Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
NIGA


__ADS_3

Mata terkadang salah dalam melihat dan mulut terkadang tidak terkontrol menghujat. Hati yang selalu bermain dengan perasaan. Perasaan yang terkadang sulit untuk di kendalikan. Rasa benci dan suka masih selalu hinggap karena rindu dendam. Bermain-main dalam rasa yang salah. Bermain api yang bisa mengarah ke hal yang zina. Iya karena hati itu sudah ada yang menjaga karena dia bukanlah miliknya. Sudah ada si pemilik hati yang menjaga tetapi masih sanggup bermain rasa dengan yang lainnya. Ada hati yang tersakiti oleh semua itu tetapi siapa yang akan disalahkan jika cinta datang dengan tiba-tiba disaat tidak tepat. Disaat semua sudah tidak mungkin, dia datang tak mampu ter tepiskan. Lalu godaan rindu dan dendam menari- nari di mata. Apa itu semua? Kalau belum merasakan nya, mulut akan selalu menghujat. Dan mata hanya mampu memandang sinis dan sebelah mata. Jatuh cinta yang kedua kalinya ketika situasi, waktu dan status yang tidak memungkinkan. Hanya iman dan keteguhan hati yang akan mengontrol segalanya. Pola pikir yang penuh tekad dan pendirian yang kuat. Bukankah rasa itu tetap lah sama dengan rasa yang sebelumnya? Jika masih belum tercapai rasanya akan selalu penasaran. Kembalilah pada seseorang yang sudah halal di kehidupan kamu. Supaya tidak ada hati - hati yang tersakiti karena salah dalam keputusan langkah kamu. Hanya karena mengikuti hawa nafsu yang terlihat indah Dimata.


" Nah ini rumah aku, Niga!" kata Surya yang datang bersama Niga setelah masing-masing keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah.


" Oh lumayan juga selera kamu, Surya!" sahut Niga sambil duduk di sofa ruang tamu.


" Ini karena kemauan istri aku. Dia dari dulu suka dan memimpikan rumah kayu seperti ini." kata Surya sambil ikut duduk di sofa.


Mbak Ita dengan berjalan cepat menghampiri Surya di ruang tamu.


" Mas Surya mau dibikinkan minim apa mas?" tanya Mbak Ita ketika sudah dekat di ruang tamu.


" Kamu mau minum apa, Niga?" tanya Surya.


" Aku mau kopi hitam saja!" jawab Niga sambil mengeluarkan bungkus rokok nya.


" Aku boleh merokok kan?" tanya Niga.


" Silahkan! Hem kopi hitam dua yang mbak Ita. Oh iya, dimana Winda, mbak?" ujar Surya sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya.


" Di belakang Mas, di ruang makan bersama Mbak Galuh." jawab Mbak Ita lalu berjalan menuju ke belakang untuk membuatkan dua cangkir kopi sesuai permintaan Surya dan Niga.


"Galuh?" batin Niga lalu menyalakan rokoknya.


" Niga! Aku ke belakang dulu yah." kata Surya seraya berjalan menuju tempat Winda dan Galuh sedang duduk dan makan di ruang belakang.


" Galuh? Dia sering kemari juga yah?" gumam Niga sambil tersenyum.


Rumah milik Winda memang tidak seluas rumah kediaman Pak Hartono. Tetapi taman depan dan belakang rumah tetap ada untuk bersantai- santai.


" Assalammualaikum!" sapa Surya sambil mendekati Winda dan Galuh.


Winda menjabat tangan Surya lalu mencium punggung tangan nya.


" Sudah makan mas? Ayo makan sekalian mas?" tawar Winda.

__ADS_1


" Nanti saja, mas mandi dulu!" jawab Surya.


" Bolu dari siapa?" tanya Surya sambil mengambilnya bolu kukus yang berwarna coklat itu lalu memakannya.


" Dari aku Surya! Awas sakit perut kamu loh!" sahut Galuh sewot.


" Oh makanya rasanya lain!" ujar Surya yang tidak mau kalah dengan Galuh.


" Kenapa mas? Enak kok! Tadi aku sudah habis dua potong loh mas." sahut Winda.


" Rasanya ada judes- judes nya. hehe." kata Surya asal.


" Ya sudah. Aku mandi dulu, sayang! Oh iya, Winda. Ada Niga kawan mas di ruang tamu. Tolong di sapa terlebih dahulu. Cukup di sapa saja, tidak perlu di tungguin gak papa." ucap Surya.


" Niga? Oh iya! Baik mas!" kata Winda sambil mengambil kerudungnya lalu mengenakannya.


" Eh? Galuh? Kamu mau ikut ke depan tidak?" tanya Winda sambil tersenyum.


" Tidak! Aku di sini saja. Sebentar lagi aku juga mau pulang kok." jawab Galuh sinis.


" Ya sudah! Aku menyapa Mas Niga dulu yah!" kata Winda sambil berjalan menuju ke ruang tamu.


Niga membalas jabat tangan Winda dengan senyum ramahnya.


" Eh mbak Winda!" sapa Niga basa- basi.


" Mas Surya lagi mandi, Mas! Di tunggu saja, ya Mas! Di enakkan saja!" kata Winda sambil tersenyum.


" Iya mbak!" sahut Niga.


" Kalau begitu saja tinggal dulu ya mas!" kata Winda.


" Eh mbak Winda! Maaf sebentar..hehe. Tolong sampaikan ke Galuh, saya ingin bicara." kata Niga dengan suara pelan.


" Eh?? Baik lah saya sampaikan ke Galuh dulu ya Mas!" ujar Winda sambil nyengir dan berjalan ke arah meja makan tepatnya di belakang rumah dekat dengan dapur rumah itu.

__ADS_1


" Hah?" Winda duduk sambil menarik nafasnya dalam-dalam.


" Kenapa kamu? Macam berjuta masalah hinggap ke kamu." sahut Galuh spontan.


" Tidak apa-apa. Eh Galuh, Niga berpesan. Dia ingin bicara dengan kamu tuh." kata Winda sambil memainkan matanya.


" Weh? Ogah! Aku mau pulang!" sahut Galuh akhirnya sambil mengambil tas nya.


" Hehe! Baiklah kalau begitu! Aku antar ke depan yah. Kamu bisa bilang sendiri dengan Niga mu itu. Kalau kamu hendak pulang dan tidak ada waktu untuk bicara sekarang." ucap Winda.


" Tepatnya tidak ada waktu untuk saat ini dan seterusnya. Ingat itu Nona!" ujar Galuh.


" Oke! Oke! Nge gas nya jangan sama aku dong, sayang!"ucap Winda sambil mengikuti Galuh yang mulai melangkah keluar.


Sebenarnya hati kecil Galuh tidak karuan. Dan jantungnya berdebar hebat. Betapa tidak? Galuh memang tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau masih menyukai Niga. Bahkan rasa itu sulit ditepis kan. Rindu itu masih sangat bergejolak. Galuh saat ini berusaha menjauh dari Niga dan belajar membuka hatinya kepada Andrie yang notabene berstatus single sama dengan Galuh.


" Mas! Aku pulang dulu!" sapa Galuh yang melewati ruang tamu ketika hendak keluar dari rumah milik Winda.


" Eh?" kata Niga seraya berdiri dan menjabat tangan milik Galuh dengan erat.


Winda yang tidak enak di situasi tersebut berjalan duluan keluar rumahnya dan menjauh dari kedua orang itu yang sama- sama memendam rasa rindu yang bergejolak.


" Galuh! Aku ingin menjelaskan semuanya. Beri sedikit waktu sebentar saja. Tolong!" kata Niga dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.


" Hem tidak perlu dijelaskan lagi lah, mas! Kamu fokus saja dengan keluarga kamu. Aku bisa berdiri tanpa kamu kok!" kata Galuh dengan kata-kata yang dibikin tegas dan kuat. Padahal hati nya juga menghendaki perjumpaan yang tidak disengaja itu. ( Analisa Author haha).


" Galuh! Sebelum ada dan hadirnya kamu dalam kehidupan ku. Aku dan istri ku pun sudah bermasalah. Jadi bukan kamu alasan satu- satu nya untuk perceraian kami. Jadi tolong dengarkan penjelasan aku. Aku akan mengungkapkan semua permasalahan pribadi ku yang belum pernah aku ceritakan pada kamu." ucap Niga serius dan penuh permohonan.


" Aku rasa sudah tidak penting lagi, Mas. Aku pun tidak perlu dan menginginkan penjelasan dari kamu. Baiklah! Aku harus cepat pulang." kata Galuh sambil mencoba meninggalkan ruang tamu itu dan keluar dari rumah Winda. Akan tetapi Niga dengan cepat menahan lengan Galuh.


" Mas? Tolong! Lepaskan! Aku harus pulang!" kata Galuh tegas.


" Galuh?" panggil Niga pelan akhirnya tidak kuasa memaksa Galuh yang ingin pulang.


" Mungkin sekarang belum waktunya." pikir Niga sambil menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar sambil melihat punggung Galuh yang pergi meninggalkan nya.

__ADS_1


" Hai bro! Kenapa?" kata Surya yang tiba-tiba datang dan duduk di ruang tamu itu.


" Tidak apa-apa!" jawab Niga sambil menyalakan rokoknya.


__ADS_2