Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SEPERTI ANAK KECIL


__ADS_3

Sore itu sinar matahari masih memancarkan sinar jingga. Senja pelan- pelan muncul menggantikan waktu siang. Masih di rumah teduh, asri, nyaman milik Winda. Winda masih menyirami tanaman nya. Sedangkan Wisnu terlihat bermain ayunan bersama Mbak Atik. Suara teriakan dan tawa lepas terdengar di sana.. Wisnu terlihat senang bermain dengan Mbak Atik di ayunan itu. Winda yang menyaksikan semua itu cukup terbawa riang hatinya. Wisnu terlihat semakin hari tumbuh semakin besar.


" Wisnu, nanti kalau keringatan lagi, mandi lagi yah sayang!" kata Winda sambil melemparkan senyumannya kepada anak semata wayangnya.


" Oke siap, mama cantik!" sahut Wisnu sambil tertawa karena Mbak Atik mendorong ayunan itu sedikit kencang.


" Mbak Atik, cukup! Bawa Wisnu masuk ke dalam dan biarkan Wisnu mandi." suruh Winda.


" Baik, mbak!" sahut Mbak Atik.


" Ayo, Wisnu ganteng!" ajak Mbak atik akhirnya mereka berdua bergegas masuk ke dalam rumah.


Winda masih terlihat duduk sejenak setelah selesai menyirami tanaman nya. Ditarik nya perlahan udara segar di sore itu. Tiba-tiba sebuah mobil sport berhenti di depan gerbang rumah, setelahnya seorang pria keluar dari sana. Kembali sore itu Herika datang. Tangan kanannya terlihat menenteng paper bag lumayan besar.


" Assalamu'alaikum!" sapa Herika yang memberikan salam kepada Winda setelah dirinya masuk di pintu kecil gerbang rumah Winda yang dibukakan oleh satpam rumah Winda.


Winda menarik nafasnya, seolah sedang sangat malas bertemu dengan Herika.


"Wa' alaikum salam!" jawab Winda.


" Aku bawakan sesuatu buat kamu, Win!" kata Herika sambil meletakkan paper bag itu di atas meja di tanam itu.


" Seharusnya kamu tidak perlu repot- repot lagi, Herika!" ucap Winda.


" Tidak! Aku tidak repot kok!" sahut Herika lalu duduk di kursi kayu panjang itu.

__ADS_1


Belum sempat keduanya mengobrol ada satu mobil lagi berhenti tidak jauh dari depan gerbang rumah Winda. Mobil itu berhenti di belakang mobil sport milik Herika. Setelah itu seorang pria keluar dari mobil itu dengan mengenakan kacamata hitam nya dan juga membawa sekeranjang buah- buahan.


" Hah? Hendra?" gumam Winda pelan. Herika hanya melemparkan senyumannya itu kepada Winda. Winda mulai panik dengan situasi tersebut. Lalu menatap ke arah Herika seolah memohon untuk segera pergi meninggalkan rumahnya. Namun tatapannya mungkin saja di anggap Herika hanya sebatas kekhawatiran saja sehingga Herika masih tetap duduk diposisi nya yang tidak jauh dari Winda duduk.


" Hai! Ini aku bawakan buah- buahan untuk kamu, Win!" kata Hendra setelah dekat ke arah Winda dan Herika sedang duduk.


" Hem iya, terimakasih banyak." sahut Winda akhirnya.


Hendra melihat paper bag yang berada di atas meja itu. Matanya begitu terlihat tidak suka dan seolah keberadaan nya di tempat itu tidak sesuai dengan harapannya. Herika yang sebenarnya ingin meminta maaf kepada Winda. Namun akhirnya mengurungkan niatnya dan hanya mampu berdiam saja.


" Aku mau masuk ke dalam! Kalian boleh pulang!" ucap Winda lalu bangkit dari tempat duduknya dan bergegas melangkah ke pintu utama rumahnya. Namun dengan cepat, Hendra menahan lengan milik Winda.


" Tunggu, Winda! Aku minta maaf!" kata Hendra dengan serius tanpa memperdulikan bahwasanya di sana masih ada Herika di tempat duduknya tadi.


" Baik! Aku juga minta maaf, bang! Kita sudah sama- sama saling memaafkan. Sekarang kamu boleh pergi!" kata Winda dengan tegas. Hendra yang mendengar semua itu malah semakin emosi. Iya, memang pada dasarnya Herika mudah marah jika dipancing seperti itu.


" Terserah! Jika kamu menilainya seperti itu!" sahut Winda sambil bergegas menjauh dari Hendra.


Kembali Hendra menahan Winda supaya tidak meninggalkan nya.


" Katakan apakah pria itu yang membuat kamu berani mengusir aku?" ucap Hendra dengan suara keras.


Winda hanya diam dan membuang mukanya terhadap Hendra. Bagi Winda saat ini, dirinya lagi malas dan ribut dengan Hendra.


" Winda! Kenapa kamu hanya diam saja?" kata Hendra lagi.

__ADS_1


" Jadi benar? Kamu sudah menjalin hubungan dengan pria ini, hingga nomerku kamu blokir?" ucap Hendra lagi.


" Dasar janda.... " imbuh Hendra keras namun kalimat itu tidak dia lanjutkan.


Winda yang mendengarnya menjadi membulat matanya dan menatap tajam ke arah Hendra. Tatapannya ada kemarahan, kecewa dan juga sakit hati. Matanya seketika mulai berkaca- kaca. Tidak hanya Winda, Herika yang mendengar nya pun langsung berdiri dan ingin mendekati Hendra. Rasanya Herika ingin menonjok muka Hendra.


Hendra seketika diam dan terdiam. Dia menyesal telah mengeluarkan kalimat makian itu kepada Winda.


" Maaf, Winda! Aku aku tidak bermaksud..." kata Hendra pelan.


Winda secepatnya lari dari tempat itu dan bergegas masuk kedalam rumahnya. Dia tidak peduli jika teriakan Hendra keras memanggilnya. Demikian juga Herika.


Herika seketika mendekati Hendra dan secara cepat memberikan satu pukulan ke muka Hendra.


" Ini untuk kamu! Mulut kamu kurang di sekolahkan rupanya." kata Herika sambil mendaratkan tinjunya ke muka Hendra.


" Kau! Kau jangan ikut campur urusan kami. Ini semua gara-gara kamu!" ucap Hendra marah sambil mengusap sedikit darah ke bibirnya.


Satpam yang ada di rumah Winda itupun segera melerai pertikaian itu. Keduanya akhirnya duduk di kursi kayu panjang di taman itu. Sama-sama saling diam lalu akhirnya menyalakan rokok nya sama-sama. Satpam rumah Winda yang melihat kedua pria dewasa itu masih sama-sama duduk di kursi taman itu segera menghubungi Mbak Atik supaya membuatkan kopi untuk keduanya.


Keduanya seperti anak kecil yang habis berantem karena memperebutkan mainannya. Lalu saling diam- diaman pada akhirnya mereka akan memulai bicara dan meminta maaf.


Berbeda dengan Winda. Winda sudah malas menjumpai keduanya. Tidak untuk Hendra dan juga Herika. Namun kata- kata Hendra sudah cukup membuat dirinya sakit hati. Mengingatkan kembali akan status nya. status sebagai janda. Ini bagi seorang wanita sangat menyakitinya apalagi yang mengucapkan adalah seseorang yang dia sayangi selama ini. Seseorang yang paling dekat setelah kepergian almarhum suaminya.


" Aku tidak pernah menyangka, kamu bisa mengatakan hal itu terhadap aku. Mengingatkan kembali akan status aku. Dan itu yang membedakan antara kamu dengan aku. Aku yang pernah menikah sedangkan kamu belum." kata Winda seperti bermonolog.

__ADS_1


*******


Apakah kamu akan menjelaskan kepada seseorang yang membenci kamu dan tidak menyukai mu, jika hal itu tidak akan mempengaruhi akan anggapannya. Dan orang yang menyukai dan menyayangi kamu, tidak memerlukan penjelasan tentang siapa kamu karena baginya kamu tetap seseorang yang termasuk dalam prioritas nya.


__ADS_2