
Di rumah sakit.
Dahlia dan Siwa sudah berada di ruang rawat papa nya, Wardhana. Saat ini Dahlia sedang menyuapi papa nya dengan bubur ayam. Betapa Wardhana merasa sangat terharu dengan perhatian anak- anaknya. Keadaan Wardhana sungguh sangat berbeda dengan Wardhana yang dahulu. Kondisinya Wardhana seperti kehilangan taringnya. Tangan kiri nya sangat sulit di angkat. Dan bagian kiri sampai kakinya sulit digerakkan. Wardhana mengalami stroke yang menghalangi dirinya untuk bergerak lebih leluasa.
Rosiana yang melihat keadaan suaminya seperti itu sangat sedih. Betapa Wardhana selama ini menjadi tulang punggung bagi keluarga kecilnya, jadi seperti tidak berdaya karena keadaannya sekarang. Arsyil duduk bersandar di bahu mama nya hanya bisa menatap keadaan papa nya yang harus melalui proses pemulihan dan terapi kembali. Supaya Wardhana bisa berjalan sempurna dan keseimbangan badannya kembali normal.
Siwa mendekati mamanya, Rosiana. Siwa meraih tangan mama nya itu seolah akan memberikan kekuatan bagi mamanya supaya bisa sabar melalui ujian ini.
" Mama, aku dan Dahlia akan membantu mama untuk memulihkan papa. Kita harus melatih papa supaya bisa kembali pulih seperti sedia kala. Papa harus rutin menjalani terapi dan bila perlu kita juga menyembuhkan penyakit papa dengan pengobatan alternatif selain pengobatan medis itu sendiri." kata Siwa sambil menggenggam tangan Rosiana.
" Iya, Siwa! Semua usaha harus kita lalui supaya papamu bisa cepat pulih dan kembali beraktivitas seperti sedia kala." sahut Rosiana.
"Kami akan membantu biaya sekolah Arsyil, ma! Kalau mama nanti kesulitan atau kekurangan dalam hal dana." tambah Siwa.
__ADS_1
" Kalau soal dana sekolah Arsyil, Mudah-mudahan mama masih bisa mengatasinya. Karena mama juga masih ada warung yang saat ini sudah makin ramai setiap harinya." kata Rosiana.
" Mama jangan menolak bantuan dari kami. Kami tidak ingin mama, Arsyil dan juga papa dalam kesulitan." ucap Dahlia yang melangkah mendekati mama tirinya itu.
" Tapi bagaimana dengan mama kamu? Mama Sarwenda kalau mengetahui kalian membantu kami, apakah tidak marah? Dan apakah kedatangan kalian kemari, mama kalian sudah mengetahuinya dan mengijinkannya? Mama juga tidak ingin jika kalian kena marah oleh mama Sarwenda." kata Rosiana.
" Mama jangan khawatir! Tadi malam kami sudah membicarakan hal ini kepada mama Sarwenda. Tapi maaf yah mah, mama Sarwenda masih belum bisa datang kemari. Mama Sarwenda masih sibuk." kata Dahlia dengan menutupi kebenaran nya kalau Sarwenda sesungguhnya masih menyimpan dendam dan kebencian dengan papa nya yaitu Wardhana.
" Terimakasih banyak kalau begitu. Sampaikan salam kami untuk mama Sarwenda." sahut Rosiana.
Arsyil mendekati papa nya yang melihat Wardhana melambaikan tangannya dan memanggil nama Arsyil pelan.
" Iya, pa? Papa mau minta apa?" tanya Arsyil penuh perhatian.
__ADS_1
" Minum, nak!" ucap Wardhana pelan. Ucapannya sedikit tidak jelas seperti diseret.
Arsyil mengambilkan minuman untuk papa nya dan mendekatkan di bibir papanya dengan bantuan pipet. Wardhana meminumnya pelan.
" Sudah, pa!" tanya Arsyil. Wardhana mengangguk pelan, rasanya sangat malas untuk berucap.
" Mama kamu mana?" tanya Wardhana pelan. Kembali suara yang diucapkannya tidak begitu jelas. Namun Arsyil masih bisa memahami nya.
" Ada! Ma, papa mencari mama!" panggil Arsyil dan Rosiana mendekati Wardhana yang saat ini terbaring masih belum bertenaga.
" Iya, mas! Apa masih berat kepalanya?" tanya Rosiana sambil mengusap air liur sebelah kiri Wardhana yang keluar.
" Tidak!" jawab Wardhana dengan kata yang diseret.
__ADS_1
" Oh, kamu minum obat dulu deh! Ini sudah jam nya minum obat." kata Rosiana sambil menyiapkan beberapa obat- obatan yang harus diminum Wardhana. Wardhana menatap Rosiana dengan wajah sedih nya. Saat ini dirinya sungguh-sungguh sudah menjadi laki-laki yang tidak ada daya. Apalagi dengan kondisi nya sekarang, bagaimana mungkin dia bisa memberikan kebahagiaan dan kemewahan untuk istri dan anak-anaknya.