
Dan sejenak menikmati sakitnya ketika cerita kelam terukir di atas kertas. Apakah hidup harus diratapi? Sedangkan pikir harus realitis. Mencoba menepikan keinginan diri menggapai bayangan yang tak mungkin digapai. Melangkah pun tiada mampu. Uluran tangan itupun melemah seringnya pupus Harapan doa-doa ketika sendiri. Menyebutkan lirih dan pelan nama itu.
" Ditanya malah senyum aja, Mas!" protes Winda.
" Iya benar mbak! Tapi itu perusahaan milik keluarga besar saya, Mbak. Saya hanya ikut mengelola saja." terang Haidar akhirnya.
" Mbak, punya nama siapa?" tanya Haidar akhirnya.
" Saya Winda!" jawab Winda singkat.
" Bergabung di perusahaan mana?" tanya Haidar lagi.
" Di Perusahaan Adi Kencana, Mas!" jawab Winda.
" Sekretaris atau di divisi mana?" tanya Haidar penuh selidik.
" Saya bagian OB, mas!" jawab Winda bohong. Haidar yang mendengar nya semakin mengamati Winda dari ujung kepala sampai kaki. Rasanya apa yang dijawab Winda tidak sesuai dengan penampilan nya.
" Mbak, saya pamit permisi dulu. Kelihatan nya, ayah saya memanggil saya." ucap Haidar sambil berdiri dari tempat duduk nya dan bergegas menghampiri ayahnya yang memanggilnya.
" Monggo!" sahut Winda dengan ramah.
Intan yang sejak tadi berdiri di tempat barbeque dan mendengarnya akhirnya berkomentar.
" Hai mbak OB! Ini mau cobain daging ini gak?" kata Intan sedikit berteriak.
" Hahaha! Bolehlah!" sahut Winda sambil mendekati Intan mengambil daging yang ditusuk seperti sate itu.
__ADS_1
" Hebat mbak Winda! Dirut bisa dikibuli loh! Mbak Winda! Mbak Winda!" keluh Intan.
" Malas saja berkata jujur, Intan!" sahut Winda terkekeh.
*******
" Kita permisi pulang, nak!" ajak ayah Haidar.
" Ayah tidak makan?" tanya Haidar.
" Ayah lagi kepingin sate padang! Makanya ayah gak mau makan dulu entar kenyang duluan sebelum makan itu." sahut ayah Haidar.
" Baiklah!" kata Haidar.
" Oh iya, kamu tadi ngobrol apa dengan menantu Pak Hartono?" tanya ayah Haidar.
" Iya betul!" sahut ayah Haidar.
" Cuma basa- basi doang, Ayah! Tapi dia bilang sama saya kalau dia OB di perusahaan Adi Kencana." kata Haidar sambil melihat dari jauh ke arah Winda yang tertawa dengan nyaring bersama putri Pak Hartono itu.
" Eh wanita ini, bohongin aku loh." batin Haidar.
" Kenapa Haidar?" tanya ayah Haidar.
" Tidak ada yah! Wanita itu menantu Pak Hartono berarti istri dari almarhum Mas Surya, Yah?" tanya Haidar lagi.
" Iya benar! Kenapa?" tanya ayah Haidar.
__ADS_1
" Ternyata masih muda juga istri dari almarhum Mas Surya." kata Haidar pelan.
" Tadi anak kecil yang duduk di dekatnya anak semata wayangnya dari Almarhum Surya." terang ayah Haidar.
" Oh, sudah besar juga anaknya." sahut Haidar.
" Kamu kenapa?" tanya ayah Haidar sambil ikut melihat jauh Winda yang tertawa.
" Masih muda sudah menyandang gelar janda." ucap Haidar.
" Kasihan yah?" kata ayah Haidar.
" Hemm! " gumam Haidar.
" Ayolah kita permisi dengan si empunya rumah dulu." ajak ayah Haidar.
" Baiklah!" sahut Haidar sambil berjalan mengikuti ayahnya melangkah menuju ke arah Pak Hartono dan Bu Hartini. Setelah itu mereka mulai melangkah meninggalkan taman depan rumah mewah itu.
Sebelum Haidar pergi, Haidar kembali mendekati Winda yang masih bercanda dengan Intan juga Andrie.
" Mbak! Saya permisi pulang dulu, Mbak! Ini kartu nama saya, tolong di save no hape saya. Dan jangan lupa menghubungi saya secepatnya. Kelihatannya di perusahaan saya masih membutuhkan karyawan di bagian OB." kata Haidar sambil memberikan kartu namanya. Winda mengambilnya sambil menatap Haidar dengan bengong. Setelah Haidar pergi dan tidak kelihatan lagi di rumah itu, barulah Intan dan Andrie tertawa terbahak- bahak.
"Mbak Winda! Ini akibat mbak Winda membohongi nya. Dia marah kan?" kata Intan.
" Jadi? Dia sudah mengetahui kalau aku membohongi nya?" ucap Winda masih saja bengong.
" Ya iyalah, Mbak!" jawab Intan sambil terkekeh.
__ADS_1