Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SINGGAH


__ADS_3

" Kenapa kita mampir di sini, Mas?" tanya Rosiana sambil duduk mendekati Wardha yang kini sudah sah menjadi suami nya itu.


Mereka sudah berada di sebuah penginapan sebelum pulang ke rumah besar milik Sarwenda. Rencana mereka, Wardha akan terlebih dahulu pulang ke rumah untuk mencegah timbulnya kecurigaan dari Sarwenda.


" Aku ingin menuntut hak ku sebagai suami, Ros! Selama di rumah kita belum sempat melakukan nya, bukan. Orang tua kita dan juga beberapa kerabat tidak henti- hentinya berkunjung dan ingin berbincang dengan kita." keluh Wardha.


" Hehehe. Mereka masih sangat kangen dengan kita. Sudah sekian lama, Mas Wardha tidak pulang ke kampung. Jadi wajar saja mereka ingin ketemu Mas Wardha. Apalagi teman- teman Mas Wardha sewaktu remaja dulu." kata Rosiana.


" Aku mau sekarang!" bisik Wardha sembari meraih tubuh milik Rosiana yang duduk tidak jauh darinya.


Tubuh itupun dengan cepat dan cekatan di peluknya dengan kasih sayang. Ciuman mulai mendarat dengan lembut ke Rosiana. Seolah ingin memberikan kehangatan dan kedamaian untuk wanita yang sudah lama di sayangi nya itu.


" Aih!" keluh Rosiana sembari bangkit berdiri dan menjauh dari tempat Wardha yang tiduran di ranjang penginapan itu.


Rosiana berdiri agak jauh di depan Wardha. Rosiana mulai berinisiatif ingin melakukan nya. Sebagai seorang istri, Rosiana tidak ingin membuat suaminya itu kecewa. Sudah sekian lama mereka memendam keinginan itu. Dan kini mereka sudah dihalalkan dengan pernikahan suci. Mereka sudah menjadi pasangan suami istri walaupun Wardha telah mengkhianati istri pertama nya dan menikah lagi dengan Rosiana. Karena memang orangtuanya mendukung dan menginginkan Rosiana menjadi istri Wardha, itu tidak menjadi jalan kesulitan untuk mereka bersatu dalam ikatan suci. Orang tua Wardha tidak ingin hidup Rosiana penuh kesepian dan kesedihan setelah kepergian suaminya itu yang meninggal dunia.


Wardha menatap nya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan dan tanpa berkedip matanya. Wardha mulai mendekati Rosiana dan memeluk nya dari belakang. Di ciumnya lebih lembut istrinya itu seakan takut menyakiti Rosiana.


" Mas. Aku menyayangimu,mas Wardha. Miliki lah aku seutuhnya dan jangan pernah engkau meninggalkan aku lagi. " rengek Rosiana dengan manja.


" Tidak akan! Cukup itu kesalahan ku di masa lalu. Aku akan membahagiakan mu, sayang." sahut Wardha dengan lembut membelai kepala Rosiana.


" Aku akan buat kamu melayang dan terbang ke langit tujuh." bisik Wardha lalu membalikkan badan Rosiana hingga mereka kini saling berhadapan.


Wardha mulai mengecup dengan lembut dahi milik Rosiana. Senyuman yang merekah terpancar oleh kedua laki-laki dan wanita itu. Sampai akhir nya bibir seksi milik Wardha mulai mengecup lembut bibir merah milik Rosiana. Sampai akhir nya ciuman yang panjang dan lama pun terjadi. Birahi dua insan manusia itupun mulai memanas. Keluhan, rintihan, ******* lembut keluar dari mulut pasangan suami istri itu.


Wardha pun mulai menggiring Rosiana ke medan syahwat yang menciptakan butiran- butiran keringat cinta. Tubuh kekar Wardha pun mulai membenamkan tubuh lembut milik Rosiana. Kini permainan masih dikuasai oleh Wardha.


" Aku ingin, Mas!" bisik Rosiana sambil nafasnya mulai memburu. Irama jantungnya mulai tidak beraturan. Gejolak nya makin membuncah. Sudah sekian lama hasrat itu tidak tersalurkan setelah kepergian suami nya.

__ADS_1


Wardha mulai memberikan ruang gerak bebas Rosiana untuk menguasai dirinya. Memberikan kesempatan kepada Rosiana untuk mencapai kepuasan dan ******* dalam pertarungan syahwat itu. Rosiana mulai bereaksi dengan segala upaya untuk memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya itu.


*******


" Sayang! Nakal sekali kamu, sayang." kata Wardha pelan dengan keluhan nafas yang masih tidak teratur.


Rosiana hanya tersenyum nakal. Seperti mengikuti irama, Rosiana mulai menari- nari indah, yang membuat Wardha tidak berdaya dan mata itu menjadi redup sambil menatap indah wajah ayu milik Rosiana.


" Wanita selugu kamu pun pandai juga membuat laki-laki tidak berdaya, ya Ros." kata Wardha dengan senyum mengembang.


" Ini hanya soal naluri manusia. Jika hasrat dan nafsu sudah memuncak, tidak di ajari ataupun tidak perlu belajar sudah dengan sendirinya bisa dan mahir." kata Rosiana dengan senyum menggoda.


"Sayang!"


" Tapi aku menjadi nakal, itu semua karena kamu, mas." bela Rosiana.


" Setelah ini, aku segera pulang yah sayang. Aku tidak ingin Sarwenda mencurigai aku. Bisa berantakan nanti." ucap Wardha.


" Jangan sekarang! Kamu tahu kan, Sarwenda saat ini mengidap penyakit yang serius. Aku tidak tega membuatnya stress jika mengetahui hubungan kita. Ini hanyalah waktu, jika Sarwenda harus mengetahui hubungan kita. Mau tidak mau, suatu saat nanti aku pun harus rela dengan segala keputusan dan kemungkinan terburuk dari Sarwenda." kata Wardha.


" Apakah non Sarwenda akan meminta diceraikan oleh kamu, mas?" tanya Rosiana sambil mengusap dada bidang milik Wardha.


" Entahlah! Kalau itu terjadi. Aku pun harus berani menanggung segala konsekuensi nya. Semua hanya Sarwenda yang memutuskan. Jika dia sakit hati, kecewa dengan kebenaran ini, dia akan mendepak ku." cerita Wardha.


" Kalau non Sarwenda sangat mencintai, mas Wardha. Aku yakin, non Sarwenda tidak akan meminta cerai mas Wardha. Non Sarwenda pasti akan mempertahankan rumah tangga nya, demi anak- anaknya." sahut Rosiana.


" Iya juga! Bener juga katamu sayang."kata Wardha.


" Apalagi, keadaan non Sarwenda yang sudah mulai sakit- sakitan. Bukankah ini akan menyadarkan non Sarwenda bahwa dirinya sebagai wanita atau istri tidak bisa sepenuhnya memberikan kebahagiaan dan kepuasan pada suaminya dengan sempurna?" kata Rosiana.

__ADS_1


" Bisa jadi. Namun Sarwenda itu ego nya tinggi. Apakah mau berbagi suami dengan kamu, jika mengetahui kebenarannya?" sanggah Wardha.


" Mas Wardha lah yang paling tahu dan paham akan sifat Non Sarwenda." sahut Rosiana sambil memalingkan wajahnya.


" Idih! Begitu saja cemburu loh. Bagaimana nanti kalau kamu setiap hari melihat kebersamaan kami di satu atap rumah itu, sayang!" kata Wardha menggoda.


" Boleh kah aku, keluar dari rumah itu dan ngontrak rumah sendiri?" tanya Rosiana.


" Kalau kamu rumah sendiri, berarti ingin jauh dari anak kita, Siwa? Apakah kamu tidak kesepian jika jauh dari Siwa?" tanya Wardha.


" Aku merasa tenang, Siwa ada di rumah itu. Siwa sudah mendapatkan kenyamanan di rumah itu bersama Dahlia dan Mbak Santi juga mama tirinya Non Sarwenda." ucap Rosiana.


" Lalu apakah kamu tidak akan rindu dan juga kesepian jika tiap hari tidak berjumpa dengan kamu, sayang! Tidak mungkin aku bisa setiap hari keluar rumah itu untuk menginap menjumpai kamu. Itu akan sangat menyulitkan aku, sayang. Jadi lebih baik, kamu tetap tinggal di rumah itu dan satu atap dengan madu kamu. Dan aku bisa diam- diam datang ke kamar kamu. Memberikan nafkah sebagai suami kamu." alasan Wardha.


" Hahaha itu alasan kamu, yang membuat enak kamu mas!" sahut Rosiana.


" Lebih tepatnya buat enak sama- sama. Kedua belah pihak antara aku dan kamu juga merasa enak, bukan?" ucap Wardha.


" Baiklah! Walaupun aku harus merasakan mendidih dan panas ketika melihat kemesraan antara kalian mas." sahut Rosiana.


" Sudahlah! Cepatlah pulang mas! Besok baru aku akan pulang ke rumah itu." tambah Rosiana.


" Baik lah! Aku akan segera mandi. Tetapi sebelum aku kembali ke sangkar emas itu, temani lah aku untuk makan siang." ucap Wardha.


" Tentu saja, suamiku. Aku akan berusaha membuatmu senang. Aku akan berusaha dekat dan melihat mu setiap hari walaupun nanti di rumah mewah milik maduku itu, aku harus melihat kemesraan kalian setiap waktu." keluh Rosiana lagi.


" Eh? Jangan khawatir! Aku akan berusaha menjaga perasaan kamu, sayang. Aku tidak akan menunjukkan kemesraan dengan Sarwenda di depan matamu." janji Wardha.


" Benar kah? Terima kasih atas upaya kamu, mas. Aku tidak akan bisa bernafas longgar jika harus melihat mu bersama dengan non Sarwenda penuh dengan tawa dan kebahagiaan itu." sahut Rosiana penuh dengan keluhannya.

__ADS_1


" Hahaha... tapi kamu hadir kembali setelah adanya Sarwenda. Dan kami sudah hidup bersama, sayang." bantah Wardha.


Rosiana hanya menghela nafas panjang dan lalu bangkit dari pembaringannya melangkah masuk ke kamar mandi.


__ADS_2