Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SARWENDA PINGSAN


__ADS_3

Jika aku bisa menepis rasa sepi ini, mungkin saja aku tidak se gelisah ini. Jika saja kita tidak dipertemukan lagi, mungkin tidak akan terjalin lagi bunga- bunga beterbangan di hati. Namun, bukankah hak manusia untuk mencintai dan dicintai? Apakah salah, jika aku melanjutkan kisah yang sempat tertunda. Hanya bersamamu, saat inilah ku tambat kan kegundahan ini. Berilah aku keyakinan itu, agar hatiku tetap dan pasti dalam memutuskan bersamamu lah jalanku akan semakin indah.



Jika memang harus berkelok-kelok jalan yang ku tempuh bersamamu. Aku akan rela. Kalau memang hatimu hanya sepenuh nya untuk ku.


" Rosiana!" panggil Wardha pelan sambil mengetuk pintu kamar milik Siwa.


Benar apa yang dikatakan oleh Mbak Santi. Wardha tidak akan membiarkan Rosiana tidur tenang dan nyenyak sampai apa yang dia inginkan terpenuhi. Pelan- pelan Rosiana bangkit dari tempat tidur nya di samping Siwa yang sudah tertidur lelap. Pintu itu dibuka nya perlahan, hingga Wardha pun masuk ke dalamnya.


" Kamu belum tidur, sayang?" tanya Wardha sambil memeluk dengan mesra Rosiana.


" Sudah mau tidur. Hanya saja..." ucap Rosiana yang belum sempat melanjutkan kata- katanya bibirnya kena serangan oleh Wardha.


" Hemmm.. Mas Wardha! Cukup! Keluar lah! Nanti di cari Non Sarwenda." kata Rosiana sambil berusaha mendorong tubuh milik Wardha.


" Aku kangen sekali, Ros! Bantu aku! Tolong!" ujar Wardha sambil memeluk tubuh Rosiana lebih kuat sehingga Rosiana sudah sangat sulit untuk melepaskan.


" Aku mau, Ros!" kata Wardha seraya bertubi-tubi menciumi semua bagian tubuh yang bisa dijangkau nya.


" Jangan Mas! Jangan sekarang!" pinta Rosiana seraya berusaha menepis segala ciuman yang di darat kan kepadanya.


Tiba-tiba ketukan terdengar hingga mengagetkan kedua insan yang sedang bercumbu tersebut.


" Ros! Rosiana, buka pintunya! Non Sarwenda pingsan." teriak suara wanita yang begitu keras dan panik yang tidak lain adalah Mbak Santi.


Wardha seketika terkejut lalu melepaskan dekapannya terhadap Rosiana.


" Hah? Apa yang terjadi dengan Sarwenda?" kata Wardha pelan.


" Mas! Bagaimana ini, di luar masih ada Mbak Santi." sahut Rosiana panik.


" Biarkan saja! Toh dia sudah tahu bukan, solat hubungan kita?" tebak Wardha.


Bola mata Rosiana membulat menatap Wardha.


" Kamu jangan kaget seperti itu. Bukankah kalian dekat. Tidak mungkin kalau kamu tidak cerita dengan Mbak Santi." kata Wardha.


" Ta... ta tapi, Mbak Santi tahu sendiri." bela Rosiana.


" Iya! Tapi kamu pertegas dan perjelas dengan pengakuan dari kamu, kan? Ya sudahlah, kita lihat apa yang terjadi pada Sarwenda." kata Wardha sambil membuka pintu kamar Siwa.


Seketika Mbak Santi menjadi merasa bersalah ketika melihat Wardha membuka pintu kamar tersebut lalu melangkah keluar.


" Mbak, siapkan baju- baju milik Sarwenda. Aku dan Rosiana akan membawanya ke rumah sakit terlebih dahulu. Dan satu lagi, tolong titip anak- anak, Mbak." kata Wardha dengan cuek.

__ADS_1


" Hah? Aku... aku ikut mengantar non Sarwenda ke rumah sakit?" kata Rosiana pelan.


" Sudahlah! Ikuti saja perintah tuan Wardha." sahut Mbak Santi sambil menatap tajam ke arah Rosiana.


" Mbak!" panggil Rosiana pelan.


" Ya sudahlah! Memang enak hubungan yang penuh dengan skandal itu." ujar Mbak Santi ketus.


" Mbak Santi." kata Rosiana lirih.


" Enak yah? Tapi sayang, kali ini gagal lagi yah?" sindir Mbak Santi dengan senyum kecutnya.


" Terima kasih, Mbak. Kalau tidak karena Mbak Santi, semuanya akan terjadi." sahut Rosiana.


" Bukannya itu yang kamu tunggu dan harapkan?" sindir Mbak Santi.


" Tidak Mbak. Aku hanya menginginkan itu jika kami sudah benar-benar menjadi suami istri." sahut Rosiana.


" Appa?" Mbak Santi terkejut dengan membulat matanya bak kelereng.


" Sudahlah, ayo kita lihat keadaan Non Sarwenda." imbuh Mbak Santi.


*******


Wardha sibuk memberikan minyak kayu putih di bagian kaki lalu mencium kan bau minyak tersebut dekat ke hidung milik Sarwenda. Tubuh Sarwenda sudah di baringkan ke ranjangnya setelah tiba-tiba pingsan di belakang rumah tepat nya di dapur. Untung saja, Mbak Santi masih terjaga dan sedang berada di sana.


Sarwenda perlahan membuka matanya dan melihat sekeliling nya.


" Mas! Kamu dari mana? Aku tadi mencari kamu. Aku terbangun tiba-tiba dari tidur nyenyak ku. Aku mimpi sangat buruk." kata Sarwenda pelan.


" Aku ada di taman, sayang! Minum kopi sambil menikmati sinar bulan malam ini. Besok pagi kita ke rumah sakit, ya sayang. Ada yang tidak beres dengan kamu. Apakah kamu selama ini ada keluhan, sayang?" tanya Wardha.


" Tidak! Aku baik- baik saja, mas." sahut Sarwenda.


" Pokoknya aku tidak mau tahu. Besok pagi kita ke rumah sakit. Kita harus tahu, kenapa kamu tiba-tiba pingsan." kata Wardha yang panik.


" Aku hanya kecapean, sayang. Aku hanya kurang istirahat." sahut Sarwenda.


" Besok harus ke rumah sakit! Titik!" kata Wardha.


Sarwenda hanya tersenyum sambil membelai dengan lembut pipi milik suaminya itu.


" Malam ini, aku ingin melayani kamu mas!" kata Sarwenda sambil mengusap lembut milik Wardha.


" Jangan! Kamu harus istirahat! Kamu sakit. Aku tidak mau, terjadi apa- apa dengan kamu."sahut Wardha.

__ADS_1


" Aku baik- baik saja kok, mas." kata Sarwenda lalu bangkit dari tempat tidurnya.


Sarwenda berdiri lalu melepaskan satu persatu kain yang menempel di tubuhnya. Hingga kini tinggal bersisa pakaian dalamnya saja.


" Sarwenda!" gumam Wardha pelan sambil menatap lekat Sarwenda yang mulai berjalan mendekatinya.


" Sudah dua minggu ini kita tidak berhubungan bukan? Itu karena tiap kali kamu mengajak aku begituan, aku sedang mengalami rasa sakit, nyeri di bagian perut atau bagian intim itu. Entahlah! Aku hanya takut, akan mengecewakan mu, mas." kata Sarwenda sambil mengusap lembut bibir milik Wardha.


Tangan- tangan Sarwenda mulai membantu melepas semua yang melekat di badan milik suaminya itu hingga tidak ada lagi secuit benangpun.


" Kamu mau, Sarwenda?" tanya Wardha.


" Aku ingin memberikan kepuasan itu padamu mas." bisik Sarwenda yang membuat bulu kuduk Wardha berdiri.


" Katanya kamu sering sakit, akhir- akhir ini. Tapi janji yah, besok kita ke rumah sakit untuk medical cek up." kata Wardha.


Sarwenda hanya mengangguk pelan. Sebelum Wardha mulai bereaksi, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar nyaring.


" Siapa sih yang ganggu kita!" keluh Sarwenda sambil bangkit dan melangkah ke pintu kamarnya.


" Mas! Selimuti tubuh kamu dulu mas." perintah Sarwenda. Wardha mengikuti arahan istrinya itu lalu berbaring dengan berselimut di atas ranjangnya.


" Ada apa?" tanya Sarwenda setelah membuka pintu kamarnya.


" Eh?" kata Rosiana sambil melihat Sarwenda yang hanya memakai handuk yang di lilitkan ke badannya.


" Ma... ma.. maaf, saya mengganggu Non Sarwenda. Sarwenda, sudah baik- baik saja?" ucap Rosiana gugup.


" Kamu sudah lihat sendiri, bukan? Aku baik- baik saja. Ada apa, kamu ketuk- ketuk pintu kamar kami? Ini benar-benar tidak sopan, tahu!" ujar Sarwenda marah.


" Maaf! Kata tuan Wardha, mau bawa Non Sarwenda ke rumah sakit. Jadi... " kata Rosiana.


" Sudah cukup! Aku baik- baik saja!" kata Sarwenda lalu dengan kasar menutup pintu kamarnya dan kembali berjalan mendekati suaminya.


" Siapa sayang?" tanya Wardha.


" Bukankah kamu dengar? Wanita kampung itu! Si Rosiana!" jawab Sarwenda yang masih jengkel.


" Sudahlah jangan marah- marah dong sayang!" kata Wardha sambil meraih tubuh Sarwenda.


*******


" Pelan- pelan mas! Rasanya sakit dan nyeri!" keluh Sarwenda.


Wardha hanya tersenyum nakal sambil berjuang untuk mencapai kenikmatan itu.

__ADS_1


🤣🤣🤣🤣🤣😍🥰🥰🥰


(Kira- kira Sarwenda sakit apa yah? Ingin tahu kelanjutan nya? Jangan lupa like dan komentar yah. Bantu merekomendasikan cerita ini, jika memang layak untuk populer.. Semoga, ke depan nya ketrampilan menulis dan berimajinasi ini semakin lebih baik lagi. Jangan lupa jaga kesehatan, jaga imun dan iman. I Love you all. 😘🥰😍


__ADS_2