Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SARWENDA TERBARING


__ADS_3

" Apakah tuan mu belum datang, Santi?" tanya Sarwenda yang masih terkulai lemas di pembaringannya.


Mbak Santi yang duduk tidak jauh dari tempat tidur Sarwenda masih setia menunggu Sarwenda yang tiba-tiba nge drop. Sudah satu minggu ini, Wardha pamit pergi ke luar kota untuk mengurus dan memeriksa cabang perusahaan milik Sarwenda. Padahal kenyataan nya mereka, antara Wardha dan Rosiana janjian bersama untuk meresmikan hubungan mereka di kampung halaman nya. Mereka menikah tanpa sepengetahuan Sarwenda. Bukan hal sulit untuk dilakukan oleh Wardha karena pada dasarnya orang tua Wardha dan orang tua Rosiana dari dulu menginginkan dua orang itu untuk menikah.


" Be.. belum, non! Mobil tuan Wardha pun belum masuk ke pekarangan rumah dan garasi. Mungkin besok mereka tiba ke kota ini, non." kata Mbak Santi.


" Apa? Mereka? Apa maksud kamu, Santi?" tanya Sarwenda dengan membulat matanya.


" Eh... eh? Maksudnya... eh maksud saya tuan Wardha besok pulangnya." kata Mbak Santi gugup.


" Aduh! Sial! Hampir saja aku membuat Non Sarwenda curiga." batin Mbak Santi.


" Iya, semoga saja. Beberapa hari ini ponsel suamiku tidak aktif. Aku menjadi sangat mengkhawatirkan nya. Semoga saja tidak terjadi apa- apa." kata Sarwenda.


" Aaminn. Iya non. Tuan Wardha pasti baik- baik saja. Memeriksa dan mengecek perusahaan, bukankah lebih sulit, non? Mungkin saja, ada sedikit masalah di anak cabang perusahaan milik nona." kata Mbak Santi sok tahu.

__ADS_1


" Iya, mungkin saja. Tetapi kenapa harus dimatikan ponselnya? Ini yang membuatku bingung. Takutnya ada masalah serius." ujar Sarwenda.


" Iya juga yah, non. Apa mungkin, ponsel nya di curi orang atau jatuh di sungai non." sahut Mbak Santi berusaha mengalihkan asumsi Nona nya.


" Hahaha... kamu itu sangat lucu. Tapi mungkin juga. Dan segala kemungkinan itu pasti akan terjadi juga tanpa kita duga." kata Sarwenda.


" Iya non. Sekarang nona harus tenang, jaga kesehatan dan tidak boleh capek- capek. Jangan mikir yang tidak- tidak." kata Mbak Santi.


" Iya, Santi. Oh iya bagaimana anak- anak, Santi? Apakah mereka sudah tidur?" tanya Sarwenda.


" Syukur lah. Aku sangat senang dengan adanya Siwa. Dia bisa menjadi abang dan kawan bermain untuk anakku, Dahlia." kata Sarwenda.


" Iya non. Siwa sangat menyayangi Dahlia seperti adiknya sendiri. Saya sangat senang jika melihat kedua anak itu ketika bermain sangat akrab." cerita Mbak Santi.


" Iya. Oh iya! Kapan Rosiana balik kemari, San?" tanya Sarwenda.

__ADS_1


" Mungkin saja lusa non. Setelah urusan di keluarga nya selesai, dia akan cepat pulang kemari non. Dia bilang sudah sangat rindu dengan Siwa, anaknya." kata Mbak Santi.


" Iyalah, Rosiana sangat menyayangi Siwa dan juga Dahlia anakku. Dan aku lihat, suami aku pun sangat menyukai Siwa. Dari pertama mereka datang ke rumah ini, Wardha sangat perhatian dengan Siwa. Melihat Rosiana yang sudah janda karena ditinggal mati oleh suaminya. Itulah yang membuat sisi baik suamiku itu tersentuh. Aku tidak menyangka, suami aku memiliki sisi perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap kehidupan orang." kata Sarwenda dengan tersenyum senang.


" Aku jadi kangen, Mas Wardha." imbuh Sarwenda.


" Iya non. Sabar ya non. Besok tuan Wardha pun juga pulang ke rumah ini." sahut Mbak Santi.


" Iya sih. Cuma aku sebagai seorang istri, saat ini tidak bisa kasih yang lebih dan pelayanan yang baik terhadap suami aku. Apalagi kondisi tubuhku sekarang dan penyakit yang saat ini aku derita." kata Sarwenda.


" Nona! Sabar non. Insya Allah non Sarwenda akan segera pulih dan penyakit yang non derita akan segera pergi. Nona orang baik." kata Mbak Santi dengan mata yang berkaca menatap ketidaktahuan Sarwenda tentang kebenarannya.


" Aaminn. Tapi aku sempat membuat orang merasa tersakiti oleh sikap dan perbuatan ku. Mungkin ini adalah balasan dari semua tindakanku yang selalu melenceng dari garis." ungkap Sarwenda.


" Non! Tidak ada yang sempurna di dunia ini non." sahut Mbak Santi sambil mengelus punggung tangan milik nyonya rumah besar itu.

__ADS_1


__ADS_2