
" Sebentar Winda! Ada panggilan masuk di ponselku." kata Galuh.
" Siapa?" tanya Winda.
" Andrie!" jawab Galuh singkat.
" Iya Andrie. Bagaimana? Ada apa?" tanya Galuh setelah panggilan masuk itu ia angkat nya.
" Kamu dimana Galuh? Aku di depan rumah kamu nih?" jawab Andrie di seberang sana.
" Maaf Andrie, aku sedang tidak ada di rumah. Aku lagi di tempat kawanku." kata Galuh melalui sambungan ponselnya.
" Kamu pulang jam berapa? Aku tungguin aja." ucap Andrie di sana.
" Hah? Jangan! Aku jadi tidak enak nih." sahut Galuh akhirnya.
" Tidak apa-apa. Kamu bilang saja sama satpam rumah kamu, supaya aku diperbolehkan masuk ke dalam." kata Andrie.
" Hah? Kamu yakin mau nungguin aku sampai pulang?" tanya Galuh.
" Iya!" jawab Andrie.
" Baiklah! Kasihkan ponselnya ke pak satpam biar kasih kamu masuk ke dalam. Masukkan saja mobilmu ke dalam, Andrie." ujar Galuh.
" Baiklah!" sahut Andrie melalui sambungan ponselnya.
" Iya non! Bagaimana non?" tanya Satpam rumah Galuh setelah ponsel Andri ada di tangan satpam itu.
" Minta tolong bukakan gerbang rumahnya, biarkan Bang Andrie masuk ke dalam. Dan satu lagi sampaikan ke Mbak Tata untuk membuatkan minuman dan makanan ringan. Bila perlu tawari makan pak." perintah Galuh.
" Siap nona!" jawab Satpam rumah milik Galuh masih melalui sambungan ponsel.
" Halo! Andrie!" kata Galuh.
" Iya, Galuh! Aku tunggu kamu yah!" ucap Andrie.
" Baiklah kalau itu kemauan kamu." ujar Galuh akhirnya dan menutup panggilan masuknya.
Winda melihat Galuh dengan teliti. Pikirannya ada tanda tanya tapi masih tersekat di tenggorokannya.
" Dia Andrie, Winda! Mau main ke rumah." cerita Galuh sambil tersenyum.
" Siapa Andrie rupanya?" tanya Winda.
__ADS_1
" Andrie ya Andrie. Kawan kerja Bang Hendra. Hahaha! Yang pasti masih single seperti bang Hendra." cerita Galuh.
" Apakah dia juga menyukai kamu, Galuh?" tanya Winda penuh selidik.
" Entahlah! Tapi dia berusaha mendekati aku, perhatian dengan aku." cerita Galuh sambil tersenyum.
" Kalau begitu, bukalah hati kamu untuk nya saja. Andrie single dan bebas jika harus menjalin hubungan dengan kamu." usul Winda.
" Tapi tidak semudah itu ferguso! Aku baru bercerai juga dengan suami aku. Lagi pula aku juga belum menentukan pilihan aku. Antara Niga atau Andrie pun aku belum memastikan diantara kedua nya kok." ungkap Galuh.
" Lalu maksud kamu apa, tadi cerita soal Niga kepadaku? Aku kira kamu sudah benar-benar serius dengan Niga." kata Winda.
"Aku masih bingung, Winda. Tapi terus terang aku juga memiliki rasa suka juga dengan Niga. Aku tidak bisa membohongi hati kecil aku. Tapi cinta yang rumit ini masih belum bisa aku telaah. Karena posisi Niga masih berstatus suami orang. Sedangkan Andrie pun aku belum lama juga mengenalnya." cerita Galuh.
" Oh dilema nih, ceritanya. Syukurlah kalau kamu masih mempertimbangkan sisi baik dan buruk nya hubungan dengan Niga. Dari pengalaman yang sudah kamu lewati jangan sampai terulang lagi kegagalan itu." ucap Winda.
" Makanya dari itu. Kasih aku solusi, Winda. Oh iya, kamu ingin tahu bukan Andrie seperti apa? Aku ada foto nya." ujar Galuh sambil membuka layar ponselnya lagi dan mencari foto Andrie di galerinya.
"Ini dia orangnya, Winda.. Bagaimana menurut kamu?" Tanya Galuh.
" Hem! Ganteng, supel, royal penyayang dan sabar. Apakah dia sudah mengatakan ingin menikahi kamu?" tanya Winda setelah melihat foto yang diberikan oleh Galuh terhadap nya.
" Belum! Baru- baru ini masih pendekatan kepadaku. Perhatiannya sudah cukup jelas kalau dia menyukai aku. Haha." cerita Galuh.
" Lalu? Kamu mulai menyukainya tidak?" tanya Winda.
" Ya sudahlah! Tetapkan hati kamu pada Andrie sajalah, Luh. Cukup jangan dilanjutkan hubungan kamu dengan Niga." usul Winda.
" Kenapa?" tanya Galuh.
" Karena Niga pun juga masih belum jelas. Hubungan dengan istrinya pun masih terlihat baik- baik saja. Kalau Niga menggugat cerai itu terlalu mengada- ada dan penyebab utama perceraian itu karena ingin berubah haluan dengan kamu." ucap Winda.
" Begitu yah? Tapi aku masih belum menentukan pilihan, Winda! Jadi santai saja." sahut Galuh.
" Oh iya Winda! Malam ini, Surya pulang ke rumah tidak?" tanya Galuh.
" Tidak tahu! Katanya mau pulang cepat. Kenapa rupanya." ujar Winda.
" Bagaimana kalau malam ini, kamu tidur di rumah aku. Sekalian aku sampaikan ke Bang Hendra bahwasanya kamu ingin kerja di perusahaan keluarga kami. Bagaimana? Aku juga ingin memperkenalkan kamu dengan Andrie." kata Galuh.
" Hem bagaimana yah. Wisnu aku ajak lagi? Mama sama Mas Surya pasti tidak kasih ijin." kata Winda.
" Coba saja dulu, telepon Surya dan pamit dengan Mama mertua kamu." desak Galuh.
__ADS_1
" Tapi alasan nya apa? Kamu tidak sakit, dan kamu baik-baik saja." kata Winda.
" Sekali- kali lah Winda. Kita rileks sebentar di rumah aku. Kita bikin barbeque deh." usul Galuh.
" Males! Aku mau nya tinggal makan saja!" sahut Winda.
" Ayolah Win! Telepon Surya." desak Galuh.
" Biar aku yang bilang dengan Ibu Hartini yah! Kamu telepon dulu dengan Surya." desak Galuh lagi.
" Tidak! Aku tidak mau! Kapan- kapan sajalah, Galuh. Maaf ya sayang. Aku kan masih punya anak bayi. Kalau sudah agak Gedhe aku bisa ajak kemanapun." ucap Winda.
" Hadeuh! Baiklah! Aku tidak bisa memaksa lagi deh."ujar Galuh.
" Galuh! Kamu tahu gak? Mas Surya mau membelikan aku rumah." cerita Winda dengan penuh gembira.
" Benarkah? Syukurlah, aku ikut senang! Di rumah barumu nanti, aku akan sering-sering datang deh. Tapi kamu juga harus gantian ke rumah aku juga yah." kata Galuh dengan semangat.
" Iya! Jangan khawatir, Galuh. Galuh sampaikan ke Om Hendra kalau aku ingin kerja yah." ucap Winda.
" Jangan khawatir! Kapan kamu mau mulai siap untuk kerja?" tanya Galuh.
" Setelah aku pindah di rumah baruku dan aku sudah harus mencari baby sitter untuk Wisnu." jawab Winda.
" Begitu kah? Hem... aku akan bantu kamu Carikan baby sitter yang bisa dipercaya." ujar Galuh.
" Terimakasih banyak Galuh. Kamu adalah sahabat ku yang paling baik dan mengerti kemauan aku." sahut Winda.
" Iya! Yang penting kamu bahagia, Winda! Jangan ada air mata lagi karena Surya yah, sayang." kata Galuh.
" Iya! Aku pasti kuat melalui ini semua." sahut Winda.
" Ah Winda! Jangan pasrah begitu dong! Kamu kalau tidak mampu, lebih baik cepat berpisah dengan Surya." desak Galuh.
" Jangan khawatir, Galuh! Ini hanya soal waktu saja." ujar Winda.
" Ah kamu bohong banget! Kamu sudah cinta mati dengan Surya. Disakiti dan di dua kan saja masih tetap bertahan." kata Galuh akhirnya.
" Galuh! Aku masih belum siap untuk cerai dengan Mas Surya. Tapi untuk bertahan dengan Mas Surya pun aku juga sudah tidak mampu lagi." ungkap Winda.
" Ya sudahlah! Terserah kamu saja! Dasar plin-plan. Hehe." kata Galuh ketus.
" Awas juga yah dengan kamu, kalau kamu plin- plan memilih diantara Andrie atau Niga." sahut Winda tidak mau kalah.
__ADS_1
" Hahaha! Aku mah bebas menentukan pilihan, Winda. Aku single loh!" teriak Galuh.
" Suka- suka kamu sajalah!" sahut Winda akhirnya sambil melempar bantal ke arah Galuh.