Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
HANYA ADIK


__ADS_3

Di rumah Niga, Intan sudah berada di depan rumah, tepatnya di teras rumah milik Niga. Intan dan Niga sudah duduk di depan rumah itu sambil menikmati kopi panas dan beberapa camilan di meja.


" Kita masuk ke dalam saja, Intan." ajak Niga.


" Apakah tidak merepotkan kamu, Mas?" tanya Intan.


" Tidak!" jawab Niga sambil berdiri dan masuk ke dalam rumahnya lalu diikuti oleh Intan sambil membawa piring yang berisikan camilan dan cangkir kopi nya.


" Duduklah." suruh Niga.


" Iya, terimakasih Mas Niga. Oh iya, putri semata wayang kamu dimana?" tanya Intan.


" Masih di luar, les privat piano." jawab Niga sambil tersenyum.


" Mas Niga!" panggil Intan lirih.


" Iya, ada apa Intan?" tanya Niga.


" Apakah Mas Niga benar-benar akan menikah dengan Galuh?" tanya Intan.


" Iya! Kenapa kamu bertanya begitu?" tanya Niga.


" Lalu, bagaimana dengan aku, Mas?" tanya Intan sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


" Hah?" gumam Niga sambil menarik nafas dengan kasarnya.


" Aku masih belum bisa melupakan kamu, mas. Aku masih berharap bersama dengan kamu." kata Intan dengan jujur.


" Eh? Tapi aku menganggap kamu hanya sebatas adik saja, Intan." sahut Niga.


" Hanya adik?" tanya Intan.


Niga hanya diam sambil melihat Intan yang mulai berkaca- kaca matanya.


" Jadi hanya sebatas adik saja yah?" kata Intan lirih lalu berdiri dari tempat duduknya.


" Intan! Kamu mau kemana?" tanya Niga.


" Intan! Maaf kan aku." kata Niga lirih.


" Tidak apa- apa Mas. Ini semua salah aku. Mas Niga tidak salah. Akulah yang salah, mencintai orang yang tidak mencintai aku." kata Intan dengan suara bergetar.


" Aku... aku pamit pulang, Mas! Semoga mas Niga bisa hidup bahagia bersama Galuh." ucap Intan sambil menatap ke arah Niga yang berdiri hendak mengantar kepergian Intan.


" Mas Niga!" panggil Intan sambil membalikkan tubuh nya dan berusaha memeluk tubuh kelak milik Niga. Niga terkejut bukan main atas tindakan Intan yang tiba-tiba.


" Ijinkan aku memelukmu sebentar saja, Mas. Menghilangkan rasa kesedihan, kekecewaan ini. Karena setelah ini aku akan berusaha mengubur semuanya. Semua perasaan yang membuat kacau dan tidak waras otakku. Mencintai orang yang tidak mencintai ku. Ini sungguh menyakitkan." kata Intan dengan terisak. Air matanya mulai jatuh di baju milik Niga. Niga hanya diam menerima pelukan dari Intan tanpa berani menolaknya.

__ADS_1


" Rasanya damai jika seperti ini." kata Intan pelan.


" Intan! Maafkan aku. Aku tidak bisa menerima cinta kamu." ucap Niga.


" Iya, aku tahu. Tolong peluk aku, mas!" kata Intan sambil menarik tangan Niga supaya memeluknya erat ke tubuhnya.


Cukup lama Intan dalam dekapan Niga. Intan ingin merasakan kebahagiaan itu untuk sesaat bersama orang yang dia cintai. Walaupun dirinya tahu, laki-laki itu tidak menyukai dirinya dan bahkan hanya menganggap sebagai adik saja.


" Intan, sudah yah!" kata Niga dengan mengatur jarak posisi badannya.


" Tidak mau. Aku ingin seperti ini terus." rengek Intan yang tidak mau melepaskan dekapan nya.


Niga hanya menarik nafas dengan kasarnya. Niga tidak ingin memberikan harapan kepada Intan. Jika hatinya masih tertuju dengan Galuh, dia tidak ingin bermain api dengan yang lain. Walaupun cinta itu hadir tanpa direncanakan dan dihindari. Hak semua orang untuk mencintai. Namun jika cinta itu tidak berbalas, itu sudah konsekuensi dari berani memiliki rasa cinta itu.


" Sayang! Aku datang!!" teriak suara wanita yang baru saja hendak masuk ke ruangan dimana ada Niga dan Intan saling berpelukan.


" Eh? Maaf aku mengganggu kalian!" kata wanita itu lalu mengurungkan masuk ke ruangan itu dan kembali keluar dari sana.


" Eh, Galuh! Galuh!" panggil Niga dan berusaha melepaskan pelukan dari Intan dan mengejar Galuh.


" Intan! Maaf aku harus menjumpai Galuh." kata Niga sambil berlari mengejar Galuh.


Intan menghapus air matanya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Meninggalkan keributan kecil dari pasangan kekasih itu. Intan tidak mau ikut campur kecemburuan yang terjadi itu. Dengan sangat santai, Intan pergi meninggalkan rumah milik Niga dengan hati yang tenang. Setidaknya ia tahu posisi nya. Bahwa hati Niga hanya untuk Galuh. Dan bagi Niga, dirinya adalah seorang adik. Jadi selama ini, dirinya salah menafsirkan perhatian yang diberikan Niga terhadap dirinya.

__ADS_1


__ADS_2