Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
AJAKAN NIKAH


__ADS_3

Cerita sudah terjadi dan mengalir. Aku terjatuh dan terjerembab dengan muslihat mu. Kemana kah harus ku hapus noda hitam dalam tubuh ku. Aku mengikuti alur mu yang membuat aku sedih pilu. Wanitaku! Maafkan kesalahan ini. Maafkan kekhilafan ini. Aku khianati jalinan kasih ini. Sudi lah maafkan aku. Dalam penyesalan yang tak berujung. Telah ku nodai buku suci ikatan ini. Aku tersungkur dalam sesal ini. Wanita ku! Aku bukan lagi laki - laki yang sempurna dari pandangan mu.


( Suara hati Surya dalam Penyesalan nya)



Jika penyesalan bisa ku hapus. Jika titik kekecewaan ini bisa aku singkirkan. Jika noda hitam ini bisa di suci kan. Jika semua pengkhianatan ini tidak terjadi. Semuanya tidak akan menjadi celah jendela untuk kau mulai derita ini. Kamu sudah mencengkram ku dalam penyesalan yang panjang. Kamu sudah memenjarakan hati ku dalam neraka panas yang sulit buatku bernafas. Semua yang memulai mu. Aku tersungkur dalam penjara cinta mu yang tak berujung.


Surya dan Sarwenda masih di atas ranjang. Mereka masih berbalut selimut putih yang tebal. Ruangan yang dingin membuat Sarwenda menguasai Surya. Surya dalam lamunan nya. Pandangannya kosong ke langit - langit kamar milik Sarwenda. Surya tidak berkutik. Surya ingin menyingkirkan pelukan Sarwenda dalam dada bidang nya. Tetapi dia bukanlah laki - laki yang lepas dari permasalahan. Surya adalah laki - laki yang punya tanggung jawab dan berani menanggung segala resiko apa yang sudah ia perbuat. Surya mulai berpikir panjang. Langkah apa yang akan ia ambil setelah ini. Sedangkan Sarwenda memang benar-benar tergila dan menggilainya. Apakah dia akan mampu, menduakan Winda dalam perkawinan ini? Apakah Surya mampu dan tega melihat Winda menangis dalam kekecewaan nya terhadap dirinya. Winda adalah wanita yang sangat di sayangi nya. Cintanya tidak pernah berubah dengan Winda dari sejak dahulu.

__ADS_1


" Surya! Aku kedinginan." ucap Sarwenda manja sambil merapatkan tubuhnya lebih erat.


" Bukankah ada selimut itu." sahut Surya yang tidak bisa menepis Sarwenda dalam pelukannya.


" Apakah kamu menyesal, Surya?" tanya Sarwenda pelan tapi ada kebahagiaan yang tersembunyi.


Surya terdiam dan membisu. Apa pun yang sudah dilakukan nya adalah sesuatu yang harus dipertanggung jawabkan. Seharusnya tidak ada penyesalan ketika ia sudah berani melakukan tindakan itu kepada Sarwenda. Seharusnya malam ini, Surya tidak menjumpai Sarwenda. Seharusnya Surya berani bertindak tegas, untuk menolak segala ajakan Sarwenda. Seharusnya, Surya tidak memperdulikan ancaman Sarwenda terhadap dirinya.


" Surya! Aku rela menjadi yang ke dua! Kita nikah siri yah!" kata Sarwenda hati - hati.

__ADS_1


" Apakah kamu menghendaki semua ini terjadi, Sarwenda? Kamu puas sekarang? Bisa menjebak aku dengan obat perangsang itu kan?" ucap Surya dengan amarah yang tertahan.


" Aku sangat mencintai kamu, Surya! Aku rela dan ikhlas memberikan keperawanan ku ini untuk kamu." ujar Sarwenda.


" Kenapa harus aku, Sarwenda? Aku adalah laki-laki yang sudah beristri. Istri aku pun sedang mengandung." kata Sarwenda.


" Aku sungguh tidak peduli! Aku mencintaimu lebih dari egoku. Walaupun aku tahu, kamu belum menyukai aku. Tapi lambat laun, kamu akan menyukai aku, Surya!" ucap Sarwenda.


" Jadi! Nikahilah aku!" tambah Sarwenda.

__ADS_1


Surya masih diam tak berkata. Pikirannya kacau. Bayangan masa depan yang akan rumit ketika harus memiliki dua istri sekaligus. Tapi ini sudah terjadi. Langkah yang akan ia tempuh harus dipertimbangkan nya masak - masak.


__ADS_2