Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
INGIN MENDEKATI SURYA


__ADS_3

Di ruang tengah, mereka semua masih menunggu Surya dan Winda seolah mereka adalah terdakwa yang siap dihakimi oleh mereka. Dengan langkah yang tidak takut- takut, Surya berjalan menghampirinya mereka semua. Winda pun berjalan tanpa ragu ikut bergabung dengan mereka. Dalam hal ini, mungkin saja Winda sebagai pihak korban dari terdakwa itu sendiri. Atau kah Sarwenda sebagai pihak pelapor dan korban itu sendiri.


Pak Hartono mulai menjelajahi ruang tengah itu. Sikap tegas dan keras nya masih belum menciut. Kharismanya belum ia pudarkan. Setelah Surya dan Winda duduk bergabung dengan mereka, akhirnya beberapa menjadi cukup hening dan belum ada yang memulai berbicara. Sampai akhirnya, Pak Hartono memulai pembicaraan nya.


" Surya! Kedatangan Pak Danu beserta putri nya ini adalah ingin menyampaikan berita, bahwasanya kamu adalah ayah dari anak yang dikandung putri nya Pak Danu. Dan mereka menyampaikan bahwasanya kamu sudah pernah menikah siri dengan siapa?" tanya Pak Hartono sambil melihat dan bertanya pada Pak Danu.


" Sarwenda, pak!" jawab Pak Danu.


" Oh iya Sarwenda! Benarkah begitu Surya?" tanya Pak Hartono sambil menatap tajam Surya.


Surya terlihat melihat ke arah Winda yang sedang menunduk. Winda seperti sedang menyimak setiap kalimat- kalimat yang akan diucapkan oleh penghuni ruangan tersebut. Winda seperti sudah mempersiapkan mental tentang segala hal yang akan terjadi tanpa perkiraan nya.


" Pak Danu! Papa dan mama! Sebelumnya saya meminta maaf, selama ini kurang sopan dan bertindak tanpa sepengetahuan kalian. Memang benar adanya kami sudah menikah siri dengan membayar wali hakim. Saya mengakui segalanya akan kesalahan dan kelemahan saya sebagai laki- laki normal. Tetapi sudah hampir dua bulan saya tidak lagi menggauli Sarwenda. Saya di sibukkan pembukaan proyek cabang yang sedang kami dirikan di luar kota. Tentu saja hal ini, diketahui oleh papa saya. Saya pribadi sebenarnya tidak menginginkan Sarwenda menjadi istri saya lagi karena ada sesuatu hal yang tidak bisa saya pertahankan. Alasan ini tentu saja tidak bisa saya ungkapkan disini karena akan lebih memojokkan Sarwenda dan menghina Sarwenda. Mungkin saja suatu hari kebenaran akan terbuka sendiri." ucap Surya serius sambil melihat Sarwenda yang mulai merah padam mukanya karena amarah.


" Maksud nya apa Mas? Aku sudah sah menjadi istri kamu! Apalagi yang kamu buat untuk menepis alasan kalau kamu bukan ayah dari bayi yang aku kandung?" kata Sarwenda keras sambil berdrama queen.


" Sudah! Sudah! Supaya tidak ribut dan panjang lebar, saya akan mengijinkan Surya menikahi kamu, Sarwenda jika itu terbukti anak dari Surya. Jika terbukti kamu melakukan kebohongan, saya akan menuntut balik untuk pencemaran nama baik keluarga kami." kata Pak Hartono tenang.


" Papa! Tidak bisa begitu Pa!" sahut Surya langsung berdiri dari kursinya.


" Kenapa Surya? Apakah kamu takut? Jika apa yang sudah kamu katakan tadi benar adanya, dua bulan sudah tidak bersama- sama atau menggauli wanita ini, kenapa kamu risau." ucap Pak Hartono.


" Asal tahu saja yah om Hartono, kehamilan ini sudah berusia dua bulan, tentu saja sudah dipastikan ini anak Mas Surya. Apakah Om Hartono dan juga Mas Surya menganggap aku mau tidur dengan laki-laki lain, selain suami sah ku? Walaupun kami menikah secara agama." kata Sarwenda.

__ADS_1


" Sarwenda! Kamu yang sopan dengan papa aku!" sahut Surya.


" Sudah tidak apa-apa! Sarwenda lagi emosi sesaat saja. Tapi apa yang kamu sampaikan dan ucapkan, bisa menerangkan bahwa itulah yang kamu lakukan, nak Sarwenda!" ucap Pak Hartono memojokkan.


" Om! Saya adalah tipe wanita yang setia om! Saya tidak akan berkhianat dan mengkhianati Mas Surya." kata Sarwenda dengan suara keras dan mulai menangis penuh drama Korea.


" Baiklah! Baguslah kalau kamu bisa menjadi wanita yang selalu menjaga kehormatan kamu. Keluarga Hartono akan bangga mempunyai menantu yang setia dan menjaga kehormatan nya." ucap Pak Hartono.


" Maaf Pak Hartono! Dari tadi kenapa seolah putri saya lah yang salah dan mengada - ada dengan pengaduan nya. Saya selaku ayah kandung nya sangat tidak rela juga ketika putri saya di hina seperti itu, apalagi belum ada bukti." ujar Pak Danu.


" Maaf Pak Danu, situasi kita saat ini masih bersitegang. Baiklah saya pribadi minta maaf. Sekarang saya serahkan saja pada Sarwenda. Apa yang akan dikehendaki sekarang ini. Tapi untuk menuntut menikah, belum saya kasih ijin sebelum terbukti itu adalah anak darah daging Surya." kata Pak Hartono tegas.


" Saya ingin dekat dengan Mas Surya dengan cara tinggal di sini. Kalau saya di rumah sendiri, Mas Surya jadi tidak mau datang lagi ke rumah. Dengan harapan supaya Mas Surya mengakui kalau bayi yang dikandung ini adalah darah dagingnya." ucap Sarwenda.


" Tidak apa-apa mas! Aku, beberapa hari lagi juga akan pindahan ke tempat rumah baru." ujar Winda dengan tersenyum.


" Winda? Benarkah? Surya apa kamu membelikan rumah untuk Winda?" tanya Pak Hartono sambil menatap wajah Surya.


" Iya pa! Untuk Winda dan anakku, Wisnu. Mereka harus memiliki aset karena Wisnu adalah anak laki-laki aku pa!" jawab Surya.


" Tapi kenapa kalian tidak menyampaikan ke papa, perihal ingin pindahan dari rumah ini?" tanya Pak Hartono.


" Maaf pa! Winda dan juga Surya sudah berbicara dengan mama. Mama lah yang belum sempat menyampaikan nya pada papa." sahut Bu Hartini.

__ADS_1


" Tapi kami akan kesepian jika tidak ada kamu dan Wisnu di rumah ini, Winda." ucap Pak Hartono.


" Papa, mama, kami akan sering- sering datang ke rumah ini." sahut Surya.


" Papa dan mama yang akan sering datang ke rumah baru Winda saja. Kami ingin suasana baru juga." ujar Bu Hartini.


" Iya ma!" kata Winda sambil tersenyum.


Pak Danu dan Sarwenda masih duduk di sofa itu. Pak Danu mulai tidak nyaman berada di tempat itu.


" Pak Hartono! Kalau begitu saya permisi dulu pak. Kami secara pribadi minta maaf yang sebesar besarnya." kata Pak Danu yang tidak bisa berbuat banyak.


" Baik Pak Danu! Untuk selanjutnya, silahkan Sarwenda kalau ingin tinggal di rumah ini. Kami akan menjaga dan merawat Sarwenda sampai kelahiran anaknya." kata Pak Hartono.


" Baiklah pak! Saya tidak bisa berbuat banyak. Selagi masih ada orang tua, anak-anak kita tidak pernah bisa dewasa dan manja. Saya sangat menyesali akan hal ini." ucap Pak Danu.


" Tidak apa-apa pak. Kita sebagai orang tua masih ada kelemahan dan keteledoran karena kita masih disibukkan dengan bisnis dan urusan kerjaan." ujar Pak Hartono.


" Baiklah pak! Sampai ketemu besok lusa!" ucap Pak Danu sambil masuk ke dalam mobilnya di ikuti Sarwenda setelah menjabat tangan semua penghuni rumah keluarga Hartono tersebut.


" Winda! Kamu harus bersabar dan berlapang dada yah nak!" kata Pak Hartono kepada Winda setelah mobil milik Pak Danu itu melesat pergi dari pekarangan rumah Pak Hartono.


" Insyaallah pa!" jawab Winda.

__ADS_1


__ADS_2