
Ayolah! Aku ingin berkeliling dunia dengan mu.
Marilah bersamaku menaiki, melalui jalan terjal berliku.
Isilah hatimu dengan namaku. Tempat kanlah nama ku dalam singgasana itu. Usirlah jauh pergi nama- nama lain yang menggoda dan mengganggu mu. Yakinlah, bahwa aku adalah pangeran mu.
Yakinlah, aku yang melindungi, menentramkan, menenangkan jiwa dan ragamu.
Sambut! Sambut tangan ini! Dan bergandengan tangan erat dengan tanganku. Tangan yang menjadi damai mu. Lalu bisikkan kata dari jawaban ku.
" Aku ikhlas menerimamu dan menemani mu slalu."
*******
Masih di rumah makan yang bernuansa nusantara, Herika, Winda dan juga Pak Jackie masih menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan. Pak Jackie terlihat canggung melihat Herika mencoba mengambil hati Winda dengan cerita- cerita seru dan menarik ketika duduk di bangku kuliah. Memang mereka satu kampus dan Herika termasuk mahasiswa aktif dalam kegiatan keorganisasian seperti halnya Surya. Iya, almarhum Surya suami dari Winda.
Senyuman mengembang dan penuh gelak tawa, lepas diantara mereka. Pak Jackie seperti nyamuk yang hanya diam dan sesekali ikut tersenyum saja karena mau tidak mau harus mendengar segala obrolan dari mereka berdua yaitu Winda dengan Herika.
Sambil mengunyah makanan penutup mereka masih asyik menikmati malam di tempat itu. Winda pun mulai lupa waktu karena ke asyikan mengenang masa lalu bersama Surya dan juga Herika. Sampai ada saos yang menempel di pipi Winda pun tidak sadar. Akhirnya Herika pun mengusap dan membersihkan nya dengan tisu.
__ADS_1
" Kamu kalau makan masih seperti anak kecil. Hehehe." kata Herika sambil membersihkan soas yang menempel di pipi Winda.
" Ah aku gak sadar, Herika. Kita asyik mengobrol loh. Hehe." sahut Winda dengan wajahnya yang memerah malu sambil melirik ke arah Pak Jackie. Pak Jackie pun secepatnya tertunduk pura-pura tidak melihat pemandangan itu.
" Eh?? Sudah lama kita duduk di sini sampai mulai berberes semua pelayan. Keliatan nyanakan tutup rumah makan ini. Hehe." kata Winda.
" Yuk kita pulang!" ajak Winda akhirnya.
" Oh baiklah! Terima kasih untuk acara makan malam nya hari ini, ya Winda." ucap Herika sambil tersenyum.
" Loh, seharusnya aku yang berterimakasih kepadamu Herika!" sahut Winda sambil tersenyum.
" Pak Jackie tolong ke kasir!" perintah Herika sambil mengeluarkan dompetnya di tas nya lalu di berikan nya pada Pak Jackie. Pak Jackie lalu berdiri dan mengambil dompet yang diberikan oleh tuan mudanya.
Winda dan Herika saling tatap dengan tersenyum ramah.
" Ayo, Herika!" ajak Winda sambil berdiri dari duduknya. Tetapi entah kenapa kakinya kurang keseimbangan dan hendak jatuh namun secepatnya ditahan oleh Herika sampai mereka seperti posisi sedang berpelukan.
" Hati-hati Winda cantik! Kamu dari dulu selalu ceroboh loh yah!" sahut Herika untuk menghilangkan kecanggungan yang tiba-tiba muncul.
" Eh iya. iya.. aku sangat ceroboh yang." ucap Winda yang memerah wajahnya lalu melepas pegangan tangannya yang berada di lengan Herika. Herika dalam hatinya begitu bahagia bisa mencium aroma tubuh Winda yang segar dan wangi seperti anak bayi.
__ADS_1
" Ini dompetnya tuan muda!" kata Pak Jackie yang tiba-tiba datang setelah membayar tagihan semua makanan dan minuman yang mereka pesan malam ini. Herika mengambil dompetnya kembali dan akhirnya melangkah bersama Winda meninggalkan tempat duduk itu.
" Winda! Kamu tidak ingin bawa makanan untuk dirumah?" kata Herika.
" Gak perlu, Herika!" jawab Winda sambil tersenyum.
" Atau nanti kita sambil jalan kalau masih ada yang jual sate padang, kita beli dulu. Bagaimana?" tawar Herika.
" Tidak! Tidak! Itu makanan berat, Orang-orang rumah pasti sudah pada makan. Lagi pula Mbak Atik tadi masak banyak. Eh, astaga!" kata Winda.
" Kenapa Winda?" tanya Herika menjadi ikut panik.
" Aku melupakan sesuatu. Di rumah masih ada Bang Hendra. Aduh gimana nih, Herika? Pasti dia marah padaku nih." kata Winda khawatir.
" Bagaimana kalau kita bawakan oleh-oleh? Sate kambing dengan gulainya." sahut Pak Jackie sambil menjalankan mobil itu.
" Eh??" gumam Winda masih panik.
" Santai saja to Winda! Nanti biar aku jelaskan! Aku meminjamnya untuk kuajak makan malam sebentar. Lagi pula kita kan sudah sekian lama tidak bertemu. Anggap saja kita reunian." kata Herika.
" Reunian kok cuma berdua!" sahut Winda dengan mulut maju kedepan.
__ADS_1
" Jadi, sejak tadi aku tidak dianggap yah Non?" sahut Pak Jackie sambil menyetir mobil itu.
Winda dan Herika saling pandang dan akhirnya tawa mereka pecah seketika karena gaya bicara Pak Jackie terkesan seperti anak- anak.