Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
KEMBALI PULANG


__ADS_3

Cinta itu ada keinginan dan dorongan. Keinginan itu adalah nafsu. Makhluk Tuhan yang tidak memiliki nafsu, paling setia dan patuh akan perintah dan tugas-tugas adalah malaikat. Cinta yang seperti apakah yang tanpa hasrat dan nafsu? Cinta yang sesungguhnya ada rasa ingin memiliki walaupun terhalang oleh rasa takut dan pesimis dalam bertindak serta berusaha. Lalu bagaimana dengan ambisi atau obsesi. Keduanya bertindak seolah tanpa memahami situasi, kondisi dan terkesan memaksakan kehendaknya tanpa memperdulikan yang lainnya. Hal ini cenderung tidak adanya empati terhadap sekitarnya. Tidak ada kepedulian bahwa ada hati yang tersakiti oleh sikap dan perilaku nya.


Memang pada dasarnya manusia memiliki watak dan sifat yang berbeda-beda. Sifat manusia itu sendiri bisa dirubah jika yang bersangkutan ingin memperbaiki nya tetapi berbeda dengan watak. Watak sudah melekat pada diri seseorang yang tidak bisa di rubah. Pembentukan watak, karakter dibentuk sejak usia seseorang masih dini. Setelah akal bisa diajak berfikir, pembentukan watak dan karakter sudah dimulai.


*******


Sarwenda melajukan mobilnya dengan kencang. Tujuannya adalah kembali ke rumahnya sendiri. Tekadnya sudah bulat tidak ingin kembali ke rumah kediaman Pak Hartono. Dia sudah menyerah atas rasa sakit hatinya dengan Surya. Seseorang yang menjadi tujuan cintanya. Surya sudah tidak menghendaki dan menghiraukan nya. Dahulu Sarwenda masih bisa bertahan di rumah itu karena masih ada Wardha yang peduli dan memberikan kasih sayang yang tulus terhadap nya. Ketika Wardha tidak lagi di rumah itu, Sarwenda merasa sendirian di sana. Tidak ada pengakuan. Tidak ada kasih sayang yang diharapkan nya. Seolah dia wanita rendahan. Sarwenda merasa terhina dengan perlakuan Surya. Bagi nya dia tidak berharga dimata laki-laki itu. Sarwenda sudah tidak peduli lagi dengan obsesi nya.


Sarwenda langsung masuk ke kamarnya dan mengganti bajunya yang basah. Selang beberapa waktu, Sarwenda duduk di sofa ruang tengah.


" Pak Kasim! Pergilah ke rumah kediaman Pak Hartono. Beres-bereskan semua barang- barang milikku dan bawa kemari secepatnya. Ajak saja Bu Munah supaya tugas ini ringan dan cepat selesai." perintah Sarwenda yang sudah sampai di rumahnya dan duduk di sofa ruang tengah.


" Baik non!" jawab Pak Kasim dengan badan yang menunduk hormat kepada majikan nya.


Pak Kasim berlalu meninggalkan tuan nya. Dan melangkah ke belakang, dapur mencari Bu Munah.


" Aku tidak akan lupa. Tapi aku tidak ingin dendam. Surya! Kamu seharusnya membayar semua penghinaan ini terhadapku." kata Sarwenda penuh kemarahan.


Seorang pria tiba-tiba masuk ke dalam rumah Sarwenda. Lalu ikut duduk dekat di samping Sarwenda dengan tenang.


" Jadi? Kamu tidak pulang di rumah kediaman Pak Hartono?" tanya Wardha dengan nada sinis.


" Oh ho! Kamu sejak kapan mengikuti ku?" tanya Sarwenda dengan emosi dan penuh kebencian.


" Sejak kamu keluar dari rumah itu dan menuju ke rumah Surya." jawab Wardha sambil sinis.


" Kamu selalu ikut campur urusanku!" kata Sarwenda ketus.

__ADS_1


" Karena aku peduli dengan mu!" sahut Wardha.


" Tapi kegagalan rencana ku karena kamu. Kamu selalu mendoakan gagal dalam rencana ku kan?" ujar Sarwenda ketus.


" Aku sangat bahagia jika melihat kamu selalu tersenyum bahagia. Aku selalu ikut senang ketika melihat mu tertawa dengan lepas. Tapi sudah cukup lama aku tidak melihat mu tertawa dengan lepas dan penuh kemenangan." kata Wardha.


" Sebentar lagi kau akan melihat nya." sahut Sarwenda dengan senyum sinis nya.


*******


Pak Kasih dan Bu Munah sudah berangkat ke kediaman Pak Hartono. Mereka tentu saja berjumpa dengan Bu Hartini. Intan yang mengetahui hal itu sangat senang. Baginya kedatangan Sarwenda di rumah itu membuat risih dan tidak nyaman. Jangankan melihat wajahnya, ada bayangan Sarwenda saja bikin eneg dan muntah. Apalagi tingkah dan sikap Sarwenda di rumah itu ingin berkuasa dan menguasai semua. Tidak heran jika Intan makin membenci wanita itu.


Bu Hartini yang memiliki sifat mengayomi dan penuh kasih sayang pun segera ingin menanyakan semuanya pada Sarwenda. Bu Hartini segera mengambil ponselnya dan menghubungi Sarwenda. Intan yang melihat mama nya menghubungi Sarwenda sebenarnya ingin mencegah nya tapi Intan akhirnya tidak bisa memprotes semuanya.


" Halo Sarwenda!" panggil Bu Hartini setelah sambungan keluar nya tersambung dengan nomer tujuannya.


" Apa benar kamu sudah tidak ingin tinggal di sini lagi?" tanya Bu Hartini.


" Iya ma! Pak Kasim dan Bu Munah sudah sampai kan Ma. Biar orang- orang saya yang membereskan barang-barang milik saya." kata Sarwenda.


" Lalu kenapa? Kamu tidak menunggu sampai kelahiran anak kamu?" tanya Bu Hartini.


" Tidak perlu ma! Aku pun tidak berminat lagi untuk menjadi istri Surya." jawab Sarwenda.


" Idih! Memangnya Mas Surya mau menikahi kamu!" sahut Intan yang mendengar suara dari Sarwenda melalui sambungan ponsel itu. Bu Hartini sengaja me louspeker supaya Intan juga bisa mendengar percakapan diantara mereka.


"Bagaimana kalau anak yang kamu kandung adalah anak Surya?" tanya Bu Hartini.

__ADS_1


" Aku tidak peduli, ma!" jawab Sarwenda sinis dan penuh kemarahan.


" Tapi mama peduli, jika itu menyangkut cucu mama." sahut Bu Hartini.


" Asal mama tahu! Anak ini anak ku, bukan anak Surya!" kata Sarwenda.


" Jangan bercanda Sarwenda. Kalau anak itu adalah darah dagingnya Surya, itu artinya cucu mama juga kan?" ucap Bu Hartini masih bersabar.


" Tidak! Anak ini bukan darah daging Surya. Aku telah berbohong dengan kalian. Puas!" kata Sarwenda lalu memutuskan sambungan itu.


Intan dan Bu Hartini saling pandang. Intan hanya tersenyum sinis dengan kemarahan Sarwenda.


" Menurut kamu, Sarwenda bilang kalau anak yang dikandung nya itu bukan darah daging Surya itu karena kemarahan dan kekecewaan nya terhadap sikap Surya. Atau memang kenyataannya seperti itu, Tan?" tanya Bu Hartini.


" Aku dari dulu menduga bahwa Sarwenda mengandung anak bukan dengan Mas Surya, ma!" kata Intan sambil melirik kedua orang- orang suruhan Sarwenda


" Eh! Ya sudah, silahkan beres- beres barang- barang milik majikan kalian. Katimbang kalian kena marah oleh majikan kalian, kan bisa repot." tambah Intan sambil menarik tangan Bu Hartini keluar dari kamar itu dan membiarkan Pak Kasim dan Bu Munah ada di kamar tersebut untuk membereskan barang-barang milik Sarwenda dan mengangkut nya.


" Ada apa yang membuat Sarwenda tiba- tiba ingin angkat kaki dari sini yah?"tanya Bu Hartini sambil berpikir.


" Mungkin saja Tuhan telah memberikan petunjuk, ma!" jawab Intan asal.


" Kamu tidak boleh begitu dong. Dalam hal ini, kakakmu juga salah. Sarwenda jadi nekat seperti itu karena kakak kamu itu pernah menaburkan benih kasih sayang terhadap Sarwenda. Jadi ketika Surya kembali pulang dan berpaling dari Sarwenda, itu yang belum bisa diterima oleh Sarwenda. Sarwenda nekat melakukan apa saja asal bisa mendapatkan kasih sayang, kakak kamu itu." ucap Bu Hartini.


" Mana bagusnya Mas Surya itu? Dibanding bintang Hollywood, kalah jauh tapi kenapa banyak wanita ingin mendekatinya. Jelas- jelas tahu kalau Mas Surya sudah berstatus suami orang." kata Intan.


"Ais! Surya itu anak mama yang paling ganteng, Intan. Kamu menghina Mas Surya sama saja menghina mama dan papa loh!" ujar Bu Hartini.

__ADS_1


" Eh?? Maaf ken Intan,ma! Haha!" sahut Intan sambil nyengir.


__ADS_2