
Jika kamu bertanya padaku, sebesar apa cinta ku padamu. Aku tidak akan bisa menjawabnya karena cinta ini tidak bisa aku ukur dan timbang. Jika kamu bertanya padaku, bagaimana rasa nya rindu itu. Rindu itu berat dan sangat berat. Ketika aku berusaha melawan dan menepisnya gelora itu semakin memuncak. Tubuh akan semakin bergetar hebat, menggila dan menggigil karena penolakan antara pikiran, hati dan jiwa. Seketika tubuh akan melemah, memanas, meradang merasakan gejolaknya. Budak cinta akan memenuhi bahasa.
Sesak karena menahan rindu. Menuangkan air mata yang mengkristal bening. Hati tiada kuasa menolak rasa rasa yang semakin menggelora. Ingin melepaskan tapi tidak kuasa. Apakah cinta ini sudah mendarah daging. Jika cela sudah tampak di pelupuk mata. Aku sudah gila dan menggilai mu dengan rasa.
*******
Di dalam kafe yang cukup ramai dengan pengunjung nya. Surya dan Winda duduk saling berhadapan. Beberapa minuman dan makanan sudah di pesan. Kini pelan- pelan Winda menikmati segala sesuatu yang sudah di sajikan. Surya mulai memandangi wajah Winda. Belum ada pembicaraan dan obrolan diantara mereka. Winda masih fokus dengan minumannya.
" Winda Sayang! Sudah hampir 5 tahun kita bersama. Selama ini kita saling terbuka satu sama lain. Jika kamu ada keluhan tinggal di rumah mama, katakan saja. Apa kamu ingin aku belikan rumah untuk mu?" kata Surya dengan pandangan teduh ke arah Winda.
" Kalau kamu diam, aku anggap kamu menyetujui nya. Aku tahu rumah seperti apa yang kamu inginkan, Winda. Rumah yang tidak terlalu besar dengan bahan dasar kayu di sekitar nya banyak tumbuhan dan bunga- bunga bermekaran." tambah Surya.
" Mas! Sebenarnya aku tidak menginginkan itu semua. Aku hanya menginginkan kamu saja. Aku berharap kamu tidak akan berubah seperti dahulu yang aku kenal. Katakan jika ada sesuatu yang harus kamu ceritakan, Mas. Jangan mencoba menyembunyikan sesuatu dari aku. Ini sangat menyakitkan bagi aku, Mas." kata Winda masih penuh teka- teki.
" Tidak ada yang aku sembunyikan, sayang. Aku masih tetap seperti dahulu. Tidak ada yang berubah. Aku adalah suami kamu satu- satu nya yang menyayangi kamu dengan tulus. Apakah kamu mulai meragukan soal ini, sayang?" ujar Surya.
" Aku takut. Takut ketika suatu hari kamu berpaling dari aku, Mas. Dan rasa itu berangsur-angsur akan hilang. Lalu kamu mulai menjauhi aku. Kita akan semakin jauh walau dekat. Akhirnya terciptalah jurang diantara kita." ucap Winda.
" Winda sayang! Kamu bicara apa sih? Sampai kapan pun kita adalah suami istri yang tidak akan pernah terpisahkan. Sampai tua dan kakek nenek kita akan selalu bersama menikmati masa tua bersama anak dan cucu kita." kata Surya sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
" Manis sekali khayalan ini mas. Tapi aku tidak berani berkhayal terlalu tinggi. Aku hanya memikirkan kemungkinan yang terburuk yang akan terjadi. Kamu adalah pria mapan, ganteng dan cukup berkharisma. Tidak heran ketika kamu di luar sana, wanita- wanita akan banyak melihat, tertarik terhadap kamu, Mas." ungkap Winda.
" Bagiku, wanita- wanita di luar sana tidak secantik diri kamu, Winda. Kamu tetap wanita sempurna yang sudah aku kenal, yang lain tidak akan aku lihat. Winda sayang! Apakah kamu mulai mengkhawatirkan aku, sayang? Mulai was- was karena suami kamu adalah seorang pengusaha muda yang gagah. Jadi kamu mulai menyadari, bahwasanya suami kamu ini keren?" goda Surya.
Winda hanya melotot menatap Surya dengan senyumnya yang menggoda.
" Kalau kamu diam berarti jawabannya ' iya' dan kamu membenarkan itu semua. Hehe. Terimakasih Winda sayang. Kamu mulai mencemaskan suami kamu ini." kata Surya sambil tersenyum dan meraih tangan Winda yang dingin.
" Lalu? Apakah kamu tidak mencemaskan aku mas?" tanya Winda.
" Aku sangat percaya dengan kamu Winda. Kamu adalah tipe wanita yang penurut, setia dan tidak neko-neko. Apa yang harus aku khawatir kan dari istri aku ini?" kata Surya.
" Lho? Aku juga bisa dan ada kemungkinan untuk selingkuh dan bermain hati dengan pria lain juga lho mas. Wanita seperti aku pun masih ada yang mau dengan ku." sanggah Winda.
" Terimakasih banyak atas kepercayaan dan penilaian itu kepada aku, mas." sahut Winda.
" Tapi suatu hari, kalau terbukti aku mengkhianati kamu. Apa yang akan kamu lakukan mas?" imbuh Winda.
" Aku tidak akan segan-segan untuk menceraikan kamu, Winda. Tapi itu tidak akan pernah terjadi karena kamu adalah tipe wanita dan istri yang setia. Aku percaya itu!" ucap Surya.
Winda kembali menikmati minuman dan hidangan penutup yang ada di meja itu. Sesekali matanya menatap wajah suaminya yang mulai pandai berkata-kata. Mulai pandai menyembunyikan semua kebenaran yang terjadi.
__ADS_1
" Kalau suatu hari ternyata yang mengkhianati hubungan ini adalah kamu, mas. Tindakan apa yang harus aku putuskan, ketika kekecewaan ini sudah hadir dalam diri aku. Langkah apa yang akan kamu ambil, ketika kamu mengakui pengkhianatan itu?" tanya Winda mulai memojokkan dan memancing Surya.
" Itu tidak akan pernah terjadi sayang. Aku tidak akan mengkhianati kamu. Terpikir dalam benak aku saja, tidak ada sayang. Aku sudah sangat bersyukur sudah memiliki kamu. Apakah perlu, aku bersumpah dengan ini?" kata Surya sambil tersenyum menggoda.
" Tidak! Tidak perlu kamu bersumpah." sahut Winda mulai geregetan melihat wajah suami nya yang mulai menunjukkan kepalsuan dari kebohongan nya.
" Katakan saja, Mas! Jika itu terjadi, apa yang akan kamu lakukan? Apakah kamu akan memilih wanita itu atau memilih aku? Atau kamu akan menceraikan aku?" tanya Winda.
" Winda sayang! Tolong jangan bahas seperti ini sayang. Lebih baik kita menikmati kebersamaan ini." sahut Surya.
" Jawab saja Mas! Walaupun itu pahit!" tantang Winda.
" Baiklah! Tentu saja aku akan memilih kamu, sayang. Bukankah kamu sudah memberikan aku seorang anak, yang gagah?" jawab Surya.
" Kalau wanita itu juga memberikan kamu seorang anak, apakah kamu juga bakalan memiilih dia mas?" tanya Winda memojokkan Surya.
" Cukup sayang? Aku tidak ingin membahas dan menjawab pertanyaan- pertanyaan yang konyol ini. Hubungan kita masih baik- baik saja. Jangan dirusak dengan pikiran yang tidak-tidak dan tidak akan pernah terjadi." ucap Surya mulai panik.
" Kalau begitu aku saja yang putuskan! Jika semua terbuka dan terbukti, bahwasanya kamu telah mengkhianati aku, mas. Aku akan menggugat cerai dengan kamu, mas. Cukup dan akan aku akhiri status pernikahan kita ini." kata Winda lantang.
" Hah?? Winda sayang! Jangan bicara seperti itu sayang! Sudah! Sudahlah! Besok akan aku belikan rumah idaman kamu, ya sayang!" rayu Surya sambil membelai rambut Winda.
__ADS_1
" Jangan berpikiran seperti itu lagi sayang. Aku masih tetap menjadi suami kamu, yang menyayangi kamu seperti dahulu." imbuh Surya.