Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADUKU 2 (EPISODE 17)


__ADS_3

Winda dan Haidar kini sudah menjadi pasangan yang halal. Pernikahannya mereka sudah terlaksana dengan meriahnya. Winda dan Haidar sudah sah menjadi suami istri. Walaupun usianya lebih tua Winda beberapa tahun namun Haidar bisa menjadi sosok laki-laki yang dewasa dan bisa menjadi figur pemimpin bagi rumah tangga itu.


Saat ini mereka sudah tinggal di rumah Haidar. Tepat nya rumah Haidar yang baru namun sudah sekian lama belum ditempati oleh Haidar karena selama ini Haidar masih tinggal bersama ayah dan bundanya. Terkadang kedua nya ke rumah Winda pemberian dari almarhum suaminya, Surya. Rumah peninggalan, almarhum Surya itu saat ini, tinggal Wisnu dan dua pekerjanya yaitu asisten rumah tangga dan penjaga rumahnya yang merangkap sebagai tukang kebun.


Tetap dengan hobinya, Winda memberikan polesan di rumah baru itu dengan kegemarannya mengkoleksi tanaman anggrek nya. Semua jenis anggrek sudah ada di rumah baru itu. Haidar yang juga terpengaruh akan kegemaran Winda yang menyukai tanaman hias itupun ikut mendukung dan merawat tanaman itu.


Seperti saat ini mereka berdua sedang duduk di taman anggrek yang mini itu. Sambil berbincang-bincang ringan, mereka juga ngobrol tentang rencana masa depan. Di rumah samping yang dibuat taman kecil dan dipenuhi bunga- bunga anggrek yang berwarna- warni dengan jenis anggrek yang berbeda jenis, Winda dan Haidar duduk di bangku panjang.


" Rasanya tidak sabar ingin memiliki anak dari kamu, yank! Memiliki anak, buah dari cinta kita ini. Boleh dua, tiga, empat atau lima." ucap Haidar lalu meletakkan kepalanya ke atas paha Winda. Winda mengusap pucuk kepala Haidar dengan lembut.


" Andaikan saja, Anak-anak itu bisa kita beli ke mall. Aku akan membelinya sepuluh untuk kamu, mas!"sahut Winda. Haidar terkekeh mendengar ucapan dari Winda , istrinya itu.


" Hahaha, kamu terus begitu sih yank?" kata Haidar sambil meraih pergelangan istrinya dan di pautkan ke tangannya.

__ADS_1


" Usia aku sudah berkepala empat, loh mas! Dikasih satu anak dari sang Pencipta saja, sudah sangat bersyukur sekali. Ini kamu bilang ingin punya anak banyak dua, tiga, empat, lima." ucap Winda dengan bibir manyun ke depan.


" Iya, kita berdoa saja, semoga Sang Pencipta akan memberikan kepercayaan itu kepada kita. Kita tetap berusaha." sahut Haidar lalu duduk membenarkan posisi nya.


" Aku boleh kan mas, ke dokter spesialis untuk program anak? Aku juga sangat ingin memiliki anak dari kamu, mas!" kata Winda penuh semangat.


" Tentu saja! Aku sangat mendukung, yank!" sahut Haidar.


" Siapa takut? Nanti aku juga ikut deh! Kita pastikan benih dariku memang tidak ada masalah." ucap Haidar ikut merespon niat Winda untuk ikut program punya anak.


" Terimakasih, mas!" sahut Winda dengan mata berbinar.


" Ucapan terimakasih nya dalam bentuk lain saja, yank! Yuk!" kata Haidar dengan memainkan matanya genit seperti memberikan kode untuk ke kamar.

__ADS_1


" Sekarang?" tanya Winda malu- malu.


" Iya! Yuk, sayang!" ajak Haidar lagi.


" Nanti saat fajar saja!" tawar Winda.


" Sekarang iya, fajar juga lagi, yank!" nego Haidar sambil menarik tangan Winda lalu membimbing nya masuk ke dalam kamar.


" Tapi, mas! Aku merasa lapar! Pingin sate kacang." ucap Winda seolah ingin beralasan.


" Nanti saja, setelah ritual bikin adiknya Wisnu dulu, baru kita keluar mencari makan." kata Haidar lalu dengan sabar malah mengangkat tubuh Winda menuju peraduan. Mereka berharap benih kali ini bisa membuahkan hasil.


Membuat adik Wisnu?? Hahaha... Yuk kita intip yuk! ☺😊🀭🀭

__ADS_1


__ADS_2