
Bukan cinta kalau tidak ada dorongan dan keinginan. Bukan kasih sayang kalau tidak ada memberi dan menerima. Bukan sebuah kejujuran jika masih ada yang disembunyikan. Bukan kebahagian jika masih ada duka yang terselip dendam. Ini hanya sebuah kiasan. Perjalanan tiap manusia berbeda-beda. Setiap manusia mempunyai beberapa pilihan. Jika kamu disuruh memilih dari beberapa opsi. Mau tidak mau kamu harus menentukan pilihan itu yang menurut kamu baik dan terbaik. Pilihan itu harus dipikirkan panjang dari efek dan dampak yang kamu ambil. Sebisa mungkin berdampak positif bagi sekitar kamu dan meminimalkan dampak negatifnya dari keputusan yang kamu ambil.
Hiasan indah dalam sebuah pot bunga. Ada beberapa tangkai di sana. Terukir jelas maknanya. Warna - warni keindahan tampak di mata. Indah tidak selamanya memberikan kebahagiaan. Pilihlah satu dari beberapa tangkai di sana. Ambil dan selipkan dalam telinga kekasihmu. Hiasi lah wajahnya dengan keindahan itu. Berikanlah aneka perhatian yang membuatnya melayang tinggi ke awan. Jangan biarkan air matanya keluar disudut matanya yang indah. Agar kamu bisa melihat senyuman nya yang merekah penuh makna.
Kamu tidak akan pernah menyesal. Jika kamu akan mengungkapkan segala rasa yang terpendam. Karena hatimu ingin kejujuran. Dari apa yang kamu rasa dan pendam. Hilangkan sejuta Ego yang memenjarakan mu keangkuhan. Supaya dikemudian hari tidak ada penyesalan yang buat mu jatuh dalam kesedihan yang tak berujung pangkal.
Hai jiwa kesakitan akan kesepian. Meronta karena siksaan rindu yang tak berkesudahan. Akhir dari cerita anak Adam, yang tidak akan lekang di makan zaman. Oh manusia bodoh yang tak bertuan. Cobalah cari akal sehatmu dalam menelaah setiap langkah. Agar dilema kesakitan segera hilang. Dalam menuruti keinginan dan nafsu yang menyesatkan langkah.
*************
Di suasana kantor penuh keseriusan. Surya masih berkutat dengan aktivitas di ruangan nya. Berkas - berkas sudah bertumpuk- tumpuk di mejanya. Mengharuskan ia harus segera mengoreksi atau menandatangani dari beberapa laporan di meja nya. Sudah beberapa hari, sengaja Surya tidak datang ke kantor. Kini kerjaan nya sudah menumpuk. Memang pekerjaan lain bisa di wakilkan oleh asisten nya tetapi untuk segala keputusan, tandatangan, tetap Surya lah yang memegang peran utama dalam perusahaan milik keluarga nya itu. Posisi Surya sudah menjadi orang pertama di perusahaan tersebut. Pak Hartono sudah menyerahkan wewenang semuanya kepadanya. Sedangkan Wardha menjadi kepala bidang pemasaran dalam perusahaan itu. Sarwenda sendiri adalah salah satu investor dalam perusahaan milik keluarga Pak Hartono. Memang keluarga Sarwenda dari dulu dikenal memiliki harta yang berlimpah. Tidak heran, Pak Hartono dan Bu Hartini selalu hormat jika berhadapan dengan keluarga Sarwenda.
" Hai assalammualaikum sayang! Aku datang!" sapa Sarwenda dengan membawa paper bag yang berisi makanan.
Surya berdiri menyambut Sarwenda yang masuk ke ruangan nya dengan penampilan seperti wanita pekerja kantoran pada umumnya.
Sarwenda mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Surya lalu mencium punggung tangan itu dan beralih mencium pipi kanan dan kiri suami siri nya itu.
" Waalaikum salam! Kamu bawa apa Sarwenda?" tanya Surya.
Sarwenda tersenyum melihat reaksi Surya yang mulai membuka dirinya dengan sedikit perhatian dengan nya.
" Ini ada lapis legit dan brownis coklat kukus. Bukankah ini kesukaan kamu, mas?" jawab Sarwenda sambil membuka paper bag yang berisi makanan itu.
__ADS_1
" Kopi nya belum ada loh!" sahut Surya.
Sarwenda tersenyum melihat Surya mulai ber manja dengan dirinya.
" Baiklah! Akan ku suruh OB untuk membuat kan nya." sahut Sarwenda.
" Aku ingin buatan kamu, loh!" ujar Surya sambil fokus dengan beberapa berkas yang sedang diteliti nya.
" Hehehe! Baiklah! Ini kue nya, dimakan Mas!" suruh Sarwenda.
Sarwenda kemudian keluar dari ruangan Surya. Surya mengambil ponselnya lalu menghubungi Winda, istrinya.
" Sayang! Sudah makan belum sayang?" tanya Surya setelah sambungan ponselnya terhubung di nomer Winda dan diangkat oleh Winda.
" Tidak ada suaranya Wisnu, Say?" tanya Surya.
" Tadi sehabis mandi, tidur mas!" jawab Winda.
" Sayang! Ini kopinya sayang!" teriak Sarwenda yang tiba-tiba masuk dalam ruangan Surya.
" Eh? Sayang? Suara siapa itu mas?" tanya Winda mulai menyelidik.
" Oh itu..itu Sarwenda! Kasih kopi hitam untuk pacarnya. Kebetulan pacarnya ada di ruangan ini, sayang." jawab Surya spontan sambil matanya melotot ke arah Sarwenda.
Sarwenda yang melihat Surya matanya melotot ke arahnya jadi menciut. Dengan cemberut, Sarwenda duduk di kursi sofa dan menjatuhkan pantatnya dengan kasar. Surya tidak perduli dengan kemarahan Sarwenda. Yang dipentingkan adalah Wind, istrinya.
__ADS_1
" Sayang! Nanti aku telephon lagi yah. Ada pacar Sarwenda nih dari tadi nungguin." kata Surya mulai pandai beralasan.
" Iya, Mas! Lagi pula kalau di kantor tidak usah telephon aku. Aku kan baik- baik saja di rumah." ucap Sarwenda diseberang sana.
" Aku selalu kangen kamu, Winda. Apalagi dengan Wisnu. Aku ingin dengar selalu ocehan maupun tangisan Wisnu, anak kita." kata Surya.
Sarwenda yang mendengar rayuan maut Surya jadi makin cemberut dibuatnya. Betapa tidak? Selama ini, dirinya tidak pernah mendapatkan dan mendengarkan rayuan maut Surya untuk dirinya. Rasa cinta Surya ke dirinya belum cukup besar. Atau mungkin saja, belum ada. Hubungan dengan Surya seperti hanya sebatas hubungan di ranjang yang melampiaskan segala hasratnya dan setelah itu sekian dan terimakasih.
Betapa menyedihkan jika diingatkan oleh hal itu, tetapi ini adalah pilihan dan kehendak Sarwenda. Bukankah dirinya yang memaksakan diri untuk memiliki Surya disaat tidak tepat. Surya tidak atau belum mencintainya. Surya menikahi dirinya karena memang bertanggung jawab atas segala yang sudah ia lakukan terhadap dirinya. Menjadi istri kedua dengan pernikahan siri. Ini sungguh ironi, padahal Sarwenda sendiri merupakan putri dari keluarga yang berada. Tentu saja, orang tua Sarwenda masih belum mengetahui segalanya. Di samping orang tua Sarwenda sibuk dengan urusan bisnisnya di luar negeri, Sarwenda sudah tinggal dirumahnya sendiri.
Jalan satu-satunya untuk menyelesaikan segalanya adalah Sarwenda harus hamil jika ia akan menikah secara hukum dengan Surya. Orang tua Sarwenda tidak akan terima jika putrinya dinikahi secara siri.
Otak Sarwenda kini sudah mulai bermain. Dirinya harus segera hamil. Supaya dirinya bisa menjadi bagian dari keluarga Pak Hartono dan menjadi istri sah dari Surya. Walaupun menjadi istri yang kedua.
Surya duduk di kursi sofa mendekati Sarwenda yang duduk dengan ekspresi masih cemberut.
" Mana kopi, mas?" tanya Surya.
Sarwenda diam dan masih merajuk. Surya mulai menyeruput kopi buatan istri mudanya itu sambil menyalakan sebatang rokoknya. Sesekali matanya melirik Sarwenda yang masih cemberut.
" Kamu tidak bisa marah, Sarwenda. Bukankah dulu kamu menggodaku ketika aku sudah memiliki Winda, istriku. Kamu pun nekad mendatangi dan menggodaku dengan berbagai cara supaya aku bisa menjadi suami kamu dan kamu ingin menjadi istriku walau menjadi yang kedua." kata Surya sambil menghisap batang rokok yang menyala itu.
Akhirnya Sarwenda tersentak sadar. Dirinya tidak boleh marah. Menjadi wanita yang kedua adalah sudah menjadi pilihannya. Diambilnya kue yang ia bawa tadi lalu di berikan ke Surya.
" Terimakasih! Bukankah tersenyum lebih baik dibanding marah- marah bukan?" ujar Surya sambil tersenyum kecil. Sarwenda mulai mencair lalu mencubit kecil pinggang Surya.
__ADS_1