
Jelita mengetuk pintu kamar yang saat ini ditempati oleh Hendra. Beberapa kali Jelita mengetuk pintu kamar itu, namun Hendra masih belum juga membuka pintu nya. Jelita terlihat putus asa akan situasi itu. Mbak perawat yang mengintip dari jauh, merasa kasihan dengan Jelita.
" Bang Hendra!" panggil Jelita sambil mengetuk pintu kamar itu. Namun penghuni kamar itu seperti tidak memberikan sahutan nya.
Di dalam kamar, bukan Hendra tidak mendengar panggilan suara dari Jelita dan ketukan pintu kamar nya. Namun Hendra masih sangat malas jika harus berbincang dan berhadapan dengan Jelita. Hendra mengkhianati, jika dirinya tidak bisa mengontrol emosinya ketika menghadiri Jelita.
" Bang Hendra! Aku minta maaf bang!" kata Jelita kembali. Kali ini Jelita sampai menangis tersedu- sedu sambil mengetuk pintu kamar itu dengan kerasnya.
Suara tangisan Jelita begitu menyayat hati. Apalagi mbak Perawat yang melihat dari kejauhan ikut bersedih dengan tangis Jelita di depan pintu kamar suaminya tersebut.
Akhirnya Pintu kamar itu dibukanya. Sosok laki-laki itu yang dulunya ceria dan mudah tersenyum, kini terlihat dingin dan cuek. Hendra benar-benar tidak tega dengan tangisan Jelita. Kini Hendra berjongkok dan mengusap air mata wanita itu.
" Apa yang kamu tangisi? Apakah karena Andrie sudah meninggal?" sindir Hendra. Jelita dengan cepat menggelengkan kepalanya.
" Aku minta maaf, bang Hendra! Aku minta maaf! Aku. minta maaf!" kata Jelita sambil bergetar bibirnya mengatakan hal itu. Hendra mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamarnya. Hendra ingin segala masalah nya selesai sudah. Mungkin saatnya dia harus tegas dan berani berbicara kepada Jelita.
__ADS_1
Pintu kamar itu kini sudah ditutup Hendra. Jelita meraih tangan milik Hendra dan mencium punggung nya. Hendra menariknya.
" Aku sudah memaafkan kamu, Jelita." ucap Hendra. Jelita tersenyum.
" Terimakasih bang! Setelah apa yang aku lakukan, engkau sudi memaafkan aku." sahut Jelita.
" Tentu saja, aku memaafkan kamu! Namun tidak untuk kembali lagi seperti dulu." ujar Bang Hendra. Jelita mulai diam dan menelaah kata- kata yang dilontarkan oleh Hendra.
" Maksud, abang?" tanya Jelita. Hendra menghela nafasnya.
Hendra terdiam dan mengusap wajahnya dengan kasar.
" Maaf, Jelita! Kamu tahu, bukan? Aku bukan laki-laki yang sempurna. Dan aku sangat menyadari hal itu. Sehingga kamu masih tidak puas akan diriku. Nyatanya kamu bermain api dengan sahabat aku sendiri, Andrie." sindir Hendra. Kembali Jelita menangis histeris.
" Aku minta maaf, bang! Aku minta maaf! Bukan! Bukan kamu tidak sempurna. Aku lah yang tidak bersyukur memiliki kamu, bang!" sahut Jelita.
__ADS_1
" Kebenaran nya kamu sudah menjalin hubungan dengan Andrie. Itu artinya aku bukan laki-laki yang sempurna di mata kamu. Kamu lebih memilih Andrie. Dan bagi kamu, Andrie begitu manis dan segala-galanya, bukan?" sindir Hendra kembali.
" Maaf! Maaf!" sahut Jelita lagi. Air matanya membanjiri pipinya.
" Aku sudah memaafkan kamu, Jelita! Dan aku sudah ikhlas melepaskan kamu. Apalagi setelah kamu keluar dari rumah ini dan menemui laki-laki lain itu, aku sudah ikhlas melepaskan kamu." ungkit Hendra. Jelita mulai menyesali kesalahan nya.
" Aku menyesal, bang! Aku menyesal!" sahut Jelita.
" Aku sudah memaafkan kamu, Jelita! Sungguh aku benar-benar telah maafkan kamu. Namun hargailah keputusan aku, aku akan melepaskan kamu pergi dan menceraikan kamu." kata Hendra. Jelita tidak lagi bisa berkata-kata.
Hendra membuka pintu kamarnya itu dan mendorong kursi roda itu keluar dari sana. Hendra memanggil perawat yang mengurus Jelita untuk segera membawa Jelita masuk ke dalam kamar Jelita. Dengan sangat berat, Jelita akhirnya menerima segala keputusan dari Hendra.
" Bang Hendra sudah tidak menerima aku sebagai istrinya, mbak! Dia akan segera menceraikan aku." ucap Jelita kembali tersedu-sedu.
" Yang sabar yah, mbak Jelita!" sahut mbak perawat itu.
__ADS_1
" Aku menyesal, mbak! Aku menyesal. Kenapa aku mengkhianati bang Hendra dan menjalin hubungan terlarang dengan Andrie. Bang Hendra benar! Aku telah menyakiti dirinya, apalagi aku telah berselingkuh dengan sahabat nya sendiri." kata Jelita dengan tangisan nya.