
Dengan apa harus ku ungkap kan rasa. Dari rindu ini yang rasanya ingin meledak. Haruskan cinta diungkapkan, jika harus ada hati yang akan tersakiti oleh cinta yang belum pada tempatnya. Cinta yang datang di saat situasi yang terlambat. Terlambat ketemu dalam perjumpaan rasa yang terungkap.
" Kamu ingin bercerita dengan aku?" tanya Surya sambil menyeruput kopi hitamnya yang sudah tidak lagi panas.
" Tidak ada! Aku baik- baik saja." jawab Niga sambil ikutan menyerupai kopi hitam miliknya.
" Berarti akulah yang sedang dalam masalah." sahut Surya sambil ikutan menyalakan rokok Sampoerna nya.
Niga hanya meneliti perkataan yang keluar dari mulut Surya.
" Bukan masalah besar. Kurasa ini masalah seorang laki-laki normal ketika dihadapkan dengan godaan yang bikin terbang melayang." cerita Surya sambil menarik batang rokok nya dengan menghirupnya pelan.
" Hahaha! Di dunia ini laki- laki selalu nakal." kata Niga sambil terkekeh.
" Betul juga! Bedakan antara laki-laki nakal dengan laki-laki jahat." sahut Surya.
" Hahaha! Apa itu?" tanya Niga yang mulai serius dengan kata-kata yang memancing dari Surya.
" Sebenarnya aku lagi berusaha membenahi hubungan aku dengan istri aku. Aku telah bermain api dengan wanita lain. Akhirnya wanita itu mengaku hamil karena ulah aku. Yang bikin rumit, sekarang ini wanita itu di rumah mama aku. Dia menuntut untuk aku nikahi." cerita Surya akhirnya.
" Waduh! Apakah kamu ikut berinvestasi terhadap kehamilan wanita itu?" tanya Niga sambil terkekeh.
" Hahaha! Berinvestasi? Bahasa kamu itu terlalu halus sekali..haha." sahut Surya ikut tertawa terbahak-bahak.
" Lalu? Penyelesaian nya gimana?" tanya Niga mulai serius karena penasaran.
" Tunggu sampai anak itu lahir, memastikan dia anak aku atau bukan." kata Surya sambil menikmati rokoknya.
" Iyalah! Pasti semua ada jalan keluarnya yang terbaik. Yang penting saat ini kamu masih baik-baik saja dengan istri kamu." sahut Niga.
__ADS_1
" Lalu bagaimana dengan kamu? Kamu sudah memiliki anak berapa?" tanya Surya.
" Anak aku satu, perempuan." jawab Niga sambil kembali menarik nafasnya dalam-dalam.
Cukup lama Niga terdiam demikian juga halnya Surya yang diam menunggu Niga untuk bercerita.
" Sebenarnya saat ini aku sedang mengurus perceraian aku dengan istri aku." cerita Niga akhirnya.
" Hah?" Surya terkejut dengan pernyataan Niga.
" Status pernikahan kami sudah tidak bisa di pertahankan, Surya. Masing-masing diantara kami sudah bulat dan bersikukuh untuk cerai. Istri aku pun sudah tidak menginginkan aku menjadi suaminya. Demikian hal nya dengan aku. Istriku sudah nyaman dengan kerjaan nya. Dan mungkin saja, di lingkungan kerjanya sudah ada yang lain sebagai ganti diriku." cerita Niga seraya memainkan kunci mobilnya lalu menarik batang rokok nya kembali dan menyalakan nya.
" Apakah istri kamu mengakui itu, jika ada orang ketiga diantara kalian? Eh maaf, Niga." tanya Surya.
" Tidak juga! Ini hanya asumsi aku saja. Tetapi pada dasarnya sudah hampir lima bulan kami pisah ranjang dan tidak menyentuh nya." kata Niga.
" Hah? Aku masih laki-laki normal Surya. Jalan satu-satunya ke kamar mandi." jawab Niga sambil terkekeh.
" Hahaha. Astaga! Tragis sekali kamu sebagai laki-laki. Punya istri tapi tidak terpenuhi kebutuhan biologis mu." sahut Surya.
" Itulah kenyataannya. Dia selalu menolak jika aku ajak gituan. Katanya capek dan kelelahan karena kerjaan nya. Aku suruh berhenti bekerja saja tapi itu malah menimbulkan pertengkaran yang hebat diantara kami. Lalu aku menjadi berasumsi buruk terhadap istri aku. Apakah aku salah, jika pada akhirnya aku menuding dia telah berhubungan dengan pria lain dibelakang aku?" cerita Niga.
" Tetapi kamu perlu bukti- buktinya." sahut Surya.
" Aku rasa istri aku sudah tidak mencintai aku lagi. Lagi pula hubungan diantara kami sudah tidak harmonis lagi. Masalah kecil saja menjadi besar. Tidak ada komunikasi yang baik diantara kami. Ditambah kurangnya kebutuhan biologis diantara kami. Padahal kalau soal materi, aku cukup memberikan dan memenuhinya. Tapi karena gengsi, istri aku itu selalu menolak jika aku beri uang bulanan dari aku." ungkap Niga.
" Hah apa? Bisa jadi juga yah, ada laki-laki lain selain kamu, Niga." sahut Surya mulai serius menyimak cerita kisah hidup Niga.
" Itulah! Saat ini aku fokus dulu dengan anak-anak dan juga bisnis aku saja. Untuk kesibukan aku, aku sibuk dengan hobby aku di motor Gedhe, burung, dan aktivitas nge gym saja." ungkap Niga.
__ADS_1
" Lalu? Bagaimana perkembangan proses perceraian kamu?" tanya Surya penasaran.
" Berkas-berkas sudah masuk. Sudah ada panggilan mediasi tapi istri aku sengaja tidak mau datang. Itu salah satu jalan untuk menuju proses percepatan perceraian diantara kami." cerita Niga.
" Ya sudahlah! Sabar saja lah Niga. Suatu hari nanti kamu akan mendapat kan istri yang lebih baik lagi dari yang dulu. Sambil sama- sama mengintrospeksi diri dari kekurangan dan kesalahan masa lalu. Mungkin saja, kita sebagai laki-laki sangat egois atau kurang peka terhadap keinginan wanita." kata Surya serius.
" Aku pun juga sangat mengakui kalau aku banyak salah dan kekurangan. Tetapi aku ingin berbenah dan merubah semuanya menjadi lebih baik lagi, Niga. Aku hanya sangat bersyukur, ketika Winda mengetahui semua ini dan memberikan maaf dan kesempatan padaku untuk memperbaiki semuanya. Di zaman ini, sangat sulit menemukan wanita yang seperti itu bukan? Apalagi jika wanita itu sudah mapan dan bekerja. Seolah egonya akan dikedepankan, karena merasa mampu untuk hidup sendiri." ucap Surya.
" Iya betul! Mungkin saja istri aku punya itu semua. Karier yang bagus, punya relasi dan banyak kawan. Sangat mudah jika mencari laki-laki pengganti aku." kata Niga dengan lesu.
" Tetapi laki-laki yang baik, tekun, pekerja keras, agamis dan setia itu sudah ada dalam dirimu, Niga. Istri kamu, kurang melihat sisi baik mu ini." nilai Surya sambil tersenyum dan berusaha memberi semangat Niga.
" Amin! Amin! Tapi aku juga manusia biasa yang memiliki kelemahan, Surya." sahut Niga sambil merokok.
" Ah sudahlah! Tiada kesempurnaan di dunia ini. Kesempurnaan hanyalah Milik Nya. Bagaimana dengan kelemahan kita itu ditutupi oleh kelebihan dari pasangan kita. Oh iya? Bagaimana kalau kita makan dulu yuk! Maaf dari tadi ngopi dan rokok saja. Pasti kamu lapar kan?" ucap Surya sambil berdiri dari tempat duduknya.
" Baiklah! Ayolah!" sahut Niga sambil mengikuti langkah Surya yang menuju ke dapur.
"Ini bolu yang bawa Galuh!" tambah Surya sambil melirik ke arah Niga sambil tersenyum.
" Eh? Ada apa dengan kamu, Surya?" tanya Niga yang seperti nya masih ingin menyembunyikan perasaan nya dengan Galuh.
" Tidak apa-apa kok! Galuh itu janda dan kamu pun...." kata Surya yang tersenyum dan tidak mau melanjutkan kalimatnya.
" Tapi Galuh tidak mau dengan aku!" sahut Niga akhirnya.
" Eh???" Surya terkejut sambil menatap ke arah Niga lalu duduk di meja makan.
" Hem! Tampaknya sayur ini perlu di tambah dan dipanasi lagi. Sebentar yah, aku ke dapur dulu." kata Surya yang berusaha mengalihkan percakapan soal Galuh.
__ADS_1