
Malam semakin larut. Udara malam masuk ke celah-celah kecil jendela rumah. Wisnu sesekali terbangun minta susu. Winda dengan penuh kesabaran dan kelembutan menjadi ibu yang terbaik untuk Wisnu. Tangis Wisnu sesekali nyaring keluar dari luar kamar milik Galuh itu. Pintu nya memang sengaja di buka,hingga suara melengking Wisnu terdengar nyaring keluar.
Galuh dan Hendra masih duduk di ruang tengah sambil mengobrol.
" Bayi siapa sih?" tanya Hendra mulai sewot.
" Anak Winda, masih beberapa bulan." jawab Galuh.
" Memang nya ada masalah yah, bisa tidur kemari?" tanya Hendra selidik.
" Memangnya gak boleh, kawan aku tidur kemari bawa anak nya Bang?" tanya Galuh sewot lagi.
" Bukan begitu! Aneh saja, pasti ada yang tidak beres di keluarga nya. Kalau tidak, tidak mungkin bawa anaknya yang masih bayi gitu." tebak Hendra.
" Iya sih! Suaminya punya istri muda lagi tanpa ijin Winda." cerita singkat Galuh.
" Lalu? Apa dengan minggat begini urusan bisa kelar?" tanya Hendra penuh selidik.
" Paling tidak, Winda ingin tenang dulu." sahut Galuh.
" Perempuan kalau sedang ada masalah seperti ini. Lari saja dari permasalahan yang ada." keluh Hendra.
" Abang ini seperti sudah pernah memiliki istri saja." sahut Galuh.
" Wah.. wanita dimana - mana sama saja. Kalau lagi galau, pergi, minggat, merajuk. Minta di perhatikan. Haha." ucap Hendra dengan nada kesal.
" Bang Hendra ini loh!" sahut Galuh sambil menggelitik pinggang Abang nya.
" Galuh!" panggil Winda yang tiba-tiba datang dan menghampiri Galuh dan Hendra.
" Eh Winda! Ada apa Win? Duduk sini dulu!" ajak Galuh.
Winda membisikkan sesuatu ke telinga Winda. Winda hanya tersenyum geli mendengar Winda yang membisikkan ke telinga nya.
" Hahaha. Bang! Ada orang yang kelaparan nih, kasihan sekali. Ibu menyusui memang bawaannya lapar aja yah?" goda Galuh.
" Biar aku goreng kan ayam saja yah!" tawar Hendra lalu bangkit dari tempat duduknya.
" Eh om! Gak perlu repot-repot om!" sahut Winda.
Hendra yang dipanggil Om langsung melotot matanya. Galuh yang melihat ekspresi wajah abangnya itu semakin cekikikan dibuatnya.
__ADS_1
"Om? Memangnya aku om kamu apa? Masak sendiri sana! Jadi males aku buat nya." ujar Hendra akhirnya mengurungkan niatnya untuk menggoreng kan ayam buat Winda dan masuk ke kamar nya.
" Hahaha! Bang! Bang Hendra ganteng!" teriak Galuh dengan tawa yang membahana.
" Memangnya aku salah, kalau memanggil Om?" tanya Winda tanpa dosa.
" Itu Abang aku belum pernah menikah dan masih single, Winda! Memangnya setua itu kamu panggil om?" ujar Galuh.
" Aku kan mengajari anak aku kelak, jika memanggil Abang Hendra dengan Om." kata Winda polos tanpa dosa.
" Weleh banyak kali alasannya." sahut Galuh.
" Ya sudah! Kamu kalau lapar ambil saja di dapur. Kamu tidak perlu malu- malu yah Winda." kata Galuh.
" Aku kan memang dasarnya pemalu, Galuh!" sahut Winda.
" Kamu mau ku bikinkan kopi tidak?" tanya Winda.
" Boleh!" sahut Galuh.
" Oke. Aku mau bikin mie goreng dulu yah."sahut Winda sambil melangkah kan kakinya ke dapur milik Galuh.
Apa yang kau risau kan? Apa yang kau khawatir kan? Apa yang menjadi kegelisahan kamu? Kamu hanya mampu berdiam tanpa ada usaha mengejar aku di saat seperti ini. Aku perlu perhatian khusus dari kamu. Dari semua bentuk cari perhatian ini ke kamu. Apakah kau tidak merisaukan aku ketika keberadaan ku tidak ada di sisi kamu?
" Ada apa sih? Teriak - teriak saja. Nanti om Hendra marah loh!" kata Winda akhirnya.
" Eh kamu bisa tidak panggil bang Hendra sama kakak aku. Kamu mau di telan mentah-mentah sama dia?" ucap Galuh sewot.
" Eh iya Bang Hendra. Ada apa Galuh?" tanya Winda.
" Suami kamu, chating dengan aku. Menanyakan keberadaan kamu." kata Galuh akhirnya.
" Bilang saja tidak tahu." jawab Winda sambil memasukkan mie instan itu ke dalam panci yang sudah mendidih.
" Berbohong berdosa loh, Winda!" ujar Galuh sambil tersenyum.
" Biar dosa itu aku yang tanggung." sahut Winda.
" Widih.. hebat kali kamu!" kata Galuh semakin bersemangat menggoda Winda.
" Tapi aku sudah bilang, kalau kamu ada disini." kata Galuh berbohong.
__ADS_1
" Galuh! Kenapa gitu sih. Kan aku cuma ingin tenang dulu sebentar disini." sahut Winda mulai cemberut.
" Tapi aku bohong!" ujar Galuh.
" Gak ada yang lucu!" kata Winda sambil menoel jidat Galuh.
" Mana kopi aku?" tanya Galuh.
" Itu!" tunjuk Winda ke arah cangkir yang berisikan kopi hitam itu.
" Weh nikmat. Terimakasih sayang!" ucap Galuh.
" Punya bang Hendra mana, Winda?" tanya Galuh.
" Belum ku buatkan? Memang mau kopi?" tanya Winda.
" Mau lah!" sahut Galuh.
" Ya sudah! Nanti aku bikinkan!" kata Winda.
" Terimakasih Winda!" kata Galuh sambil melangkah menuju ruang tengah lagi.
Kebahagiaan yang terindah seorang ibu ketika bisa memberikan air susu nya kepada anak bayinya. Bisa menimang, menggendong nya dengan kasih sayangnya yang lembut. Bentuk perhatian lebih untuk anaknya yang telah lama di kandungnya di dalam perut nya sampai berbulan-bulan akhirnya di lahir kan normal dalam bentuk bayi yang mungil sempurna tanpa cacat. Rela setiap malam terjaga untuk mengganti celana atau popoknya yang basah karena mengompol. Bayi mungil itu menangis ketika lapar minta susu. Bentuk kenikmatan tersendiri yang dirasakan oleh seorang ibu, membesarkan dan mendidik anak nya sampai besar dan tumbuh dewasa nantinya. Berbeda mungkin dengan seorang ayah. Seorang ayah mungkin saja akan bahagia ketika melihat anaknya tumbuh besar dan dewasa atas kemauan nya. Semangat nya akan terus berkobar ketika pulang ke rumah dari tempat kerjanya mencari uang. Seorang ayah memberikan nafkah kepada istri dan anak- anaknya untuk kebahagiaan mereka. Berbeda ketika memiliki anak angkat bukan? Anak kandung sendiri akan lebih merasa puas dan terpuaskan karena memiliki anak dari darah daging sendiri. Ini hanya cerita kini di kehidupan sekitar kita. Dan uang bisa membuat keinginan seseorang terjadi terwujud. Semua bisa di beli dengan uang. Tetapi apakah kebahagiaan lahir dan batin bisa dibeli dengan itu semua? Jawaban nya hanya pada diri pribadi masing-masing orang. Ketika uang menjadi nomer pertama dan menjadi prioritas utama bagi kebahagian seseorang lain cerita. Kepuasan sendiri masing - masing orang berbeda. Kita bisa menciptakan kebahagiaan kita sendiri dengan standar dan paradigma kita. Kita bisa cukup bahagia asal bisa berkumpul bersama orang tua atau pun orang- orang yang kita cintai. Lain cerita ketika standar orang harus bahagia jika memiliki banyak harta benda dan berbagai fasilitas yang memadai. Segala tidak kekurangan, mau pergi keluar kota atau keluar negri tanpa ada hambatan dan kendala. Mau ini itu tanpa pikir panjang. Bagaimana dengan standarisasi hidup bahagia kalian?
" Ini kopi untuk bang Hendra!" kata Winda yang tiba-tiba datang lalu duduk di sebelah Galuh yang asyik dengan rokoknya.
Winda dengan lahap menyantap mie goreng buatannya. Galuh dengan cepat mengetuk pintu kamar Bang Hendra.
" Bang! Ini kopi nya!" teriak Galuh sambil mengetuk pintu kamar Bang Hendra dengan keras.
" Berisik amat sih!" sahut Bang Hendra sambil membuka pintu kamarnya.
" Ini kopi untuk Abang!" kata Galuh.
" Hem... kelihatan nya enak nih!" kata Hendra sambil melangkah ke ruang tengah.
" Lumayan kopinya." imbuh Hendra sambil duduk dan mulai menyalakan rokok nya.
" Itu kopi yang buat aku, om!" sahut Winda akhirnya.
" Hah? Males sekali minum kopi buatan kamu! Galuh! Bikin kan Abang kopi lagi." kata Hendra sambil teriak kencang.
__ADS_1
" Apaan sih kalian ini? Ribut terus!" Galuh mengomel pada akhirnya membuatkan kopi lagi untuk abangnya.