Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KEDEKATAN ANTARA


__ADS_3

Kembali ke keluarga Pak Hartono. Di sore hari menjelang malam itu Pak Hartono dan Bu Hartini sedang kedatangan tamu. Kolega bisnisnya yang sudah cukup lama dikenali nya. Haidar beserta ayah dan bundanya. Di sore itu mereka berbincang-bincang santai disertai menikmati makan makanan baik yang dibawa oleh bundanya Haidar maupun makanan yang dibikin oleh Bu Hartini.


Bundanya Haidar yang asli orang palembang sangat mahir membuat pempek dengan cuko nya. Pempek yang dibuat pasti terasa ikannya. Cuko nya yang kental dan pedas makin membuat pempek semakin lezat.




" Ini mantap sekali loh, jeng!" kata Bu Hartini sambil menikmati pempek buatan bunda Haidar itu. Sedangkan Bu Haidar mencoba menikmati mendoan yang dibuat oleh Bu Hartini yang dilengkapi dengan sambel kecap nya.




"Pedes! Sambel kecapnya.. uh hah." ucap bunda Haidar. Orang yang mendengarnya sontak tertawa termasuk Haidar dan ayah Haidar.

__ADS_1


" Bunda! Bunda yang tidak suka pedas, jangan coba- coba makan pedes bunda sayang!" protes Haidar sambil memberikan botol air mineral kepada bunda nya.


" Terimakasih, sayang! Tapi walaupun pedes ini sangat enak sayang." ucap Bunda Haidar kali ini sambil memotong tempe mendoan nya lalu Mencelupkannya di sambel kecap.


" Istri saya paling suka sambel pak." kata Pak Hartono kepada ayahnya Haidar.


" Oh begitu yah! Kalau istri saya biasanya gak suka sambel dan pedes. Ini tumben mau makan banyak."cerita ayah Haidar.


*******


" Tentang apa itu, pak?" tanya Pak Hartono.


" Kira-kira menantu Pak Hartono yang bernama Winda itu sudah ada calonnya tidak Pak? Maaf sebelumnya kalau saya bertanya soal ini." kata ayah Haidar.


" Tidak apa santai saja! Saya rasa saat ini Winda lagi sendiri. Kalau dulu sempat ada bahkan akan menikah. Namun karena ada sedikit permasalahan yang timbul diantara mereka akhirnya mereka memutuskan tidak jadi menikah. Saya pikir ini hanyalah soal waktu dan mereka suatu saat akan kembali baik dan menikah lagi Tapi sampai saat ini saya lihat belum ada perkembangan nya. Mereka masih jaga jarak dan tidak saling berhubungan satu dengan yang lain." cerita Pak Hartono yang mengalir begitu saja seolah ayahnya Haidar sudah menjadi orang dekat dan bisa dipercaya nya.

__ADS_1


"Oh begitu yah!" sahut ayahnya Haidar.


" Iya, ngomong- omong kenapa bertanya soal menantu saya pak?" tanya Pak Hartono kepada ayahnya Haidar.


" Jangan marah yah, Pak! Ini hanya omongan diantara kita dulu. Dan jangan diambil hati kalau Pak Hartono tidak berkenan." kata ayahnya Haidar.


" Santai saja Pak! Kita sudah lama bersahabat." sahut Pak Hartono sambil menepuk pundak milik ayahandanya Haidar.


" Saya pribadi sangat tertarik dengan menantu Pak Hartono itu, Winda. Sepertinya cocok kalau kita jodohkan dengan Haidar anak saya." ucap ayahandanya Haidar sambil tersenyum.


Pak Hartono diam sambil berpikir dan menilai. Matanya menatap Haidar yang duduk di samping bundanya beserta istrinya itu. Haidar begitu terlihat menyayangi bundanya.


" Iya, juga yah! Haidar dan Winda kalau disandingkan sangat cocok. Bagaimana kalau kita semuanya kita serahkan pada istri- istri kita supaya bisa menjadi mak comblang antara Winda dengan Haidar. Saya pribadi sangat cocok." kata Pak Hartono sambil terkekeh.


" Benar juga! Untuk urusan seperti itu saya rasa istri- istri kita akan lebih jago." sahut ayahandanya Haidar.

__ADS_1


__ADS_2