Satu Atap Dengan Maduku

Satu Atap Dengan Maduku
SATU ATAP DENGAN MADU KU 2 (EPISODE 24)


__ADS_3

Kebohongan Jelita yang sudah diketahui oleh Hendra membuat rumah tangganya saat ini mulai memanas. Pasalnya kemarin ketika Jelita kembali pulang ke rumah itu, Hendra sudah memasang wajah yang garang. Emosinya sudah meluap- lupa dan akhirnya pertengkaran hebat terjadilah antara suami isteri tersebut.


Hendra yang hampir tidak pernah marah selama menikahi Jelita kini melampiaskan kekesalan nya. Percekcokan itu terjadi, apalagi Jelita selalu saja tidak mau mengalah dan selalu membantah apa yang dikatakan oleh Hendra terhadap dirinya. Sebagai seorang laki-laki atau suami, Hendra seperti diinjak-injak oleh seorang wanita dan wanita itu adalah istrinya sendiri.


Pertikaian Hendra dan Jelita tidak dapat dihindari ketika itu. Jelita tetap ingin menang sendiri dan tidak mau disalahkan. Jelita dengan alasan pergi atau pulang ke rumah orang tuanya, tidak dipercaya begitu saja oleh Hendra. Satu-satunya yang menyebabkan Hendra tidak mempercayai Jelita adalah kenapa harus berbohong mengatakan sedang di rumah jika kali ini Jelita beralasan pulang ke rumah orang tuanya selama dua hari. Tidak masuk akal, pikir Hendra.


Karena Jelita selalu berucap ketika Hendra sedang marah, akhirnya tamparan itu terjadilah sudah. Hendra menampar pipi putih nan mulus milik Jelita. Akhirnya dengan itulah, Jelita semakin membangkang dan minggat dari rumah itu. Hendra yang mengetahui itu, tidak menghentikan langkah Jelita yang hendak pergi meninggalkan rumah Hendra ketika malam sudah semakin larut. Jelita tetap nekat meninggalkan rumah Hendra dengan kemarahan dan kekesalannya.


Betapa hancur Hendra dengan keadaan saat ini. Sebagai seorang suami, dirinya telah gagal mendidik istrinya. Jelita selalu melawan dan bahkan kini meninggalkan dirinya. Hendra berpikir, Jelita tidak akan berani kembali pulang ke orang tuanya karena Jelita lah yang salah. Entah pergi kemana istrinya itu, meninggalkan rumahnya di malam yang sudah semakin larut. Namun Jelita bukan wanita bodoh yang pergi tanpa uang dan harta. Tentu saja Jelita pergi membawa mobil dan mobil itu pun adalah hadiah ulangtahun pemberian suaminya. Tabungannya Jelita dari suaminya pun tidak sedikit.


******


Saat ini Hendra begitu kacau. Dirinya masih duduk di depan teras rumahnya sambil menghisap rokok nya. Sudah berapa cangkir gelas kopi yang telah habis diminumnya. Hendra memang bukan laki-laki yang ketika dalam masalah lari ke minuman keras atau minuman beralkohol. Hendra seorang laki-laki yang lurus- lurus saja yang hanya disibukkan oleh urusan kerja, kerja dan kerjaan saja. Terkadang waktu luangnya dia gunakan untuk berjumpa dengan sahabat- sahabat nya sekedar minum kopi atau touring dengan motor gedhe nya saja. Tidak aneh aneh jalan kehilangan Hendra.


Kali ini Hendra benar-benar kecewa hanya karena mengetahui Jelita, istrinya itu telah membohongi nya. Itu saja! Jika Jelita tipe diam ketika dimarahi oleh suaminya mungkin keadaan nya tidak seburuk sekarang. Namun Jelita adalah tipe wanita yang tidak ingin disalahkan dan terkesan menang sendiri dan suka mengatur.

__ADS_1


Hendra menatap bunga- bunga hias yang ada di depannya. Pandangan nya menerawang jauh. Kini dirinya malah membandingkan kehidupan rumah tangga sahabat nya yaitu Andrie. Menurut pandangan Hendra, rumah tangga Andrie begitu harmonis dan melihat istri Andrie yang begitu patuh dan penurut terhadap suami membuat Hendra merasa iri dan cemburu.


Begitu lah pandangan orang bukan? Rumput tetangga lebih hijau dibandingkan rumput di rumah sendiri. Orang melihat kehidupan orang lain dari luar seorang penuh kebahagiaan dan begitu manis. Karena kita tidak mengetahui di dalamnya ada permasalahan atau tidak.


" Galuh! Abang boleh main ke rumah kamu kan? Abang kangen dengan keponakan abang." kata Hendra melalui sambungan ponselnya.


" Abang ke sana yah! Ada Niga di rumah kan?" ucap Hendra lagi.


" Oke! Abang otw yah!" kata Hendra akhirnya lalu masuk ke rumah mengambil kunci mobilnya dan jaketnya.


Di lain tempat, Jelita kini menginap di sebuah penginapan yang terletak di pinggiran kota. Jelita pun saat ini sedang uring-uringan menanti kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau tidak Andrie. Dia butuh kawan. Dirinya tidak ingin bersedih. Baginya dunianya harus ia nikmati. Berkali-kali Jelita menghubungi Andrie namun belum juga diangkat oleh Andrie.


" Ayolah Andrie, kamu lagi ngapain sih? Diangkat dong!" ucap Jelita sambil mondar-mandir seperti setrikaan.


" Ada apa yank?" ucap Andrie di seberang sana melalui ponselnya.

__ADS_1


" Andrie aku di penginapan B, kamu segera lah kemari." kata Jelita.


" Andrie aku berantem dengan Hendra! Aku minggat dari rumah. Kamu cepat lah kemari temui aku. Aku gak mau sendiri." rengek Jelita melalui ponselnya.


" Hah? Gila kamu! Ada apa kalian sampai berantem? Ini pakai acara minggat segala." sahut Andrie.


" Nanti aku ceritakan! Kamu cepetan kemari!" kata Jelita dengan manja.


" Iya, iya! Aku akan ke sana." ucap Andrie.


" Pipi ku juga sakit ini, kena tampar Hendra." Jelita mengadu.


" Apa? Apa masalah nya kenapa sampai Hendra menampar kamu, yank?" Andrie jadi semakin panik.


" Cepetan kemari! Aku gak mau jika lama menunggu kamu." rengek Jelita.

__ADS_1


" Oke! Ini aku segera berangkat." sahut Andrie.


__ADS_2