
Pagi cerah di hari itu. Mentari masih patuh bersinar membedakan gelap malam dengan siang. Sejuk kan embun yang masih hinggap di dedaunan menambah segarnya udara saat itu. Winda masih berkutat dengan beberapa tanaman di pot-pot di pekarangan nya. Baginya merawat tanaman itu sungguh menyenangkan.Jika setiap hari mengetahui pertambahan satu daun atau kuncup bunga yang bakal bermekaran.
Sejenak Winda melupakan kesunyian hatinya tatkala duka, kecewa, marah, terhadap hubungan nya dengan Hendra, kekasihnya. Hatinya saat ini hanya bertekad ingin sendiri dan tidak mau terkungkung terus- menerus dengan hal-hal yang dianggap nya tidak penting. Marah, cemburu yang timbul karena ketidakpercayaan satu dengan yang lain. Bagi Winda, hubungan nya dengan Hendra selama ini sudah sangat serius lalu kenapa hanya masalah kecil harus saling menyakiti. Atau mungkin saja, diantara mereka lagi dalam titik kebosanan hingga harus menciptakan percikan masalah supaya pada akhirnya ketika hati mereka sama-sama berdamai muncul rindu yang harus diungkapkan. Namun apakah masalah harus terus- menerus diciptakan untuk membuat mesra kembali muncul. Bukankah masih ada cara lain sebagai laki-laki dan wanita dewasa dalam mempermanis tiap hubungan?
Pagi itu, Winda sengaja tidak masuk kerja. Dirinya ingin menikmati suasana sendiri tanpa harus bertemu dengan Hendra. Winda terlihat membongkar tanaman itu. Memberikan ruang longgar pada tanah yang akan ditanam kembali tanaman yang berdaun merah itu. Kini beralih ke pot yang berdaun hijau namun ada warna merah itu. Winda masih fokus dengan kegiatan itu sampai Herika datang pun tidak dia ketahui.
" Hai.. Hai Hai.. nona! Bolehkah saya beli tanaman milik nona itu?" kata Herika yang membuat Winda seketika menoleh ke arah suara.
" Eh kamu, Herika! Tidak ke kantor?" tanya Winda.
" Nanti agak siangan! Ini aku bawakan bubur ayam untuk kamu dan Wisnu." ucap Herika sambil meletakkan tas plastik yang berisikan makanan yang dimaksudkan oleh Herika.
Winda melihat tas plastik yang berisikan kotak bubur itu. Winda hanya tersenyum lalu kembali dengan kegiatannya.
" Kalau hanya untuk aku dan Wisnu kenapa sebanyak itu sih, Her?" tanya Winda.
" Penghuni rumah ini selain kamu dengan Wisnu, bukankah masih ada toh Winda?" ucap Herika sambil duduk ikut berjongkok di dekat Winda.
" Suka tanaman jenis ini yah?" tanya Herika.
" Iya suka! Selain semua jenis anggrek." jawab Herika.
" Oh! Lain waktu kalau kamu longgar aku bisa ajak kamu ke galeri Anggrek. Di sana segala jenis bunga anggrek ada di sana." kata Herika bersemangat.
" Kamu juga suka anggrek?" tanya Winda sambil melihat ke arah Herika.
" Suka pakai banget selain tanaman bonsai." jawab Herika.
" Oh begitu! Aku tidak mengira kamu menyukai tanaman hias. Apakah kamu juga membuat tanaman bonsai sendiri?" tanya Winda.
" Tentu saja! Lain kali bermainlah ke rumah aku. Kamu bisa melihat koleksi tanaman-tanaman yang aku miliki dari hasil kerajinan bonsai aku sendiri atau beli jadi. Selain beberapa jenis bunga anggrek ada kok. Kalau anggrek sengaja aku letak di taman belakang. Jadi ketika duduk santai sambil ngopi bisa menikmati beberapa jenis bunga anggrek yang bermekaran di sana. Ini sungguh membuat sehat mata." cerita Herika membuat Winda semakin penasaran.
" Iya, lain kali kalau ada kesempatan aku pasti akan bermain ke rumah kamu, Herika. Memastikan apa yang kamu bilang itu benar adanya." sahut Winda abil tersenyum.
" Astaga naga! Kamu bisa lihat di galeri ponsel aku. Ada beberapa aku foto." kata Herika sambil mengambil ponselnya lalu mencari menu ke galeri nya.
__ADS_1
" Hehehe. Iya kamu benar-benar pencinta keindahan." nilai Winda.
*******
" Lihat lah! Kalau jenis daun ini warnanya seperti warna uang kertas bukan?" kata Herika dengan senyumannya.
" Eh? Kamu jangan pamer gitu Her! Duit bagimu seperti uang permainan monopoli saja." sahut Winda.
" Nih untuk kamu!" kata Herika sambil menyerahkan uang kertas yang warnanya sama dengan daun itu.
" Winda! Kamu tidak pergi ke kantor?" tanya Herika.
" Tidak! Aku lagi berantem dengannya dan asal kamu tahu itu karena dia cemburu dengan kamu, Herika. Kamu akhir- akhir ini sering kemari dan dekat dengan aku. Makanya aku mohon, kamu sementara waktu jangan sering-sering ke rumah aku. Apalagi dengan status aku yang seorang janda." kata Winda yang membuat Herika sangat terkejut.
" Yah, Winda! Mana aku sanggup jika tidak bertemu dengan kamu dan juga Wisnu." sahut Herika.
" Wisnu jangan menjadi alasan kamu yah, Herika!" kata Winda.
" Baik- baik! Aku akan berusaha menjaga jarak dengan kamu satu meter atau dua meter jika duduk seperti ini." ucap Herika sambil tersenyum.
" Herika! Aku tidak sedang bercanda, Herika." sahut Winda.
" Oke! Oke! Lalu apakah aku harus menjumpai kekasih kamu itu untuk menjelaskan kebenarannya." kata Herika.
" Kebenaran apa?" tanya Winda.
__ADS_1
" Kebenaran nya aku juga ingin bersaing untuk mendapatkan kamu." jawab Herika serius.
" Herika! Jangan seperti itu! Kita bersahabat. Dan aku tidak ingin yang lebih." ucap Winda.
" Baiklah! Lalu bagaimana kelanjutan dengan kekasih kamu itu, Winda?" tanya Herika penasaran.
" Aku tidak tahu! Saat ini aku hanya ingin sendiri. Mungkin saja hubungan kami akan terancam gagal untuk menuju ke pernikahan. Karena aku sudah mulai malas." terang Winda.
" Malas? Apakah dengan aku juga?" tanya Herika.
" Kamu? Kalau untuk hubungan lebih dari sahabat, itu tidak akan mungkin karena aku menganggap kamu sebagai teman. Jadi, tolong biarkan aku tenang dan tidak memikirkan soal hubungan percintaan itu bahkan untuk menikah kembali." kata Winda serius.
" Tidak mungkin? Kita tidak sedarah loh, Winda! Kita bisa memungkinkan untuk bersama dan berjodoh kelak." sahut Herika semangat.
" Sudahlah Herika! Untuk saat ini aku tidak mau memikirkan soal itu. Tidak untuk kamu dan untuk Dia." ucap Winda.
" Dia? Kamu sudah tidak ingin menyebutkan namanya yah?" kata Herika sambil terkekeh.
" Aku sudah malas!" sahut Winda.
" Aku masuk dulu, Herika! Kamu boleh pulang!" ujar Winda tanpa mempedulikan perasaan Herika.
" Ya ampun! Kamu mengusir aku, Win?" tanya Herika sampai terkejut.
" Aku hanya ingin sendiri dan tidak ingin diganggu, Herika!" kata Winda.
" Baiklah! Aku pergi! Tapi pesan aku kamu jangan lupa makan yah! Ini bubur jangan lupa dimakan!" ucap Herika.
" Baiklah! Terimakasih Herika!" sahut Winda.
*******
Ponsel Winda sedari tadi menunjukkan ada notifikasi pesan masuk dan panggilan masuk. Namun Winda membiarkannya tidak dibaca maupun diangkat panggilan masuk itu.
Winda sudah mengetahui siapa yang menghubungi dirinya. Akhirnya Winda nekat memblokir nomer yang selalu menghubungi dirinya itu. Winda saat ini hanya ingin tenang dan ingin melupakan segala yang membuat dirinya resah.
__ADS_1