
Di rumah Winda, Hendra sudah duduk di ruang tamu dengan santainya.
" Dimana Wisnu, sayang?" tanya Hendra kepada Winda yang baru datang dan duduk di depannya.
" Lagi bermain." jawab Winda singkat.
Winda tidak berani menjelaskan Wisnu bermain dengan siapa. Takutnya Hendra akan menjadi marah atau cemburu jika mengetahui Herika datang ke rumahnya lalu mengajak main Wisnu ke tempat bermain di pusat pembelajaran di kota.
Sedang bermain di kamar yah?" tanya Hendra lagi. Namun Winda hanya diam lalu berusaha mengalihkan pembicaraan.
" Bang Hendra! Bagaimana kalau kita makan mie ayam yuk!" ajak Winda.
" Kamu belum makan, sayang?" tanya Hendra.
" Tadi siang sudah! Ini malam belum makan, sayang!" jawab Winda yang sebenarnya masih kenyang. Ingin mengajak Hendra keluar rumah supaya nanti tidak bertemu dengan Herika jika sebentar lagi Herika dan Wisnu akan kembali tiba ke rumahnya.
" Baiklah! Ayo kalau begitu!" ajak Hendra akhirnya.
*******
Di warung mie ayam dan bakso yang terletak di pinggir jalan.
" Kamu kenapa begitu suka sekali dengan mie ayam sih, Win?" tanya Hendra sambil melihat Winda yang begitu menikmati mie ayam di mangkok nya sangat lahap dan bersemangat.
" Heem... menu ini tidak bikin bosan! Apalagi ketika cuaca mendung atau lagi pas hujan." jawab Winda menjelaskan dengan semangat.
" Tetapi ini makanan berat. Kamu nanti bisa gendut loh, sayang!" kata Hendra memberikan penilaian.
" Oh begitu yah!" sahut Winda kurang begitu memperdulikan pendapat Hendra.
" Aku yang laki-laki saja masih memilah dan memilih makanan apa yang tidak bikin gendut." kata Hendra sedikit memberikan teguran kepada Winda.
" Tapi ini tidak setiap hari aku makan kok, sayang!" protes Winda setelah menghabiskan mie ayam di mangkok nya.
Kini mata Winda melihat mangkok milik Hendra yang masih utuh di depannya.
" Kamu gak suka mie ayam, sayang?" tanya Winda yang masih memperhatikan isi mangkok milik Hendra yang belum disentuh oleh Hendra.
" Bukan tidak suka tapi lagi malas saja makan makanan berat dan kurang bergizi ini." jawab Hendra.
__ADS_1
" Hah? Kurang bergizi?" sahut Winda membulat matanya.
Hendra tidak memperdulikan Winda yang memprotes nya.
" Setelah ini kita mencari buah- buahan supaya kamu harus selalu makan buah tiap hari. Di dalam buah banyak kandungan vitamin nya. Menyehatkan dan bikin kulit lebih segar." kata Hendra sambil berjalan membayar mie ayam yang dipesan nya tadi.
Winda mengikuti langkah Hendra tanpa banyak bicara dan protes. Dalam pikiran nya memang semua yang dikatakan oleh Hendra ada benarnya. Hal itu adalah salah satu bentuk perhatian Hendra yang terkesan mendekte.
Kedua pasangan itu akhirnya kembali masuk ke dalam mobilnya. Hendra menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak berapa lama Hendra menghentikan mobilnya ketika sampai di sebuah tempat yang menjajakan buah- buahan segar di sana.
" Sebentar yah, sayang! Akan aku belikan buah- buahan yang bagus dan segar untuk kamu." kata Hendra sambil membuka pintu samping mobilnya.
" Aku ikut!" kata Winda sambil membuka pintu samping mobil itu.
Winda mengamati Hendra yang langsung meminta pada penjual buah itu, buah kiwi, apel merah, apel hijau, jeruk, pir, dan juga mangga. Winda hanya diam dan membiarkan Hendra yang seperti ibu- ibu sedang berbelanja. Winda hanya tersenyum melihat tingkah lucu Hendra.
" Mau jualan juz buah, bang?" tanya Winda yang melihat Hendra membeli banyak sekali buah- buahan.
" Tidak sayang! Kamu harus selalu ingat! Harus makan buah setiap hari supaya stamina dan daya tahan tubuh kamu kuat. Apalagi buah kiwi ini. Dia mempunyai kadar vitamin C yang cukup tinggi. Buah kiwi gold ini lebih banyak dibanding kiwi hijau." terang Hendra.
" Oh begitu!" sahut Winda sambil manggut-manggut.
" Iya, lagi malas ngupas nya. Mau nya langsung makan." sahut Winda beralasan.
Hendra hanya membulat matanya, tidak terima alasan yang dilontarkan oleh Winda.
" Nanti aku kupasin!" kata Hendra akhirnya. Winda yang mendengar nya jadi garuk- garuk hidungnya yang tidak gatal.
*******
Sesampainya di rumah Winda, mereka mendapati Herika dan Wisnu masih duduk di lantai ruang tengah. Antara Herika dan Wisnu lagi asyik bermain mobil- mobilan yang baru saja mereka beli ketika jalan ke pusat perbelanjaan kota.
Winda yang melihat Herika masih berada di rumahnya jadi takut dan khawatir jika Hendra marah atau cemburu jika mengetahui bahwa sebenarnya Wisnu pergi bermain bersama Herika.
Hendra pun mulai mengerutkan dahinya sambil menatap ke arah Winda. Ada tanya di pikirannya ketika melihat Herika sudah ada di rumah Winda.
" Aku pulang saja!" kata Hendra yang tiba-tiba berkata itu pada Winda.
" Eh? Katanya mau ngupasin buah- buahan ini untuk aku loh, sayang!" sahut Winda sambil menahan Hendra yang hendak pergi dari dalam rumahnya.
__ADS_1
" Sudah malam! Mama, papa ku lagi di rumah." kata Hendra beralasan.
Hendra melangkah keluar menuju pintu utama rumah Winda. Winda pun mengikuti langkah Hendra di belakang nya. Keduanya tidak ada suara percakapan. Winda tahu dan sangat paham akan situasi ini. Hendra marah, cemburu atau apalah ketika melihat Herika sudah ada di rumahnya dan lagipula terlihat sudah akrab dengan Wisnu, anak Winda.
Sesampainya di mobilnya, Hendra masih belum menyuarakan isi hatinya yang tidak suka ketika Herika ada di rumah Winda.
" Abang?" panggil Winda sambil menatap Hendra. Namun Herika hanya menatap Winda dan diam seribu alasan.
" Maaf!" kata Winda pelan.
" Maaf untuk apa?" tanya Hendra dengan mata yang tajam.
" Maaf jika kamu cemburu." jawab Winda sambil menatap ke bola mata Hendra.
Hendra masih diam dan tanpa memperdulikan Winda. Kini mobil itu mulai di jalankan nya sampai meninggalkan rumah kediaman Winda. Suasana seketika menjadi sendu. Suasana seketika menjadi muram.
Kenapa harus ada cemburu itu jika kamu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan beku. Kenapa cemburu mu ada lalu kamu malah pergi menjauh dari aku. Apakah kamu tidak bisa mengungkapkan segala yang tidak berkenan itu? Apakah kamu tidak bisa mengutarakan isi hati kamu ketika cemburu itu hadir?
Jangan malah pergi begitu saja dalam Kemarahanmu. Bukankah cemburu mu karena kamu takut akan kehilangan aku? Lalu kenapa kau pergi menjauh dari aku. Apakah tidak ada cara lain? Jangan seperti! Aku sungguh tidak menyukai caramu ketika cemburu malah menjauh dan lari dari aku. Padahal aku ingin tetap bersama kamu.
" Dia pulang?" tanya Herika yang keluar menghampiri Winda yang masih berdiri mematung di luar rumahnya.
Winda hanya menganggukkan kepalanya pelan.
" Dia cemburu padaku, yah mama cantik?" kata Herika lagi sambil menoel hidung Winda.
Kali ini Winda malah tersenyum karena tingkah Herika yang berusaha menghibur nya.
" Ayo masuk ke dalam! Nanti masuk angin loh!" ajak Herika akhirnya.
" Iya! Kamu kenapa belum pulang, sih?" tanya Winda spontan tanpa basa- basi.
" Aku kan menunggu mama cantik pulang! Tadi sudah kubelikan pesanan mama. Parfait dan iga bakar kan?" tanya Herika akhirnya.
" Parfait? Asyik!!!" sahut Winda dengan mata berbinar.
" Tapi aku tidak pesan iga bakar kok, melainkan bakso beranak." tambah Winda.
" Salah satu kan? Tidak apa- apakan, dapat nilai sembilan." sahut Herika sambil menarik hidung milik Winda.
__ADS_1