Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
MERAJUK


__ADS_3

Malasnya otak ini jika sudah letih mengingat mu dalam sepi rindu. Menggugah jiwaku untuk selalu menyebut namamu. Kegundahan dan sepi kala rindu membuncah disini. Bantu aku untuk menyembuhkan kegalauan itu...



Air melimpah di lautan luas. Dalam riak ombak yang menghantam karang. Deburan ombak yang menggulung. Membawa seutas rindu itu untuk mu. Masih bertemakan cinta dan rindu. Karena inilah yang menarik saat ini untuk dibuat rangakaian cerita indah. Aku dan kamu masih membisu. Aku dan kamu masih sama-sama terdiam. Aku dan kamu masih mempertahankan angkuh dan keangkuhan itu. Aku dan kamu sampai kapan bertahan akan ego. Tidak ada yang memulai dulu dalam mencurahkan rasa rindu itu. Tapi bisikan mu setiap waktu kan kudengar slalu. Memanggil namaku dalam diam sepi mu. Membangun kan tidurkan hingga terjaga setiap waktu. Mantra-mantra mu, membuat aku selalu mengingat mu. Menyapa namamu dalam hati kecil ku. Iya, aku rindu. Aku sangat rindu, dalam perhatian dan kepedulian mu.


*******


"My queen!" panggil Hendra melalui sambungan telepon seluler di kantor nya.


" Iya, Pak Hendra!" sahut Winda setelah mengangkat telepon itu.


" Kamu memanggil aku apa, sayang? Bukankah sudah aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan ' Pak' " protes Hendra.


" Baik!" sahut Winda sambil melihat sekeliling nya mana tahu ada yang memperhatikan nya.


" Ke ruangan ku, sekarang juga!" perintah Hendra.


" Baik!" jawab Winda pelan lalu menutup telepon seluler yang ada di mejanya.


Winda lalu berjalan menuju ruangan milik Hendra. Sesampainya di depan pintu itu, Winda dengan pelan-pelan mengetuknya.


Pintu itu mulai dibukanya perlahan. Terlihat Hendra masih menunjukkan cuek terhadap, Winda. Terlihat Hendra masih sok sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di mejanya. Cukup lama mereka saling diam. Winda sesekali menatap ke arah Hendra yang tidak kunjung memberikan perintah kepadanya. Hal itulah yang membuat semakin geram Winda.


" Maksud nya apaan sih, menyuruh ke ruangan nya tapi diam saja macam patung Pancoran." batin Winda mulai gondok.


Hendra yang merasa di lihatin Winda terus menerus, sesekali melirik ke arah Winda. Dalam hatinya ia tertawa geli ketika melihat ekspresi Winda yang mulai cemberut bibir nya. Winda mulai berdiri dan mulai melangkah kan kakinya keluar pintu ruangan itu tetapi dengan cepat Hendra mencegah nya.


" Mau kemana, my queen! Duduklah dulu sebentar, sayang! Ini masih tanggung sekali." ucap Hendra yang seketika Winda mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan itu tanpa permisi.


Winda dengan cemberut akhirnya duduk kembali ke kursi sofa yang terletak di sudut ruangan itu. Akhirnya, mata Winda tertuju pada beberapa tangkai bunga yang ada di vas dan mulai merapikan nya. Kiji Winda mulai sibuk merangkai bunga itu sesuai selera nya. Hendra yang melihat tingkah laku Winda jadi tersenyum simpul.

__ADS_1


" Hehehe. Lucu sekali Winda!" batin Hendra dan mulai mendekati Winda di sofa itu.


" Masih marah yah?" tanya Hendra sambil nyengir.


Winda yang ditanya malah diam dan masih fokus dengan bunga-bunga yang dirangkai nya. Hendra mulai menghela nafasnya.


"Ayo ikut aku, my queen!" ajak Hendra sambil mengambil tangan Winda yang masih sibuk memegang bunga.


" Eh?" Winda spontan kaget ditarik dengan paksa oleh Hendra keluar ruangan nya.


" Saya bisa jalan sendiri! Malu dilihat karyawan yang lain." kata Winda pelan.


" Biar saja!" sahut Hendra sambil menarik Winda menuju tempat parkiran mobil Hendra di sana.


" Tapi tas saya..." ucap Winda sambil menarik tangan nya supaya Hendra melepaskan tangan itu.


Hendra sejenak berhenti ketika sudah sampai diparkiran dimana mobilnya ada di sana.


" Appa?" seketika Winda melotot tapi pada akhirnya langsung bergegas dan berlari kecil masuk kembali kedalam ruangan nya.


Hendra yang menjahili Winda hanya cengar-cengir melihat tingkah Winda.


" Hehe!" Hendra terkekeh sambil membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam mobil itu.


" Itu balasan jika berani merajuk pada aku, hehe. Aku malah semakin ingin mengerjainya. hehehe." kata Hendra pelan.


Tidak lama kemudian Winda datang dengan tasnya. Nafasnya masih terdengar ngos-ngosan karena berlari kecil sesuai instruksi Hendra yang memberikan waktu dua menit untuk nya.


" Masuklah, my queen!" perintah Hendra sambil membukakan pintu mobilnya untuk Winda.


Winda mulai masuk dan menduduki tempat duduk itu. Winda masih diam tidak mau memulai berbicara.

__ADS_1


" Kamu mau makan apa, my queen?" tanya Hendra sambil melirik ke arah Winda.


" Lagi malas makan!" sahut Winda sambil memainkan ponselnya.


Mobil itu melaju dengan kencang. Ketika mulai dijalan besar Hendra sengaja menambahkan kecepatan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara jalanan cukup lenggang saat itu. Winda mulai dibuat panik dengan semua itu. Hendra masih fokus dengan menjalankan kemudinya. Kecepatan mobilnya masih belum berubah sesekali menghindari dan menyalip mobil di jalanan itu.


Winda masih belum terlihat menunjukkan ekspresi takutnya. Matanya hanya sesekali terpejam karena kecepatan mobil itu melaju cukup kencang menurut Winda. Hendra sesekali melirik ke samping, melihat Winda yang masih diam.


Hendra mulai menambahkan kecepatan nya. Hal itu membuat Winda mulai berteriak kencang tatkala mobil dari arah berlawanan hampir mendekati mobilnya, secepatnya Hendra dengan lihainya bisa menghindari situasi tersebut.


" Abang! Jangan melakukan hal konyol seperti ini. Cukup! Apa kamu puas jika aku seketika mati mendadak karena jantungan?" kata Winda yang seketika berkata kepada Hendra dengan kata ' aku dan kamu' karena emosinya.


" Hahaha!" Hendra malah tertawa terbahak-bahak yang melihat Winda dengan kemarahan nya.


Winda malah semakin manyun bibirnya beberapa senti. Hal itu malah semakin membuat Hendra semakin terpingkal-pingkal melihat ekspresi Winda yang lucu jika marah seperti itu.


" Kita makan disini saja, my queen!" ajak Hendra sambil keluar dari mobilnya lalu berjalan ke pintu samping untuk membuka pintu mobil itu untuk Winda.


" Ayo sayang!" ucap Hendra sambil meraih tangan milik Winda yang enggan keluar dari mobil itu.


Winda masih menunjukkan cemberut nya. Dan enggan bangkit dari duduknya.


" Hehehe, maaf sayang! Aku minta maaf. Jangan ngambek terus dong! Kalau ngambek terus, tambah cantik loh, kamu!" goda Hendra.


" My queen! Ayolah! Kalau ngambek terus, aku gendong yah." kata Hendra dan dengan sigap ingin mengangkat tubuh mungil Winda tetapi dengan cepat Winda keluar dari mobil itu.


" Begitu dong! Jangan ngambek terus. Aku sudah seperti rengginang yang berserakan, yang terinjak-injak dijalan, sudah tidak ada harga dirinya jika kamu merajuk terus. Aku didiamkan begitu saja, dicuekin seperti peyek yang melempem tersiram air." kata Hendra sambil ngomel-ngomel.


Winda yang mendengar nya jadi cekikikan. Hendra yang melihat Winda kembali tersenyum jadi lega hatinya. Paling tidak hari ini, Hendra sudah melihat bagaimana Winda ketika emosi atau marah. Suatu ketika, Hendra akan lebih memahami watak dan sifat Winda, apa yang dia suka dan tidak suka.


( Pemanasan lagi, lagi turun mood menulisnya)

__ADS_1


__ADS_2