Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 ( EPISODE 11)


__ADS_3

" Terima kasih mas, kamu semakin membuat aku yakin akan keputusan ini." ucap Sarwenda akhirnya.


" Bukankah ini yang kamu kehendaki sedari dulu? Aku hanya memenuhi semua apa yang kamu ingin." kata Wardhana pelan.


" Ini soal harga diri bukan lagi mempertahankan cincin yang sudah melingkar di jari." tambah Wardhana mempertegas dan mengulangi kalimat nyang sudah dilontarkan oleh Sarwenda.


" Dan aku juga memiliki harga diri itu, Sarwenda!" ucap Wardhana sambil keluar meninggalkan kamar mereka.


*******


Wardhana saat ini sedang duduk di taman belakang rumah. Siwa sudah lama duduk mendekati ayah nya. Siwa masih sabar menunggu ayahnya berbicara serius dengannya. Tentu saja jika Wardhana sudah mempercayai Siwa sudah besar dan bisa di ajak bicara serius.


" Ayah!" panggil Siwa dengan pelan. Wardhana masih menghisap rokoknya yang ada di antara jarinya. Wardhana menatap anak laki-laki nya dari hubungan diluar nikah bersama Rosiana.


" Kamu sudah mendengarnya kan tadi, nak? Ayah dan mama Sarwenda akan bercerai. Pernikahan ini sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Mama kamu Sarwenda sudah tidak menginginkan ayah menjadi suaminya lagi. Dan Ayah sudah mengucapkan kata talak itu pada mama kamu, Sarwenda." kata Wardhana kepada Siwa.


Dahlia yang duduk di meja makan akhirnya pelan- pelan mendekati papa nya, Wardhana. Dahlia menangis dan memeluk Wardhana.


" Papa! Kenapa sih harus ada perceraian itu? Apakah sudah tidak bisa dibicarakan lagi? Kenapa kalian harus berpisah sedangkan papa dan mama selama ini masih bisa mempertahankan keutuhan rumah tangga ini walaupun di tambah dengan kehadiran mama Rosiana dan Arsyil." ucap Dahlia sambil menangis.


" Maafkan papa, nak! Papa sudah banyak menyakiti mama kamu. Mungkin saja ini akan membuat mama kamu bebas dan bahagia jika berpisah dengan papa." kata Wardhana.


" Seharusnya, ayah lebih bijaksana! Jadi mama Sarwenda tidak merasa di sia- sia kan oleh ayah." sahut Siwa.


Wardhana menghela nafas panjang.


" Kalian sudah mulai dewasa. Suatu saat nanti pasti akan lebih memahami kami." kata Wardhana sambil kembali menghisap rokoknya.


" Tetapi kami masih boleh ke rumah mama Rosiana kan, pa? Aku sangat menyayangi adik aku itu, pa!" kata Dahlia.


" Tentu saja! Kalian boleh kok ke rumah mama Rosiana." kata Wardhana.


Siwa dan Dahlia sebenarnya tidak menginginkan mama dan ayahnya bercerai. Namun mereka juga harus menerima itu, permasalahan orang dewasa yang mungkin belum mereka pahami.


" Ayah, pulang dulu yah! Jaga mama Sarwenda dulu, yah nak!" kata Wardhana sambil berdiri dan mengambil tas ranselnya.


" Ayah tidak tidur di sini?" tanya Siwa.


" Ayah lebih baik pulang dulu. Nanti kalau ayah di sini, mama kamu, Sarwenda tidak mau keluar dari kamar dan tidak mau makan. Itu malah semakin membuat ayah merasa bersalah." ucap Wardhana.


" Iya, mama Sarwenda sejak tadi belum makan!" sahut Dahlia.


" Titip mama Sarwenda, yah nak! Antar makanan ke kamar nya." suruh Wardhana kepada Dahlia.


" Baiklah, papa!" sahut Dahlia.

__ADS_1


" Ayah pulang yah!" kata Wardhana sambil memberikan tangannya untuk bersalaman dengan anak-anak nya. Mereka menyambut tangan ayah, papa nya tanpa ada rasa kebencian kepada Wardhana. Memang pada dasarnya Wardhana dengan anak-anak nya selalu berbuat baik dan penuh perhatian walaupun dirinya mendua dengan Rosiana. Dan bagi Sarwenda itu adalah menyakitkan.


*******


Ditempat lain. Andrie dan Jelita.


Andrie berjalan beriringan dengan Jelita. Jelita tampak dari tadi cemberut dengan Andrie. Andrie sesekali menoel pinggang Jelita. Namun Jelita masih merajuk dengan Andrie.


" Jelita! Widih cantikku lagi merajuk nih!" goda Andrie. Jelita masih tetap tidak peduli dnegan Andrie.


" Siapa yang merajuk?" sahut Jelita dengan cepat menjauhi Andrie.


" Hai mau kemana?" tanya Andrie dengan cepat menahan tangan Jelita.


" Mau cari laki-laki yang setiap saat dan setiap waktu aku mau, dia siap datang kepadaku." jawab Jelita sambil berusaha melepas tangan Andrie. Andrie malah semakin cekikikan.


" Kamu kenapa sih? Cemburu dengan istri aku, Intan?" tanya Andrie.


Jelita tidak bicara hanya menatap wajah Andrie yang menatap bola matanya.


" Aku gak cemburu yah, gak level juga jika aku dibandingkan dengan istri kamu." sahut Jelita kembali sewot.


" Hahaha." Andrie kembali tertawa.


Jelita dan Andrie kini sudah di villa pribadi milik Jelita. Andrie dan Jelita duduk sambil menikmati coklat panas. Cuaca dingin sudah menusuk pori- poti kulit. Andrie mendekati Jelita dan memeluk nya dari belakang.


" Tidak! Aku hanya merenungi nasib aku saja." jawab Jelita sambil ikut memegang tangan Andrie yang memeluk dirinya.


" Ada apa rupanya?" tanya Andrie sambil mengecup leher milik Jelita. Jelita seketika melenguh.


"Kenapa aku jatuh cinta kepadamu ketika aku dan kamu sudah memiliki pasangan. Sebenarnya aku tahu dan sangat paham. Ini adalah kesalahan. Namun aku berusaha menepisnya tetapi aku sangat tersiksa jika tidak berjumpa dan tidak perduli dengan kamu." kata Jelita sambil mendongak ke atas melihat Andrie.


"Sekarang bagaimana? Aku juga berpikir demikian. Aku semakin merasa bersalah ketika melihat istri aku. Istri aku yang penuh perhatian dan peduli dengan aku. Apa yang kamu rasakan sama halnya dengan aku. Tetapi untuk menyudahi hubungan ini aku belum bisa, Jelita. Apakah ini yang namanya egois?" ucap Andrie lalu membalikkan tubuh Jelita hingga keduanya saling berhadapan dan saling beradu pandang.


Keduanya seperti terhipnotis dalam kekuatan cinta yang salah itu. Mereka saling merasakan deru nafas yang semakin menghangatkan. Jelita tidak tahan akan hal itu. Apalagi Andrie mulai meraih dagunya dan mendekatkan ke bibir nya. Andrie tidak akan membiarkan bibir merekah itu tanpa sentuhannya. Malam ini tidak mungkin Andrie membiarkan wanita yang di hadapan nya dalam kehampaan akan cinta nya. Walaupun cinta mereka salah, namun mereka melakukan nya atas dasar suka sama suka. Mereka saling mengakui kenyamanan dan memiliki rasa aneh itu. Padahal keduanya sangat sadar kalau hubungan seperti itu adalah salah besar. Andrie dan Jelita sama- sama sudah memiliki pasangan yang sah.


" Setelah ini, kita tidak perlu bertemu kembali yah, Andrie! Kita kembali ke kehidupan masing-masing. Aku kembali ke keluargaku dan kamu juga demikian. Kita saling membantu untuk tidak berhubungan kembali. Saling membantu untuk melupakan hubungan yang terlarang ini. Kita tidak perlu komunikasi lagi." kata Jelita penuh rencana.


" Kamu yakin akan bisa melakukannya?" tanya Andrie sambil mengecup lembut dahi Jelita.


" Kita harus paksakan diri kita untuk tidak saling peduli dan komunikasi lagi. Kita harus menyudahi semuanya. Oke!" kata Jelita sambil memegang rahang keras milik Andrie. Jelita mulai mendekati bibir Andrie lalu memulai duluan menciumnya dengan penuh semangat. Seolah malam itu adalah malam terakhir bagi mereka melakukan hubungan panas dan liar itu.


Andrie mengikuti Jelita membawa nya ke suatu tempat yang lebih nyaman untuk saling memberikan kehangatan di cuaca dingin malam itu. Sesaat mereka melupakan pasangan halalnya. Sesaat mereka hanya egois akan keinginan dan hasrat nya. Sesaat mereka fokus dengan pasangan di dekatnya. Sesaat mereka lupa akan dosa. Sesaat mereka tidak perduli hukum Tuhan. Mereka hanya ingin melepaskan segala gejolak rasa yang sudah menumpuk.


" Kamu yakin, setelah ini tidak ingin melakukan hal ini bersama aku kembali, Yank?" bisik Andrie dengan nafas yang mulai memburu.

__ADS_1


" Iya! Aku yakin! Bantu aku untuk menyudahi hubungan yang penuh kenikmatan ini." sahut Jelita sambil melenguh menikmati gesekan biola yang mengalun yang dimainkan oleh Andrie dengan gerakan maju mundur itu.


*******


Kembali ke Sarwenda.


" Mama! Mama yakin akan berpisah dengan papa?" tanya Dahlia sambil menyuapi mama nya yang masih ada di dalam kamarnya.


Sarwenda akhirnya membenarkan duduknya dan mengambil piring yang isinya makanan dari tangan Dahlia. Sarwenda mulai memakan sendiri.


" Makanan ini enak! Siapa yang masak?" tanya Sarwenda seolah berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


" Bibi yang masak!" jawab Dahlia.


Dahlia tahu, mama nya saat ini masih malas membahas hal itu. Akhirnya Dahlia pergi meninggalkan kamar mama nya.


" Mama! Aku tunggu di ruang tengah yah! Aku ingin berbicara dengan mama." kata Dahlia.


" Dahlia!" panggil Sarwenda. Dahlia kembali menoleh ke arah mama nya.


" Baiklah! Kita ke ruang makan sekarang!" kata Sarwenda lalu bangkit dari tempat tidur nya lalu bergegas keluar dari kamarnya diiringi Dahlia.


Dahlia dan Sarwenda duduk di ruangan makan. Sarwenda masih sibuk makan dengan lahapnya. Dahlia mulai mengambilkan air mineral untuk mama nya. Sarwenda hanya menatap Dahlia setelah itu kembali tersenyum dengan putrinya itu yang wajahnya sangat mirip dengan Wardhana.


" Kamu sudah besar Dahlia. Dan ketika aku melihat kamu, seolah aku melihat pantulan wajah papa dari kamu." kata Sarwenda kepada Dahlia.


" Lalu? Apakah mama menjadi membenci aku?" tanya Dahlia.


Sarwenda diam dan masih sibuk dengan makanan yang ada di piringnya. Sarwenda kembali mengambil nasi, sayur dan juga lauk yang ia letakkan di piring. Sarwenda kembali memakannya dengan lahap seolah dua hari belum makan.


" Mama!" panggil Dahlia.


" Iya, sayang! Mama hari ini lagi selera makan. Ini tumben masakan bibi hari ini sungguh menggoda mama." kata Sarwenda.


" Mama! Hiks... hiks.. hiks.." kata Dahlia sambil menangis. Dahlia melihat mama nya seperti menutupi kesedihan nya dengan tingkahnya yang konyol.


Sarwenda malah menatap Dahlia.


" Kamu kenapa sih, nak? Mama lagi makan loh malah nangis?" ucap Sarwenda kembali menghabiskan makanan nya.


" Mama! Hiks... hiks.. Aku tahu mama sedih. Kau tahu mama saat ini lagi kacau. Mama! Tapi kalau ini sudah menjadi keputusan mama untuk bercerai dengan papa, ya sudah! Mama jangan berlarut- larut dalam kesedihan ini. Mama pasti bisa menjalani semua tanpa ada papa di sampingmu mama lagi." ucap Dahlia.


" Loh! Bukannya selama ini mama sering sendiri tanpa ada papa? Mama sudah biasa loh, nak! Untuk apa mama sedih?" ucap Sarwenda seolah menunjukkan bahwa keputusan bercerai dengan Wardhana tidak mempengaruhi dirinya.


Dahlia hanya melongo dan menatap ke arah mamanya. Sarwenda malah menyuapi Dahlia dengan potongan daging ke mulut Dahlia. Dahlia menerima suapan dari mamanya lalu melempar senyumnya kepada mama nya.

__ADS_1


" Mama! Aku sayang mama!" ucap Dahlia penuh haru.


" Iya, mama juga! Nanti kalau kamu sedih, akan mama carikan papa baru lagi untuk kamu loh!" canda Sarwenda akhirnya. Dahlia yang mendengarnya dengan cepat mencubit lengan mama nya.


__ADS_2