Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SARWENDA LULUH


__ADS_3

Kembali merenungi segala yang terjadi. Kembali menengok ke belakang melihat peristiwa lampau. Membuka lembaran usang yang sudah tertutup lama. Disini menunggu dan menanti keputusan yang akan kamu ambil. Di sudahi atau dilanjutkan kembali cerita yang penuh intrik dan drama sedih, bahagia.



Aku dan kamu pasti sudah saling mengakui. Kamu selalu melengkapi segala kurang ku. Demikian juga aku, aku datang sebagai energi dan semangat ketika kakimu melangkah. Tidak aku ikat dan bebankan langkahmu dalam mengembangkan potensi mu sebagai pria sejati.Ketika sukses ada digenggaman mu.


*******


Wardhana masih banyak diam di rumah mewah milik Sarwenda itu. Tatapan nya kosong menatap langit-langit ruang tengah itu. Menantikan keputusan apa yang akan diambil oleh Sarwenda terhadap dirinya. Wardhana terkejut ketika Sarwenda tiba-tiba datang dan duduk di dekat Wardhana. Wardhana menatap Sarwenda dengan mata yang teduh. Dirinya tidak mampu melawan akan tatapan tajam milik Sarwenda terhadap dirinya. Bagi Sarwenda, mungkin melihat Wardhana begitu jijik atau bahkan membencinya.


" Aku sudah memutuskan, mas!" kata Sarwenda mengawali percakapan itu. Wardhana melongo menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Sarwenda untuk nya.


" Baiklah! Aku akan memaafkan kamu!" Sarwenda meneruskan lagi kalimat nya. Kembali Wardhana masih melongo menanti inti dari kalimat yang akan keluar dari bibir Sarwenda. Keputusan apa yang akan Sarwenda ambil untuk dirinya.

__ADS_1


" Namun aku akan tetap menggugat cerai dengan mu." ucap Sarwenda akhirnya. Hal ini membuat Wardhana menarik nafasnya pelan dan membuangnya dengan kasar.


" Aku tidak meminta semua harta yang sudah aku berikan dan serahkan atas nama kamu. Silahkan ambil harta yang kamu inginkan dariku." kata Sarwenda dengan tegas.


" Aku tidak akan membuatmu susah akan gugatan cerai ini. Dan aku tidak menghendaki harta gono- gini ini." ucap Sarwenda yang membuat pilu Wardhana.


" Tidak! Jika aku menerima gugatan cerai darimu, aku tidak akan membawa harta dan aset- aset yang telah kamu berikan kepada ku. Jangan khawatir, aku akan mengembalikan semuanya kepadamu, Sarwenda." kata Wardhana dengan suara bergetar.


Sarwenda sejenak terdiam. Hatinya sungguh sakit dengan perceraian ini. Sebenarnya hati kecilnya tidak menghendaki perpisahan itu terjadi. Namun dirinya sudah terlanjur kecewa dengan Wardhana. Sarwenda memberikan pilihan kepada Wardhana supaya menceraikan Rosiana namun, Wardhana tidak bisa melakukan itu semua. Sedangkan Sarwenda pun tidak ingin memiliki madu dan harus berbagi suami dengan Rosiana. Ini akan sangat menguras emosinya yang memiliki ego yang tinggi untuk sepenuhnya memiliki Wardhana tanpa berbagi- bagi dengan yang lain.


" Aku sungguh mencintai kamu dan Rosiana, sayang! Aku sudah tidak bisa memilih diantara kalian berdua. Sungguh, ini tidak akan sanggup jika aku meninggalkan salah satu diantara kalian." kata Wardhana.


" Nyatanya kamu dengan sangat tenang ketika mendengar perceraian ini, Mas." sahut Sarwenda.

__ADS_1


"Bukankah kamu yang menggugat perceraian itu, sayang! Aku tidak! Sebenarnya aku tidak ingin terjadi perceraian ini. Asal kamu tahu. Ini sungguh menyakitkan bagi aku. Kamu minta perpisahan ini setelah sekian lama kita hidup bersama." ucap Wardhana.


" Apakah kamu juga tidak memahami perasaan aku, ketika aku mengetahui pengkhianatan yang kamu lakukan terhadap aku. Menikah dengan Rosiana secara diam-diam. Kalian menjalin hubungan asmara diam-diam di atas penderitaan aku." ucap Sarwenda dengan suara gemetar menahan sesak tangis di hatinya.


Wardhana dengan nekat meraih tubuh Sarwenda lalu memeluknya penuh kelembutan dan permohonan maaf.


" Aku minta maaf sayang! Aku mohon, jangan biarkan hubungan kita kandas. Aku tidak ingin berpisah dengan kamu, Sarwenda sayang! Aku mohon! Maaf kan aku." ucap Wardhana dengan pelan.


"Jika aku memaafkan kamu, lalu apakah aku akan sanggup jika harus berbagi suami dengan Rosiana?" tanya Sarwenda masih dalam kebimbangan nya.


" Berikanlah aku kesempatan Sarwenda, sayang! Aku masih ingin bersama kamu, sayang! Aku tidak ingin bercerai dengan kamu, sayang!" kata Wardhana berusaha meluluhkan hati Sarwenda.


" Kamu egois! Kamu egois mas!" sahut Sarwenda sambil. memukul- mukul dada milik Wardhana.

__ADS_1


" Sayang! Maaf! Karena aku mencintaimu dan mencintai nya." ucap Wardhana sambil mengusap kembali pucuk kepala milik Sarwenda.


__ADS_2