki-laki, hah?" ujar Galuh sinis.
" Hahaha." spontan Surya tertawa lepas mendengar ucapan ketus Galuh.
" Tuhan menciptakan laki-laki dengan segala kelebihan dan kelemahannya. Tuhan tidak menuntut seorang laki-laki untuk setia melainkan menuntut pertanggungjawaban nya kelak di akhirat nanti ketika memimpin bahtera rumah tangga nya bersama istri dan anak- anaknya." ucap Niga serius.
" Astaga Niga! Kamu kah yang barusan berbicara itu? Apakah ada sosok lain yang masuk dalam tubuh kamu?" sahut Surya nyengir.
" Pada dasarnya nya laki- laki mudah sekali tergoda dengan segala godaan wanita. Wanita lah sebagai sumber masalah sebenarnya bukan?" tambah Niga sengaja memancing Galuh supaya marah.
" Apa kamu bilang? Wanita sumber masalah? Seolah wanita tidak ada nilainya di mata kamu, hah? Sebagian wanita yang setia pun menjadi korban dari pengkhianatan yang dilakukan oleh laki-laki bukan?" kata Galuh sinis.
" Iya memang benar! Tapi pengkhianatan itu terjadi pun juga karena godaan wanita itu sendiri. Wanita walaupun diam, tidak merayu tapi dengan gaya dan body nya membuat laki-laki tergoda." ujar Niga sengaja membuat panas Galuh.
" Sudah! Sudahlah cukup! Kalian meributkan apa sih?" kata Surya berusaha melerai.
" Kamu tidak bisa dengar yah?" tanya Galuh kepada Surya.
Kini giliran Surya yang kena makian sama Galuh. Niga malah semakin tertawa terbahak-bahak.
" Astagfirullah! Baiklah aku yang menengahi. Sebenarnya laki-laki dan wanita diciptakan oleh Tuhan untuk berpasangan. Saling mengenal satu dengan yang lain. Ketika terjalin sebuah hubungan dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan bukan jika keduanya suka sama suka. Hanya saja, manusia yang diberi akal pikiran untuk menentukan pilihan nya. Pertanggungjawaban kelak di kemudian hari yang akan dipertanyakan. Kalau satu saja sudah repot apalagi dua, tiga atau empat. Kita membawa wanita atau istri kita ke syurga. Kalau kita karam, istrinya pun ikut karam juga." kata Surya panjang lebar.
" Aku jadi pusing, Surya." sahut Niga.
" Aku juga bingung dengan penjelasan Surya. Tidak jelas sekali. Membingungkan." ujar Galuh.
" Itu artinya kalian kelak berjodoh." sahut Surya sambil melihat Galuh dan Niga secara bergantian.
__ADS_1
" Jaka kembung bawa golok, tidak nyambung goblok!" kata Galuh kasar.
" Eh?? Jangan kasar gitu, sayang!" sahut Niga sambil menatap Galuh sedikit kesal.
Niga dan Galuh hanya memalingkan wajahnya. Wajah mereka tiba-tiba bersemu merah mendengar ucapan dari Surya yang asal.
" Niga? Kamu kenapa?" tanya Surya sambil nyengir.
" Tidak ada! Kamu jangan asal bicara. Galuh sudah ada calon suami nya." sahut Niga sambil menatap tajam ke arah Galuh.
" Betul! Mana aku level dengan kamu." ujar Galuh sinis.
" Astaga! Masih pura-pura membenci hanya untuk menepiskan segala rasa yang sudah ada?" ucap Surya sambil melihat Niga dan Galuh secara bergantian.
" Eh? Siapa yang suka?" tanya Galuh sinis.
" Aku tidak bilang gitu kok!" sahut Surya sambil berdiri dari tempat duduknya meninggalkan mereka berdua.
" Kamu mau kemana Surya?" tanya Niga.
" Lapar! Mau makan dulu." jawab Surya sambil berteriak.
Niga memandang Galuh dengan sorot mata tajam. Di sana masih ada kerinduan yang membuncah. Ada asa yang sulit dijelaskan. Ada kangen yang ingin mendekap tubuh itu dengan erat. Ada keinginan tapi tertahankan. Karena takut cinta itu ditolak dan bertepuk sebelah tangan. Bagi Niga, Galuh sudah memutuskan dirinya dan menjalin hubungan baru dengan Andrie, laki-laki yang sempat jumpa di rumah Galuh. Tatkala itu bagi Niga hal yang menyakiti hatinya. Tapi Galuh berhak menentukan pilihan nya. Dirinya tidak bisa memaksakan hati Galuh. Mungkin sudah kecewa terhadap nya.
" Aku minta maaf! Semoga kamu bahagia dengan Andrie. Aku tidak akan menggangu mu lagi." kata Niga kepada Galuh.
Galuh hanya menunduk kan kepalanya lalu menatap Niga dengan sayu.
" Tetapi hati kecil aku, tidak bisa menepis perasaan terhadapmu." suara hati Galuh pilu.
" Jujur! Aku kangen kamu, Niga. Kangen nasihat dan Omelan kamu ketika aku kasar dengan segala ceplas-ceplos ku. Kamulah yang selalu memprotes semuanya jika bahasa ku, kasar dan se enaknya sendiri." batin Galuh.
__ADS_1
" Kangeeeennnnn......arghhhh." hati Galuh menjerit keras.