
Ini bukan tentang seumuran,lebih tua atau lebih muda. Ini tentang menyeimbangkan hidup dan bisa berjalan beriringan. Yang memberi kenyamanan di hati, kenyamanan di sisi, dan kasih sayang tiada henti. Tentang tertawa bersama, saling mensupport mendoakan satu sama lain. Berbicara lepas tak terbatas tanpa berpikir ini pantas atau tidak.
Ketika dunia begitu kejam. Dia menjadikan tempatmu untuk selalu pulang. Yang bisa membuat mu sangat sabar dan berusaha mengerti meski sulit. Menerima mu apa adanya meskipun kamu cuma seadanya. Masa lalu nya tidak kamu persoalkan karena tahu itu yang membentuk nya sekarang. Kekurangan masing- masing adalah tugas bersama untuk belajar saling menerima dan memperbaiki agar jadi lebih baik. Tentang dia yang kamu ikhlas seumur hidup menjadi makmum nya. Membuat mu bangga menjadi ibu dari anak-anaknya.
" Winda!" panggil Surya sambil mendekapnya erat.
Winda hanya diam dengan perlakuan suaminya itu, Surya. Dengan senyuman nya selalu memberikan keteduhan dan ketenangan seperti tidak terjadi apa-apa dan seperti melupakan perihal yang telah diperbuat oleh Surya. Mungkin saja Winda telah menyembunyikan semua itu. Masih bertahan di posisi nya sebagai istri sah nya Surya. Berusaha memaafkan yang sudah diperbuat oleh Surya. Memberi kesempatan kedua bagi Surya untuk membenahi semua seperti semula.
" Kamu kenapa diam saja?" tanya Surya masih memeluk Winda dari belakang.
" Aku hanya sudah tidak sabar mas, ingin pindah di rumah baru itu. Dan sekarang Sarwenda sudah di rumah ini dan mengandung anak kamu. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan kamu dengan Sarwenda di rumah ini." ucap Winda.
" Apa yang kamu bicarakan! Aku tidak menyukai Winda, sayang. Aku tidak menginginkan semua itu terjadi. Maaf aku khilaf dan terlena dengan suasana itu. Tolong jangan ungkit lagi, soal Sarwenda." kata Surya lalu melepaskan pelukannya.
"Bagaimana aku tidak ingat dan melupakan begitu saja. Jika wanita yang pernah engkau tiduri ada disini dan satu rumah dengan aku. Aku ingin pindah di rumah baru, mas! Dan jangan pernah bawa Sarwenda ke rumah baru yang kau belikan untuk aku dan Wisnu. Aku sungguh tidak nyaman dengan semua ini. Aku ingin tenang tanpa perasaan tertekan." ucap Winda tegas.
" Baik! Baik!" sahut Surya akhirnya.
" Tapi jangan larang aku untuk ke rumah itu, Winda! Aku masih suami kamu, sayang!" imbuh Surya dengan harap dan memohon.
" Tidak mas! Kamu bisa kapan saja datang ke rumah itu tapi sendiri tanpa Sarwenda. Kamu masih ayah dari anakku,Wisnu." kata Winda.
" Winda! Aku masih suami kamu sayang!" kata Surya penuh permohonan dan ampunan sambil memegang tangan Winda.
" Iya, aku tahu! Kenapa aku juga tidak sanggup untuk tidak memaafkan kamu, mas! Aku juga masih menyayangi kamu dan sudah terlanjur bergantung dengan mu." ucap Winda.
__ADS_1
" Setelah semua yang aku lakukan?" tanya Surya sambil menatap wajah Winda.
Winda hanya mengangguk pelan. Matanya berkaca karena Surya tulus dan sangat tulus meminta maaf.
" Terimakasih banyak Winda! Kamu memberi kesempatan kepadaku untuk memperbaiki semua." kata Surya.
" Memperbaiki bagaimana, mas? Ini sudah di puncak masalah. Aku sudah satu Atap dengan madu ku. Dan aku bisa - bisa nya kuat dan bertahan di sini. Melihat dia mengandung anak kamu." ucap Winda.
" Winda! Sayang! Belum tentu dia adalah anak kandung aku! Aku berani menjamin itu." kata Surya.
" Paling tidak, kamu pernah menikmati nya walaupun tidak sepenuhnya ingin memiliki nya." sahut Winda.
" Winda! Jangan kembali engkau ungkit kesalahan ku lagi sayang."ujar Surya dengan kesedihan karena penyesalan itu.
" Karena masih terlihat mata, mas! Bagaimana aku bisa dengan secepat itu melupakan apa yang sudah kamu lakukan di belakang aku?" sahut Winda dengan suara bergetar.
" Aku manusia yang hina dan tidak sempurna. Punya kelemahan dan juga ada yang bisa diunggulkan. Jika di dunia ini, engkau mencari kesempurnaan dari manusia itu sendiri. Pasti tidak akan menemukan nya. Pasti kamu akan menemukan hal yang tidak sesuai dengan keinginan kamu. Dan kamu hanya berusaha menerima dengan ikhlas dan legowo dengan semua nya." ucap Surya.
" Apakah di dunia ini, wanita yang diingat hanya dan selalu kesalahan pria yang sudah diperbuatnya? Itu menjadi senjata bagi dirinya jika tidak kuat, untuk menyudahi dan angkat tangan dengan hubungan rumah tangga ini?" ucap Surya.
" Mencari pengganti selain aku, yang lebih sempurna dan tidak ada salah, apakah itu bisa menjamin kehidupan kelak kamu akan lebih baik dari pada aku? Kalau sekali kamu putus asa dan menyerah atas hubungan rumah tangga ini, akan menjadi latah di kemudian hari. Kamu akan lebih mudah menyerah jika suatu hari, laki-laki itu melakukan pengkhianatan dibelakang kamu." ucap Surya.
Mata Winda melotot melihat wajah Surya.
" Kenapa seolah kamu mengancam aku, mas? Aku hanya ingin pindah secepatnya di rumah ini saja. Bukan ingin menuntut perpisahan dengan kamu. Aku perlu waktu untuk menerima kamu lagi dan memaafkan kamu mas. Dalam artian yang ikhlas dan ridlo." sahut Winda.
" Jadi selama ini, kamu belum bisa benar-benar memaafkan aku sepenuh nya?"tanya Surya.
__ADS_1
" Jadi kamu masih berpura- pura baik terhadap aku saja, sayang!" tambah Surya.
" Jujur mas! Aku begitu menyayangi kamu, tapi rasa kecewa ini masih memenuhi otak aku. Aku berusaha menerima semua dan memaklumi kamu sebagai laki-laki yang tergoda dengan seorang wanita ketika aku dalam terlena kurang memperhatikan kamu. Aku perlu waktu sendiri dan belajar lagi karena kesalahan yang telah kamu perbuat juga karena kelemahan aku sebagai istri yang tidak fokus memberi pelayanan dan perhatian yang terbaik terhadap kamu." kata Winda.
" Winda, sayang! Jangan pernah terbersit di hati dan pikiran mu untuk meninggalkan aku, sayang! Aku sungguh tidak bisa jika kita berpisah." kata Surya.
" Mas!" sahut Winda dan Surya dengan cepat memeluk hangat Winda dan tidak ingin lepas.
" Aku hanya berdoa, supaya ikatan pernikahan kita tetap awet, langgeng, dan kita bisa menghadapi semuanya dari ujian ini." ucap Winda dengan mata berkaca.
" Amin! Benarkah?" sahut Surya.
" Mas! Jangan berpikir terlalu jauh! Aku tetap memaafkan kamu mas! Tapi aku perlu waktu melupakan sesuatu yang membuat kecewa hati aku. Aku perlu ruang dan tempat yang baru, tidak satu Atap dengan madu aku." pinta Winda.
" Baiklah! Besok secepatnya kita lihat rumah itu, dan pindah ke sana." kata Surya sambil tersenyum.
Ketukan pintu terdengar nyaring di kamar mereka yang membuat pelukan hangat dari Surya dilepaskan oleh Winda. Suara keras milik Sarwenda masuk ke ruangan kamar milik mereka. Membuat Winda mulai terpancing emosi. Surya menatap Winda yang menarik nafas dengan kasar.
" Kamu urusi dulu istri baru mu itu mas!" ucap Winda ketus.
" Winda! Maaf!" sahut Surya lalu berjalan membuka kan pintu kamar itu.
" Ada apa, Sarwenda?" tanya Surya setelah membuka pintu kamar utama dengan Winda.
" Maaf! Aku hanya ingin. mengajak Mas Surya makan saja. Aku sudah memasakkan makanan kesukaan kamu loh, mas! Dan yuk Winda kita makan bersama- sama yuk!" kata Sarwenda.
" Tidak terima kasih!" jawab Winda sambil mendekati Wisnu yang tidur di box bayi.
__ADS_1
" Mas! Setelah makan aku ingin mengajak kamu untuk memeriksakan kehamilan aku, mas! Supaya anak kita di kandungan sehat selalu." kata Sarwenda.
Surya hanya diam menatap ke arah Winda dan berganti melihat Sarwenda. Tampak Surya salah tingkah dengan situasi demikian.