Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SURYA TIBA


__ADS_3

Winda sudah di atas kasur nya. Di sampingnya ada bayi mungil yang ganteng. Senyum nya bahagia melihat bayi mungil itu yang sudah lahir di dunia.


Kini pandangan mulai menerawang jauh. Menanti kedatangan suaminya yang belum juga datang. Pak Hartono dan Bu Hartini melihat Winda dengan senyum yang sedikit berbeda. Anak laki-laki nya yang ditunggu kehadirannya pun belum juga tiba. Entah kerjaan apa yang dibuat Surya di weekend kemarin. Sedangkan sekarang sudah hari Senin sore, Surya belum ada kabar.


Tidak berapa lama pintu depan ruangan itu terbuka. Ternyata Surya tiba dengan Intan. Ditangannya seikat bunga mawar putih dan buah-buahan. Intan pun membawa beberapa baju - baju bayi dan pakaian Winda


" Assalammualaikum! Pa! Ma! Maaf aku baru datang." kata Surya sambil menjabat tangan kedua orangtuanya itu.


Pak Hartono dan Ibu Hartini menyambut kedatangan mereka dengan senyuman yang mengembang. Anak laki- lakinya yang sedari kemarin ditunggunya akhirnya tiba juga.


"Sudah! Sana dekati istri kamu. Kamu ini, bikin Winda khawatir." suruh Bu Hartini.


Surya melangkah mendekati Winda. Diraihnya tangan Winda dan mencium kening istrinya itu dengan lembut dan keharuan.


" Mas!" panggil lirih Winda.


" Iya, sayang! Maafkan aku Winda. Aku terlambat datang." ucap Surya akhirnya sambil mengusap lembut rambut milik Winda.


Kini beralih ke bayi mungil yang sudah di bedong itu. Keharuan tiba - tiba hadir dalam benak Surya. Kebahagiaan nya seperti mendapatkan durian runtuh. Kini dia sudah menjadi seorang bapak.


" Maaf nak! Papa terlambat pulangnya. Kamu sudah ke dunia ini, nak!" kata Surya dengan suara bergetar.


" Mas!" panggil Winda lirih.


" Iya sayang!" sahut Surya sambil menatap mata Winda penuh dengan sayang dan rindu.

__ADS_1


" Kamu sudah makan, mas?" tanya Winda.


" Eh? Sudah sayang! Kamu makan dulu, Winda!" kata Surya sambil mengambil bubur yang sudah tersedia di atas meja.


" Aku mau minum,mas!" kata Winda.


" Oh iya! Siap itu makan buburnya yah. Biar aku yang menyuapi kamu." kata Surya sambil memberikan gelas yang berisi air mineral itu dekat ke mulut Winda.


" Kamu baik - baik saja kan sayang?" tanya Surya.


" Alhamdulillah! Jagoan kita juga baik - baik saja." jawab Winda sambil tersenyum mengusap kepala bayi mungkin di sampingnya.


" Adik bayinya biar,mama yang gendong dulu." kata Bu Hartini sambil mendekati bangsal milik Winda.


" Iya! Padahal yang dinanti - nanti Winda adalah kamu, Surya! Kamu tidak kunjung tiba." cerita Bu Hartini.


" Iya nih, Mas Surya ini. Awas saja kalau di luar mas Surya bermain dengan wanita lain." sahut Winda yang duduk tidak jauh dari bangsal.


" Eh? Intan! Kamu ngomong apa sih?" sahut Pak Hartono sambil mencubit pipi Intan.


Surya sedikit terkejut dengan ucapan Intan. Apalagi Winda. Winda mulai berpikir dari kata - kata yang keluar dari mulut Intan.


" Intan! Kamu seperti tidak tahu saja. Kerjaan Mas kamu ini tidak bisa di prediksi. Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak relasi dari rekan bisnisnya." kata Bu Hartini berusaha mencairkan suasana menjadi enak.


Winda kembali tersenyum menatap Surya.

__ADS_1


" Mas! Kamu sudah bekerja keras. Kamu tidak boleh capek - capek ya mas! Jaga kesehatan kamu." kata Winda.


" Iya, sayang!" sahut Surya sambil memberikan suapan pertama ke mulut Winda.


Mulut kecil itu terbuka dengan sendok yang berisikan bubur ayam itu. Kebahagiaan Winda terpancar nyata. Kenapa tidak? Ia sudah memiliki bayi mungil ditambah seorang suami yang perhatian dan begitu menyayangi dirinya. Dunia nya begitu indah hari ini. Sosok Surya yang menjadi belahan hatinya sudah berada di sampingnya. Memberikan perhatian tulus kepadanya.


( BOSEN SEKALI MENERUSKAN CERITA INI LOH, KENAPA YAH? IDE NYA MASIH TERSIMPAN DI OTAK TAPI BEGITU MALAS SEKALI MENUANGKAN NYA)


T


A


M


A


T


( EH?? BOHONG BANGET!)


EPISODE SELANJUTNYA NUNGGU AKU SEMANGAT NULIS CERITA INI YAH!


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA YAH SOBAT!


I LOVE YOU....

__ADS_1


__ADS_2