
Di tariknya tangan lembut milik Winda sampai ke kamar yang selalu di tempati Hendra jika berada di rumah Itu. Hendra memang sudah mempersiapkan rumah tinggal yang akan di tempati oleh dirinya nanti ketika sudah menikah dan tentunya bersama anak- anak serta istrinya kelak.
Di dudukan Winda di kursi sofa panjang di kamar itu. Mereka saling berhadapan. Mata Hendra menatap tajam ke arah Winda. Winda yang seperti menjadi terdakwa itu pun, akhirnya tidak sanggup menatap balik tatapan penuh intimidasi Hendra. Kepala itu akhirnya menunduk. Akhirnya dengan pelan, di angkatlah dagu lancip milik Winda itu sampai mendongak ke atas.
" Hem queen! Jelaskan! Siapa pria itu?" tanya Hendra akhirnya masih dengan sorot mata yang mengintimidasi.
"Bukankah kemarin sudah saya jelaskan siapa pria itu, king?" jawab Winda pelan.
" Aku gak dengar! Dan aku kemarin tidak mau tahu. Jadi ceritakan, siapa dia?" sahut Hendra masih dengan intonasi yang mengintimidasi.
" Dia teman kuliah. Dia sahabat Mas Surya ketika di kampus." jelas Winda masih dengan suara yang pelan.
" Dia mantan kamu?" tanya Hendra.
" Tidak! Saya tidak pernah pacaran, selain dengan Mas Surya. Jadi tidak punya mantan." terang Winda.
" Berarti dulu dia menyukaimu!" sahut Hendra langsung menebaknya.
" Mana ada yang suka pada saya, selain mas Surya." kata Winda pelan.
" Ada!" sahut Hendra tegas.
" Siapa?" tanya Winda sambil memberanikan diri melihat mata bulat milik Hendra.
" Aku!" jawab Hendra singkat. Winda menjadi tersenyum.
__ADS_1
Hendra akhirnya mulai sedikit mencair. Bibir nya mulai menunjukkan senyumnya.
" Kamu terlalu polos, Winda! Jelas-jelas laki-laki itu menyukai kamu. Kamu saja yang kurang peka atau pura-pura tidak mau tahu." terang Hendra.
" Saya nyaman jika ngobrol dengannya." kata Winda jujur.
" Hah, apa?" sahut Hendra terkejut.
"Herika sahabat Mas Surya, king! Saya kalau cerita dengan nya jadi nyambung." tambah Winda.
" Lalu? Kamu kalau cerita dengan aku, aku tidak bisa nyambung dan kamu tidak nyaman jika dengan aku?" sahut Hendra sambil membulat bola matanya.
" Eh hem engga begitu maksud saya, king. My king.. jangan marah dan melotot gitu dong. Aku takut!" kata Winda dengan suara pelan. Sikap itulah yang menjadikan Winda berubah menjadi imut di mata Hendra.
Hendra lalu tiba-tiba menjadi terkekeh melihat ekspresi yang muncul dari Winda.
" Jadi laki-laki itu bernama Herika?" tanya Hendra lalu mendapat anggukan saja dari Winda.
" Baiklah, ayo kita jumpai Herika mu itu." ajak Winda.
" Untuk apa?" tanya Winda khawatir.
" Untuk apa? Tentu saja aku ingin kenalan dong! " jawab Hendra.
" Beneran? Nanti abang marah- marah dengan nya?" kata Winda masih dengan sikap imut nya.
__ADS_1
" Tidak! Ayo kita keluar!" ajak Hendra sambil menggandeng tangan Winda keluar dari kamarnya.
Ketika mereka keluar dari kamar itu, Yuslita melihat nya dengan tatapan yang kurang suka. Namun, Hendra tidak mempedulikan itu semua dan tetap mengajak Winda keluar menuju taman depan rumah.
" Di mana kawan kamu itu, queen?" tanya Hendra sambil mencari- cari sosok laki-laki yang di maksud.
" Herika yah?" tanya Winda lagi.
" Iya laki-laki itu! Herika atau Ika atau Rika, pria yang datang bersama kamu tadi." jawab Hendra.
" Tadi sih duduk di sini." sahut pelan Winda sambil mendudukkan pantatnya di kursi taman itu.
" My king, tidak bisa kah kalau tidak marah- marah lagi?" kata Winda mulai lembut.
Hendra akhirnya ikut duduk di samping Winda dan mulai memberi senyum tipis nya kepada Winda.
" Saya takut, kalau abang cemburu gitu. Gak enak banget." kata Winda jujur.
" Semua lantaran salah kamu, queen!" sahut Hendra.
" Kenapa?" tanya Winda.
" Kamu terlalu cantik dan baik pada siapa pun. Lain kali, jangan dekat- dekat pada pria mana pun selain aku." kata Hendra akhirnya.
Winda hanya mengerutkan dahinya sambil tersenyum manis.
__ADS_1
" Terlalu protektif sekali!" batin Winda.